New Policy: BRIN siapkan lima teknologi unggulan, lindungi Pantura dari banjir rob

BRIN Siapkan Lima Teknologi Unggulan untuk Lindungi Pantura dari Banjir Rob

New Policy – Jakarta, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan upaya strategis dalam menghadapi ancaman banjir rob yang semakin mengkhawatirkan di wilayah Pantura. Kepala BRIN Arif Satria, dalam wawancara di Jakarta pada Rabu, memperkenalkan lima inovasi teknologi yang dirancang sebagai solusi praktis untuk memperkuat pertahanan daerah pesisir. Teknologi ini tidak hanya bertujuan melindungi Pantura dari bencana alam, tetapi juga memperkaya kemampuan infrastruktur lokal serta meningkatkan kemandirian teknologi nasional.

Teknologi Penangkal Banjir Rob

Salah satu teknologi unggulan yang disebutkan adalah tanggul tegak modular multifungsi. Arif menjelaskan, struktur ini diproduksi dengan material yang fleksibel, dapat menyesuaikan bentuk laut, dan memiliki kemampuan menangkap energi gelombang. Keunggulan utama teknologi ini terletak pada fungsinya sebagai pelindung pantai sekaligus sebagai jalur transportasi yang dapat beroperasi dalam kondisi normal dan darurat.

“Penguasaan teknologi oleh generasi muda bangsa dapat menjadi kunci dalam menyelesaikan persoalan rob di Pantura sekaligus memperkuat kemandirian teknologi nasional,” ujar Arif.

Beserta teknologi tersebut, BRIN juga menghadirkan blok modular beton. Bahan ini dirancang untuk menjaga stabilitas struktur pelindung pantai sekaligus mempercepat proses konstruksi. Arif menyampaikan, blok ini sudah diterapkan di sejumlah wilayah, termasuk Pacitan dan Tuban. Dalam rencana jangka panjang, teknologi ini akan diperluas hingga Nusa Penida pada 2025.

Unit Lapis Lindung Breakwater dengan Sistem Otomatis

Satu inovasi lain yang sedang dikembangkan adalah unit lapis lindung breakwater dengan mekanisme penguncian otomatis. Arif menegaskan, sistem ini dinilai lebih stabil dan efisien dibandingkan metode tradisional. Unit lapis lindung ini telah diterapkan di 11 daerah, dengan penerapan terakhir pada 2025 di Nusa Penida.

“Jadi ini adalah bentuk teknologi yang saya kira sangat penting karena memiliki stabilitas tinggi, lebih ekonomis, dan produksinya lebih sederhana,” lanjut Arif.

Arif menambahkan, penggunaan teknologi lokal maupun internasional akan disesuaikan berdasarkan kebutuhan setiap wilayah. “Ada yang digunakan dari Indonesia sendiri, dari dalam, maupun ada yang dari luar,” ujarnya, menyoroti pentingnya adaptasi dalam penerapan solusi.

Platform Arus Laut dan Energi Mandiri

BRIN juga memperkenalkan platform arus laut yang menjadi bagian dari inovasi ini. Teknologi ini berfungsi mengubah tanggul dan dermaga menjadi sumber energi mandiri. Arif menjelaskan, platform ini memanfaatkan aliran air laut untuk menghasilkan daya listrik, sehingga bisa mendukung kebutuhan energi warga pesisir secara berkelanjutan.

Dalam pendekatan ekosistem, BRIN mengembangkan konsep hybrid eco-engineering. Menurut Arif, pendekatan ini menggabungkan rekayasa teknis dengan solusi berbasis alam. “Dengan cara ini, kita tidak hanya mengurangi risiko banjir rob, tetapi juga memulihkan lingkungan sekitarnya,” katanya.

“Salah satu kelebihan dari teknologi ini adalah TKDN-nya lebih dari 70 persen,” ujarnya, menekankan persentase teknologi yang dihasilkan dalam negeri.

Master Plan dan Kemitraan Lintas Sektor

Menanggapi rencana tersebut, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf mengatakan, Presiden Prabowo Subianto telah meminta pembuatan rencana induk (master plan) perlindungan Pantura. “Kami bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti kementerian, lembaga terkait, universitas, dan para ahli, untuk menyusun master plan ini,” ujarnya.

Didit menjelaskan, selama lebih dari enam bulan, tim dari BOPPJ dan BRIN telah berdiskusi intensif mengenai teknologi yang akan digunakan. “Kami sudah berkomunikasi dengan banyak pihak, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk memastikan solusi yang tepat dan efektif,” katanya.

Pendekatan Terintegrasi dalam Pengelolaan Pantura

Dalam keterangan terpisah, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan perlunya pendekatan terpadu dalam menangani Pantura. AHY menyatakan, wilayah Pantura Jawa memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, yakni menyumbang sekitar 27 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Mengingat sekitar 55 juta penduduk tinggal di 20 kabupaten dan lima kota di wilayah Pantura Jawa, serta 26 persen masyarakat tinggal di kawasan pesisir, ini adalah urgensi yang kami harapkan mendorong dan menggerakkan semua pihak,” tutur AHY.

AHY menambahkan, keberhasilan pengelolaan Pantura tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada koordinasi antarlembaga. “Kita harus memastikan bahwa teknologi yang dikembangkan bisa mengakomodir kebutuhan masyarakat secara keseluruhan,” ujarnya.

Kendala dan Peluang di Era Digital

Menurut Arif, kesuksesan pengembangan teknologi memerlukan dukungan kebijakan yang komprehensif. “Kita harus memastikan bahwa setiap inovasi teknologi bisa berjalan dengan baik, termasuk dalam konteks perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut,” katanya.

Di sisi lain, AHY menyoroti pentingnya integrasi teknologi dalam berbagai sektor, seperti pertanian, pariwisata, dan transportasi. “Dengan pendekatan terintegrasi, kita bisa menciptakan ekosistem yang lebih kuat dan tangguh,” ujarnya.

BRIN menyatakan, pengembangan teknologi ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk mencegah dampak negatif banjir rob. “Kami berharap, teknologi yang dikembangkan bisa menjadi standar nasional, sehingga lebih mudah diadopsi oleh daerah-daerah lain,” kata Arif.