Densus 88 Tingkatkan Pengawasan Terhadap Ancaman Terorisme

Dalam upaya memastikan keamanan pada masa Idul Fitri 1447 H, Kapolri Listyo Sigit Prabowo memberikan instruksi kepada Densus 88 Antiteror Polri untuk meningkatkan kewaspadaan secara maksimal. Ini dilakukan mengingat situasi global yang kini semakin memanas, termasuk peran aktif kelompok-kelompok teroris yang terlibat dalam konflik antarnegara.

Spesialisasi Densus 88 di Tengah Tantangan

Kombes Mayndra, juru bicara Densus 88 Polri, menjelaskan bahwa instansinya siap memperketat pengawasan terhadap potensi ancaman terorisme. “Selain melibatkan berbagai negara, konflik saat ini juga melibatkan sejumlah kelompok dan kepentingan yang berisiko memicu kekacauan,” katanya dalam wawancara dengan media, Selasa (3/3/2026).

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

“Karena itu, Densus 88 terus mengintensifkan pengawasan terhadap ancaman terorisme yang bisa mengganggu stabilitas masyarakat,” tutup Mayndra.

Operasi Penangkapan di Surabaya

Sebelumnya, Densus 88 melakukan penangkapan terhadap dua individu yang dianggap terlibat dalam perdagangan bahan peledak di Surabaya. Dalam operasi tersebut, pihak kepolisian berhasil menyita satu kilogram bubuk mesiu dari target yang ditangkap.

Rekor Zero Terrorist Attack Diperkuat

Kapolri menekankan pentingnya mempertahankan rekor tanpa aksi teror yang telah dicapai selama tiga tahun terakhir. Hal ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektoral di Auditorium Mutiara, STIK-PTIK Lemdiklat Polri, Senin (2/3/2026). Ia mengungkapkan, keberhasilan ini perlu dilanjutkan dengan langkah-langkah yang lebih ketat.

“Terkait ancaman teror, ini menjadi prioritas kita. Selama 2023 hingga 2025, kita telah mencegah terjadinya serangan teroris,” ujar Jenderal Sigit.

Dalam paparannya, Kapolri juga menyebutkan data penindakan teroris oleh Polri, termasuk 51 orang yang ditetapkan sebagai tersangka pada 2025. Selama masa mudik tahun lalu, aparat berhasil mengamankan 7 orang calon pelaku teror sebelum aksinya terjadi. Meski demikian, potensi ancaman tetap dianggap signifikan.

Saat ini, Polri sedang memantau 13.252 target yang masuk dalam daftar perhatian. “Konflik global yang sedang berlangsung memiliki risiko menggeliatkan kegiatan teroris di dalam negeri,” tambah Jenderal Sigit. Ia menyoroti situasi di Timur Tengah yang dapat memicu simpati terhadap sel-sel teroris.

“Khususnya, tindakan Iran yang menaikkan bendera merah sebagai tanda balasan, memberi tekanan bagi Densus 88 untuk mempertahankan nol aksi teroris,” imbuhnya.

Kapolri meminta kerja sama yang lebih erat antar lembaga seperti intelijen, TNI, dan pemerintah daerah dalam pendataan ulang serta pemantauan teroris. “Sinergi kuat menjadi kunci untuk mengamankan Lebaran 2026,” pungkasnya.