Trump “Kemakan” Omongan Netanyahu, Kini Pusing Sendiri di Perang Iran
Jakarta, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikritik karena terlihat terpengaruh oleh argumen Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu soal kemungkinan perang melawan Iran. Hal ini terjadi di tengah situasi konflik yang semakin rumit. Dalam pertemuan di Mar-a-Lago pada 29 Desember lalu, Netanyahu membawa pengaruh kuat agar Washington kembali terlibat dalam pertarungan dengan Teheran.
Mengutip analisis The Guardian, Trump mengulang klaim Israel bahwa Iran sedang membangun kekuatan militer. “Sekarang saya mendengar bahwa Iran mencoba memperkuat kekuatannya. Maka kita harus menghancurkan mereka. Tapi mudah-mudahan, itu tidak terjadi,” ujar Trump dalam konferensi pers bersama Netanyahu. Netanyahu disebut menggunakan pendekatan pribadi untuk memengaruhi keputusan Trump, termasuk memberikan penghargaan tinggi dan menawarkan proyeksi strategis: kemenangan atas Iran dapat mengurangi ketergantungan Israel terhadap bantuan militer AS.
“Sekarang saya mendengar bahwa Iran mencoba untuk membangun kembali kekuatannya. Maka kita harus menjatuhkan mereka. Kita akan menghancurkan mereka. Tapi mudah-mudahan, itu tidak terjadi,”
Upaya penguasaan ini terus berlangsung melalui komunikasi intensif berikutnya, dengan Israel berusaha memastikan keterlibatan penuh AS dalam konflik besar melawan Iran. Analisis intelijen Israel menyebutkan bahwa rezim Teheran terlihat rapuh dan bisa runtuh karena tekanan dari dalam. Namun, kondisi nyata di lapangan menunjukkan perbedaan signifikan.
Israel disebut terlalu optimistis soal durasi dan dampak perang. Pejabat Israel sebelumnya memperkirakan ancaman Iran bisa dilumpuhkan dalam beberapa hari, sementara perencana militer menyiapkan skenario konflik maksimal tiga minggu. Faktanya, perang telah memasuki bulan kedua tanpa tanda-tanda mereda. Konflik ini menyumbang bagi perluasan eskalasi regional sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, yang memicu perang di Gaza, Lebanon, hingga melibatkan Iran dan Hezbollah.
Meski sejumlah tokoh utama Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, dilaporkan tewas, strategi “decapitation” belum mampu mengubah rezim seperti yang dijanjikan Netanyahu. Justru, kekuatan Iran terkonsolidasi, terutama di bawah Garda Revolusi. Di internal AS, muncul keraguan terhadap klaim Netanyahu. Axios melaporkan seorang pejabat AS mengkritik mantan PM Israel itu, yang dijuluki “Bibi”, karena terlalu meyakinkan Trump bahwa perang akan mudah dan peluang perubahan rezim sangat besar.
Menurut mantan diplomat AS Daniel C. Kurtzer dan Aaron David Miller, Trump bukan hanya terpengaruh, melainkan menjadi “mitra yang bersedia dan penuh” dalam konflik ini. Dampak perang kini merambat ke ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz telah menimbulkan guncangan signifikan pada pasar energi dan perdagangan dunia. Para analis memperkirakan konflik ini telah menelan biaya miliaran dolar serta menekan persediaan senjata canggih AS. Konflik ini membuktikan bahwa janji Netanyahu tentang perang cepat dan mudah tidak hanya meleset, tetapi juga membawa tekanan ekonomi dan geopolitik global yang semakin dalam.

