Rusia Peringatkan AS dan Israel: Serangan ke Iran Bisa Jadi Bumerang!
Rusia memberi peringatan kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel bahwa serangan militer terhadap Iran mungkin menjadi bumerang serta memicu ketegangan di wilayah Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyatakan langkah militer tersebut berpotensi menghasilkan efek tidak terduga, termasuk mendorong Iran untuk melanjutkan program nuklirnya.
Presiden Vladimir Putin menekankan perlunya menghentikan eskalasi konflik segera, dengan mengimbau para pemimpin Arab Teluk untuk terlibat dalam pembicaraan guna meredakan ketegangan. Menurut Putin, pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dianggap sebagai tindakan sinis yang dapat memperparah situasi.
Operasi militer yang dimulai pada Sabtu (28/2/2026) melaporkan kehilangan puluhan pejabat Iran. Tindakan ini memicu respons dari Iran berupa serangan terhadap negara-negara Arab yang menjadi pangkalan militer AS, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Arab Saudi. Lavrov menegaskan bahwa serangan militer bisa memperkuat kekuatan lokal yang menuntut pengembangan senjata nuklir.
“Kekuatan baru mungkin muncul di Iran, yang akan mendukung upaya persis apa yang ingin dihindari Amerika, yaitu memiliki bom nuklir. Karena AS tidak menyerang negara-negara yang sudah memiliki senjata nuklir,” kata Lavrov, dikutip Al Jazeera, Rabu (4/3/2026).
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menegaskan bahwa hingga kini belum menemukan bukti terkoordinasi tentang program senjata nuklir Iran. Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menyatakan bahwa para inspektur hanya menemukan bukti Teheran memperkaya uranium hingga 60 persen, yang melebihi kebutuhan energi sipil.
“Para inspektur IAEA belum dapat menyimpulkan adanya niat Iran membangun bom nuklir, meski penimbunan uranium tersebut memicu pertanyaan serius,” ujar Grossi.
Rusia memiliki hubungan strategis dengan Iran dan menganggap Teheran sebagai mitra penting dalam memperkuat pengaruh Moskow di Timur Tengah. Sebelumnya, Trump menyebut ambisi nuklir Iran sebagai alasan utama serangan. Pemerintah Rusia juga menyatakan bahwa Putin telah berbicara dengan para pemimpin Arab Teluk pada Senin (2/3/2026) untuk membahas kekhawatiran yang muncul.
Peringatan Rusia muncul di tengah ketakutan global bahwa konflik antara AS, Israel, dan Iran bisa meluas. Jika tidak segera dikendalikan, krisis ini berpotensi menciptakan instabilitas jangka panjang di kawasan strategis tersebut.

