BAN tekankan kejujuran dalam proses akreditasi satuan pendidikan
Palu, Sulawesi Tengah
Di Palu, Jumat, Anggota Badan Akreditasi Nasional (BAN) Sulawesi Tengah (Sulteng), Chadija Alhasni, menekankan pentingnya kerja sama serta integritas dalam menghadapi proses akreditasi. Menurutnya, sekolah dianjurkan untuk menyampaikan kondisi sesungguhnya tanpa rasa takut. “Sekolah berhak menjelaskan segala sesuatu dengan jujur. Tidak perlu khawatir dihukum,” kata Chadija. Ia menyampaikan pesan tersebut dalam acara sosialisasi persiapan akreditasi untuk satuan pendidikan Alkhairaat se-Sulawesi Tengah.
Chadija juga menyoroti perubahan pola akreditasi yang kini lebih mengutamakan kolaborasi. Asesor kini berperan sebagai mitra, bukan sekadar pihak yang mengawasi. “Mereka hadir untuk bekerja sama dalam menyampaikan hasil evaluasi kepada pemerintah,” ujarnya. Menurutnya, sistem ini memberikan ruang bagi sekolah untuk menunjukkan keunggulan dan proses pembelajaran mereka secara transparan.
“Sekarang bukan hanya dokumen, tetapi juga bagaimana sekolah menjelaskan siapa mereka, apa keunggulan mereka, dan bagaimana proses yang mereka lakukan. Ini dinilai sejak tahap pravisitasi hingga visitasi,” tambah Chadija.
Perubahan Standar Akreditasi
Menurut Chadija, sistem akreditasi terbaru mengalami penyederhanaan dari delapan standar menjadi tiga komponen utama. Tiga aspek ini meliputi kinerja pendidik dalam pembelajaran, kepemimpinan kepala sekolah, serta lingkungan belajar. “Pemahaman tentang standar tetap diperlukan, meski struktur penilaian berbeda,” jelasnya.
Dalam proses penilaian, asesor menggunakan Sistem Penilaian Akreditasi (Sispena) yang mencakup input data, verifikasi dokumen, wawancara, dan observasi langsung. Chadija meminta sekolah memastikan semua informasi yang diberikan dapat dibuktikan saat kunjungan dilakukan. “Jangan sampai apa yang ditulis tidak sesuai dengan kondisi di lapangan,” tegasnya.
Etika dan Keterbukaan
Selain itu, Chadija mengingatkan bahwa asesor terikat kode etik yang melarang intervensi khusus selama akreditasi. Ia menekankan perlunya keterbukaan dan kejujuran pihak sekolah dalam menyampaikan fakta. “Keberhasilan akreditasi bergantung pada keandalan data yang diinput,” katanya.
Chadija menyatakan bahwa dengan pendekatan baru, sekolah diharapkan mampu menampilkan kondisi terbaiknya. Hal ini memastikan proses evaluasi lebih objektif dan terukur. Sosialisasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman para peserta tentang persiapan yang diperlukan sebelum proses akreditasi resmi dimulai.

