Dubai’s Status as a Global Wealth Hub Faces New Threats
Kota Dubai, yang telah menjadi pusat daya tarik investasi internasional selama dekade terakhir, kini terancam oleh ketegangan geopolitik yang memanas antara AS-Israel dan Iran. Sejumlah besar pengusaha dan investor kaya dari luar negeri terlihat mempercepat rencana kepindahan mereka, menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas kawasan. Menurut data dari Henley & Partners, jumlah penduduk kaya di Dubai telah melonjak dua kali lipat sejak 2014, mencapai lebih dari 81.000 orang. Kota tersebut juga menyimpan sekitar 237 centimillionaires dan minimal 20 miliarder.
Dalam seminggu terakhir, serangan udara dan drone Iran mengguncang sejumlah landmark penting Dubai. Hotel Fairmont The Palm, yang berlokasi di kepulauan buatan berbentuk pohon palem, menjadi korban ledakan. Serangan tersebut menyebabkan api membesarkan di hotel Burj Al Arab dan kerusakan pada bandara Dubai. Rudal yang menargetkan fasilitas militer AS dan Israel serta konsulat AS di Dubai memperparah situasi.
“Perang antara AS dan Israel terhadap Iran mengganggu ketenangan yang menjadi fondasi ekonomi Dubai,” kata Jim Krane, peneliti dari Baker Institute Universitas Rice, dalam wawancara CNBC International, Minggu (8/3/2026). “Model bisnis kota ini bergantung pada kehadiran pekerja asing yang menghadirkan keahlian, sumber daya, dan modal. Stabilitas tetap diperlukan untuk menarik investor global.”
Authorities Attempt to Calm Investors
Pemimpin Dubai dan Uni Emirat Arab (UEA) sedang berupaya meyakinkan para investor. Otoritas Manajemen Krisis UEA menyatakan situasi “terkendali” pada hari Sabtu. Sementara itu, polisi Dubai juga mengancam akan menangkap influencer media sosial yang membagikan konten yang dianggap memicu kepanikan atau bertentangan dengan pengumuman resmi.
Private Jet Demand Surges Amid Crisis
Sejak serangan udara AS dan Israel yang menargetkan Iran pada 28 Februari 2026, serta balasan dengan serangan drone dari Teheran ke pangkalan militer di Arab, permintaan pesawat pribadi mengalami lonjakan. Perusahaan penyewaan Vimana Private Jets melaporkan lebih dari 100 pertanyaan dari klien dalam satu malam, jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak pandemi.
“Jet dari Riyadh ke Eropa bisa mencapai harga US$350.000,” ujar CEO Vimana Private Jets, Ameerh Naran. “Para klien merasa perlu menghindari risiko, tapi kehidupan hampir normal. Mereka hanya merasa ada sedikit kebisingan tambahan akibat rudal, namun tetap harus bepergian.”
Exodus Mirrors Ukraine’s Scenario
Dale Buckner, CEO Global Guardian dan mantan anggota Pasukan Khusus Green Beret, menyatakan eksodus para kaya di Dubai tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Pada Selasa pagi, perusahaan tersebut menerima tujuh klien korporat, termasuk perusahaan keuangan dan konsultan besar, yang ingin mengevakuasi 1.000 hingga 3.000 karyawan. “Ini sangat mirip dengan Ukraina,” katanya. “Orang-orang menyadari bahwa Iran mampu menargetkan infrastruktur mewah seperti hotel dan bandara, dan sekarang mereka mulai mengambil langkah untuk menjaga aset mereka.”
Real Estate Market at Risk
Konflik geopolitik berpotensi menghambat pasar properti mewah Dubai, yang sempat mengalami pertumbuhan pesat lima tahun terakhir. Program Golden Visa, yang memberi izin tinggal 10 tahun bagi pembeli properti minimal US$550.000, mendorong peningkatan transaksi real estat. Namun Fitch Ratings sebelumnya memperingatkan kemungkinan koreksi harga pada 2025-2026. Analis lembaga tersebut mengatakan, keluarnya ekspatriat bisa memberatkan pasar perumahan, terutama jika ketegangan terus berlangsung.
Secara keseluruhan, banyak investor masih melihat daya tarik Dubai dalam menyimpan aset. Sistem pajak rendah, regulasi bisnis yang ramah, serta sektor keuangan yang stabil tetap menjadi alasan utama bagi kalangan kaya untuk mempertahankan kehadiran mereka di kota tersebut.

