Pentagon Akui Tidak Ada Bukti Iran Akan Serang AS Lebih Dulu

WASHINGTON, KOMPAS.com — Dalam pertemuan dengan Kongres pada hari Minggu (1/3/2026), Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) menyatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan Iran berencana menyerang negara-negara sekutu AS terlebih dahulu. Pernyataan ini bertolak belakang dengan argumen yang diungkapkan oleh pejabat senior pemerintahan sehari sebelumnya.

Trump Berpikir Serangan Pada Iran Bertujuan Mencegah Ancaman Nuklir

Sebelumnya, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa serangan besar-besaran terhadap Iran dilakukan karena ancaman yang mendesak terhadap pasukan AS di wilayah Timur Tengah. Menurut seorang pejabat, Trump bersikeras bahwa tindakan militer ini bertujuan untuk menghentikan kemungkinan Iran memperoleh senjata nuklir serta mengurangi ancaman terhadap AS dan sekutunya.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

“Serangan itu untuk memastikan Iran tidak bisa menyerang AS dengan rudal balistik,” ujar Trump, menurut laporan yang dikutip dari Reuters.

Sementara itu, laporan dari Pentagon menyebutkan bahwa tidak ada informasi intelijen yang mengindikasikan Iran melakukan serangan terlebih dahulu. Dua sumber yang berbicara secara anonim mengungkapkan bahwa laporan tersebut didasarkan pada analisis yang menunjukkan rudal dan pasukan proksi Iran tetap membentuk ancaman nyata, tetapi bukan sebagai tindakan awal.

Kritik dari Partai Demokrat dan Dampak Operasi Militer

Partai Demokrat menuduh Trump meluncurkan perang berdasarkan keinginannya sendiri, dengan menargetkan argumen yang dianggapnya sebagai alasan untuk memutus perundingan perdamaian. Mediator Oman menyatakan bahwa negosiasi masih menawarkan harapan.

Dalam operasi militer, militer AS mengungkapkan bahwa tiga tentara tewas dan lima lainnya menderita luka parah. Beberapa tentara juga dilaporkan mengalami cedera ringan akibat pecahan peluru dan gegar otak. Serangan besar-besaran terhadap Iran dimulai sejak Sabtu (28/2/2026), dengan kehilangan nyawa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta anggota keluarganya.

Komando Pusat AS mengklaim bahwa lebih dari 1.000 target Iran telah dihancurkan. Serangan tersebut mencakup penggunaan bomber siluman B-2 yang melemparkan bom berat 2.000 pon (900 kg) ke fasilitas rudal bawah tanah Iran.

Rezim Iran Terkena Serangan, Namun Rakyat AS Tidak Setuju

Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada hari Minggu menunjukkan bahwa 27 persen warga AS mendukung tindakan tersebut, sementara 43 persen menolak, dan 29 persen masih ragu. Dengan demikian, pertanyaan terus mengemuka tentang keabsahan perang yang dilakukan AS.