Aceh, Harapan yang Tak Pernah Pupus (3 – Tamat)

Jakarta – Umat Muslim di seluruh dunia memandang Hari Raya Idul Fitri sebagai momen berharga setelah menyelesaikan sebulan ibadah puasa. Tim Bangkit Sumatera ANTARA turut mengabadikan suasana lebaran di wilayah Aceh yang terkena bencana, tepatnya di Maret 2026. Dalam rangkaian perjalanan ketiga mereka, tim ini berangkat dari ibu kota pada 15 Maret, lima hari sebelum hari raya. Tiba di Bandara Kualanamu, Medan, malam hari itu, keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan menuju satu institusi kesehatan di Aceh Tamiang, yakni RSUD Muda Sedia. Nama rumah sakit ini sempat menjadi topik perbincangan di media sosial setelah bencana melanda.

Empat bulan setelah kejadian, lokasi tersebut telah mengalami perubahan. Meski proses pemulihan belum lengkap, kehidupan di sana kini mulai pulih. Lumpur telah dibersihkan, operasional rumah sakit kembali normal, dan sebagian bangunan sudah diperbaiki serta dicat ulang. Tanda-tanda kebangkitan dari keterpurukan terlihat jelas. Dengan semangat, tim langsung melaksanakan tugas. Mereka merekam gambar, melakukan wawancara, dan mencatat kisah-kisah dari warga setempat.

Perjalanan terus berlanjut. Saat menembus ke dalam Aceh, tim sampai ke Desa Sekumur, Sekerak, Aceh Tamiang. Keadaan di sana mengejutkan. Kerusakan yang terlihat di jalan raya masih terbilang ringan dibandingkan kondisi desa yang cukup jauh dari kota. Untuk mencapainya, mereka harus menyeberangi Sungai Tamiang menggunakan rakit sederhana. Rakit ini menjadi sarana utama transportasi bagi warga setelah bencana.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Ketika tiba di desa, mereka terkejut melihat jumlah kayu yang tersapu banjir mengendap di sepanjang jalan. Salah satu anggota tim, Bang Aloy, seorang lelaki dari daerah Timur dengan postur tubuh tinggi, membandingkan ukuran kayu dengan tubuhnya. Hasilnya, bahkan kayu yang ditemukan tidak cukup panjang untuk dijangkau dengan pelukan. Di sepanjang jalur, semua yang terlihat adalah batang pohon yang belum sempurna dibersihkan.

Dalam perjalanan, mereka sering bertemu warga. Saat melewati satu rumah, mata terhenti oleh sampan kayu besar yang masih dalam proses pembuatan. Sampan itu dibuat oleh seorang lelaki tua bernama Mukhtar Sulaiman, berusia 65 tahun. Ia mewarisi keahlian membuat sampan dari sang ayah. Kayu yang digunakan berasal dari limbah banjir, dengan panjang sekitar 10 meter dan diameter lebih dari satu meter.

“Ini saya gunakan sebagai sedekah untuk masyarakat ini, karena mereka cukup banyak membantu kami dari luar. Mengapa kita tidak bisa?”