Strategi Penting: MPR minta pemerintah antisipasi kenaikan harga plastik hingga pupuk
MPR minta pemerintah antisipasi kenaikan harga plastik hingga pupuk
Jakarta – Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR RI, meminta pemerintah untuk memperhatikan kenaikan harga plastik serta pupuk yang dipicu oleh krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz. Dalam pernyataannya di Jakarta, Senin, ia menyoroti bahwa pengurangan pasokan produk migas akan berdampak pada kenaikan harga barang berbasis hidrokarbon.
Kenaikan biaya produksi memengaruhi berbagai sektor
Saat ini, tambah Eddy, selain minyak mentah dan gas, produk turunan migas seperti plastik, pupuk, obat-obatan, serta pakaian jadi mengalami kenaikan biaya produksi, yang berdampak pada kenaikan harga jual.
“Beberapa kebutuhan vital yang menggunakan bahan bakar minyak dan gas telah atau akan mengalami kenaikan harga,” katanya.
Pemerintah diharapkan siapkan langkah mitigasi
Eddy menyatakan apresiasi terhadap upaya pemerintah menutupi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) agar daya beli masyarakat tidak terganggu. Namun, ia menekankan perlunya persiapan dari pemerintah untuk menangani gejolak harga yang semakin tinggi akibat krisis energi global.
“Pemerintah harus mempersiapkan antisipasi terhadap kenaikan harga produk plastik, seperti kemasan mie instan, air minum kemasan, peralatan rumah tangga, serta produk lainnya. Kenaikan harga pupuk, yang bahan bakunya berasal dari gas, juga berpotensi memengaruhi biaya pangan,” ujarnya.
Program efisiensi nasional disebut sebagai solusi
Menurut Eddy, pemerintah perlu menyiapkan bantalan atau mekanisme sosial untuk menekan dampak kenaikan kebutuhan utama masyarakat, terutama kelompok ekonomi lemah. Ia meyakini langkah ini dapat dilakukan melalui subsidi atau insentif lainnya.
“Namun demikian sebagai anggota masyarakat kita juga punya tanggung jawab untuk melakukan aksi penghematan energi serta daur ulang, khususnya plastik,” ungkapnya.
Sebagai tindak lanjut, ia mendukung kampanye efisiensi nasional yang melibatkan berbagai upaya, seperti pengurangan sampah makanan, penggunaan bahan kemasan plastik yang lebih sedikit, serta pemberian insentif bagi warga untuk beralih ke transportasi umum, terutama yang menggunakan listrik seperti bis listrik atau MRT.
