Isu Penting: Harga kedelai naik, DKI imbau warga sesuaikan kebutuhan pangan
Harga Kedelai Naik, DKI Imbau Warga Sesuaikan Kebutuhan Pangan
Jakarta – Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, memberikan saran kepada masyarakat untuk menyesuaikan pola konsumsi pangan akibat kenaikan harga kedelai. Menurut Hasudungan, langkah tersebut bertujuan mengurangi dampak inflasi terhadap pengeluaran keluarga, terutama dengan memperkenalkan variasi bahan makanan yang memiliki nutrisi serupa namun biaya lebih terjangkau.
Dalam pidatonya di Jakarta, Kamis, dia menekankan pentingnya diversifikasi pangan sebagai strategi adaptasi. Selain itu, ia juga mendorong pengembangan pertanian perkotaan sebagai cara meningkatkan ketersediaan makanan secara mandiri.
Kenaikan Harga Kedelai
Saat ini, harga kedelai di tingkat pengrajin tahu dan tempe mencapai antara Rp10.500 hingga Rp11.000 per kilogram, meningkat dari Rp8.000 hingga Rp8.600 sebelumnya. Di tingkat pedagang pasar tradisional, harga naik menjadi Rp15.000 hingga Rp20.000 per kg, dibandingkan rentang Rp13.000 hingga Rp18.000 sebelumnya.
“Harga keripik tempe sebelumnya Rp65.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp70.000 per kg,” kata Joko Asori, Ketua Kelompok Pengrajin Tempe Kramat Pela, di Jakarta, Kamis.
Joko menjelaskan lonjakan harga kedelai terjadi sejak Februari 2026, ketika harga mencapai Rp930.000 per kuintal. Bulan April berikutnya, harga melonjak hingga mencapai Rp1.100.000 per kuintal, bahkan lebih. Naiknya biaya bahan baku ini memberatkan usaha pengrajin tempe dan tahu, yang membutuhkan modal besar.
Dampak pada Pengrajin Tempe
Menurut Joko, kenaikan harga kedelai membuat pengrajin kesulitan menaikkan harga produk mereka. Contohnya, berat satu bungkus keripik tempe 250 gram kini dijual dengan harga Rp19 ribu. Ia mengakui pengurangan berat produk sebagai solusi untuk mengatasi tekanan biaya.
“Contoh, yang sebelumnya Rp12.500 per kilogram, kini diubah menjadi 970 gram, dikurangi 30 gram,” ujarnya. “Semoga pelanggan tetap setia dan memahami perubahan ini.”
Adapun kenaikan harga kedelai dianggap dipengaruhi dinamika global, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Joko berharap pemerintah memberikan dukungan lebih besar terhadap usaha kecil dan menengah lokal, terutama di tengah tantangan ini.
