AMP
KitaBersedekah
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

What Happened During: Taruna Poltek Malahayati Tewas Korban Ledakan Mesin Kapal ASDP Jadi 3 Orang

Published Juli 2, 2026 · Updated Juli 2, 2026 · By Aisyah Hidayat

Taruna Poltek Malahayati Tewas Akibat Ledakan Mesin Kapal ASDP

What Happened During - Korban kecelakaan ledakan mesin kapal ASDP KMP Aceh Hebat 2, yang terjadi saat praktik pengoperasian perahu di Poltek Malahayati, kini telah mencapai tiga orang. Insiden mematikan ini menambah daftar para taruna yang hilang nyawa, setelah sebelumnya dua korban meninggal dunia akibat luka bakar parah. Menurut laporan terkini, Mahasiswa Universitas Pelayaran Malahayati dengan nama Muhammad Zulfikar akhirnya dinyatakan meninggal setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh selama lebih dari tiga minggu. Jenazahnya kemudian dipulangkan ke keluarga di Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh, untuk dibawa kembali ke tempat tinggalnya.

Kronologis Ledakan dan Jumlah Korban

Kecelakaan terjadi pada Jumat (12/6) saat kapal ASDP KMP Aceh Hebat 2 bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Pada saat itu, para taruna sedang menjalani praktik di kamar mesin kapal, yang merupakan bagian dari program pelatihan mereka. Ledakan yang menggelegar menewaskan total 15 orang, terdiri dari 14 taruna dari Poltek Malahayati dan satu anak buah kapal (ABK). Menurut sumber, sekitar 10 hingga 12 korban terluka parah dan dilarikan ke rumah sakit segera setelah kejadian.

“Kami sedang melakukan inspeksi terhadap mesin kapal setelah adanya kecelakaan. Sebanyak 15 orang menjadi korban, dengan 14 dari mereka berasal dari Poltekpel Malahayati,” ujar sumber dari Dinas Perhubungan Aceh.

Korban pertama yang dinyatakan meninggal adalah Fahri Herdi Eko dan Muhammad Bilal Ramzi, yang sebelumnya telah dikabarkan hilang akibat luka bakar. Keduanya sempat dirawat di rumah sakit sebelum akhirnya dipulangkan ke keluarga. Adapun Muhammad Zulfikar, yang merupakan mahasiswa keempat dari Poltek Malahayati, baru dinyatakan wafat setelah mengalami kondisi kritis selama lebih dari tiga pekan. Penyebab kematian korban tersebut disinyalir berhubungan dengan efek ledakan yang mengenai area kamar mesin.

Detail Operasional Kapal dan Kontrak Sewa

KMP Aceh Hebat 2 adalah kapal feri yang beroperasi di lintasan Ulee Lheue–Balohan. Kapal ini dikelola oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Banda Aceh melalui mekanisme sewa. Pemerintah Aceh telah menandatangani perjanjian sewa dengan ASDP sejak 2022, yang berlaku hingga 2027. Dalam kontrak ini, ASDP bertugas mengelola operasional kapal selama lima tahun, dengan nilai sewa mencapai 9,3 miliar rupiah.

“Perjanjian sewa ini merupakan bentuk kerja sama antara pemerintah Aceh dan ASDP untuk memastikan layanan transportasi laut berjalan efisien,” tulis Antara dalam laporan terkait kontrak tersebut.

Pelaksanaan operasional kapal ASDP Hebat 2 diduga terkait kecelakaan teknis yang terjadi pada Jumat lalu. Menurut informasi, kapal ini sebelumnya telah menjalani pemeriksaan rutin, namun tidak ada tanda-tanda kecacatan serius sebelum kejadian. Pihak penyewa mengklaim semua prosedur sudah dilakukan dengan benar. Meski demikian, ledakan mesin yang tidak terduga menewaskan 15 orang, termasuk para taruna yang sedang mengikuti pelatihan teknis.

Respons dari Pihak Terkait dan Dampak Insiden

Setelah kejadian, pihak ASDP segera melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab ledakan. Tim penyelidik mendapati bahwa kecelakaan terjadi akibat kebocoran bahan bakar yang menyebabkan api merambat ke area kamar mesin. Tidak hanya korban jiwa, insiden ini juga menimbulkan kekacauan di Pelabuhan Ulee Lheue, yang menjadi tempat berlabuh kapal. Seluruh operasional feri sempat terganggu, dengan beberapa perahu dihentikan sementara untuk pemeriksaan.

Korban yang meninggal termasuk para mahasiswa yang sedang menjalani program pembelajaran di kampus Poltek Malahayati. Mereka diterjunkan ke kapal untuk menguji kemampuan mereka dalam memperbaiki mesin dan mengoperasikan perahu. Insiden ini menggugah perhatian masyarakat terhadap keselamatan dalam pelatihan praktis di sektor pelayaran. Banyak pihak mempertanyakan apakah prosedur pelatihan sudah memadai atau ada kekurangan dalam pengawasan.

Di sisi lain, pihak ASDP mengungkapkan bahwa kecelakaan ini merupakan insiden pertama dalam beberapa bulan. Mereka menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap sistem operasional kapal, termasuk pemantauan kinerja para taruna yang bertugas di kamar mesin. Sementara itu, Pemerintah Aceh sedang mempertimbangkan tindakan hukum terhadap ASDP, terutama dalam upaya menjamin keselamatan para pelaut dan mahasiswa yang terlibat dalam pelatihan.

Kondisi Korban dan Penyelidikan Lanjutan

Korban yang masih dirawat di RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh mengalami luka bakar berat serta cedera serius akibat tekanan ledakan. Beberapa di antaranya dinyatakan dalam kondisi kritis, namun belum meninggal. Para korban yang selamat menjalani pemulihan di rumah sakit selama beberapa hari. Pihak rumah sakit menyatakan bahwa kondisi mereka mulai membaik, meski masih membutuhkan perawatan intensif.

Penyelidikan terhadap penyebab ledakan masih berlangsung. Tim teknis dari ASDP dan pihak kampus Poltek Malahayati bekerja sama untuk mengecek komponen mesin kapal. Dari hasil awal penyelidikan, tidak ditemukan kerusakan pada bagian-bagian utama mesin, yang mengindikasikan ledakan mungkin disebabkan oleh faktor lain seperti kelebihan bahan bakar atau konsentrasi yang kurang pada saat praktik. Para saksi di lokasi kejadian menyebutkan bahwa suara ledakan terdengar sangat keras, hampir seperti bom, yang membuat para taruna terkejut.

Keluarga korban meninggal telah menyampaikan dukungan terhadap pihak penyewa kapal, namun meminta penjelasan lebih lanjut terkait keselamatan pelatihan. Pemimpin program pelatihan Poltek Malahayati menyatakan bahwa seluruh