Perang AS-Israel Vs Iran Bawa Petaka, Siap-Siap Eropa Menderita
Jakarta, CNBC Indonesia – Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi global. Efek domino dari konflik ini memberi tekanan besar terhadap Eropa, yang saat ini berusaha memperkuat persediaan gas untuk musim dingin mendatang. Ketersediaan LNG menjadi lebih terbatas, menyebabkan risiko kenaikan harga dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan energi.
Konflik Iran telah menghancurkan jalur distribusi LNG internasional. Produksi dan pengiriman gas alam cair terganggu, memaksa Eropa mengambil langkah ekstra untuk menyimpan cadangan. Stok gas di bawah tanah dan tangki di seluruh benua menjadi penyangga utama selama musim dingin, namun tahun ini persediaan diperkirakan berkurang jauh di bawah ambang normal.
“Jika gangguan terus berlangsung, stok gas Eropa bisa mencapai titik terendah dalam sejarah,” kata Erisa Pasko dari Energy Aspects.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Eropa semakin bergantung pada LNG. Sebelum perang, sumber ini hanya menyumbang 19% dari pasokan gas, namun kini diprediksi mencapai 45% atau sekitar 174 miliar meter kubik per tahun. Pada musim panas, negara-negara Eropa harus membeli 700 kargo LNG, atau 67 miliar meter kubik, untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan musim dingin. Jumlah ini meningkat 180 kargo dibandingkan tahun sebelumnya.
Keterangan Reuters, Kamis (5/3/2026), menyebutkan bahwa keberadaan LNG sangat krusial bagi Eropa. Namun, krisis terjadi ketika Qatar menutup sebagian ladang gasnya, yang menyumbang 20% dari pasokan global. Harga gas Eropa pun melonjak hampir 50% dalam seminggu terakhir. Sementara itu, kontrak LNG Asia juga mengalami kenaikan hingga 68%.
Analisis dari Kpler menunjukkan bahwa biaya tambahan 180 kargo LNG meningkat drastis. Total pengeluaran untuk musim panas kini diperkirakan mencapai US$40 miliar, naik dari US$13,6 miliar. Ketersediaan fasilitas penyimpanan gas di Eropa pada akhir Maret hanya terisi 22-27%, jauh lebih rendah dari rata-rata lima tahun terakhir yang sekitar 41%.
“Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung satu bulan, cadangan gas Eropa akan turun signifikan,” kata Ole Hvalbye dari SEB Research.
Selat Hormuz menjadi jalur energi kritis. Sekitar 120 miliar meter kubik LNG per tahun, atau 20% dari total pasokan global, melewati perairan tersebut. Dari jumlah ini, empat perlima dialirkan ke pasar Asia. Gangguan di jalur ini berdampak langsung pada keamanan energi Eropa, yang kini siap menghadapi tantangan lebih besar akibat perang yang memanas.

