Laris di ekspor – penjualan domestik BYD turun 8 bulan berturut-turut
Laris di ekspor, penjualan domestik BYD turun 8 bulan berturut-turut
Laris di ekspor – Pada bulan April, BYD mencatat penjualan domestik yang menurun, meskipun mereka mencatatkan peningkatan signifikan dalam penjualan internasional. Berdasarkan laporan dari situs web Carnewschina pada Jumat (1/4), volume penjualan mobil penumpang di pasar Tiongkok tercatat sebanyak 314.100 unit, mengalami penurunan 15,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menandai penurunan tahunan selama delapan bulan berturut-turut, menunjukkan tekanan terhadap kinerja perusahaan di tengah perubahan dinamika pasar.
Meski mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, penjualan bulan April naik 6,2% dibandingkan Maret, ketika produsen mobil asal Shenzhen tersebut menjual 295.639 unit. Peningkatan ini dianggap sebagai tanda pemulihan sementara setelah pelambatan akibat libur Tahun Baru Imlek. Namun, kinerja tahunan BYD masih menunjukkan tekanan yang signifikan. Jumlah penjualan domestik kini telah menurun setiap bulan sejak September 2025, setelah sempat mengalami pertumbuhan tipis di Juli dan Agustus tahun lalu.
“Pemulihan bulanan di April menunjukkan kekuatan pasar sektor tertentu, tetapi tekanan tahunan masih terasa,” tulis laman Carnewschina.
Di sisi lain, penjualan internasional BYD mencapai rekor sebanyak 134.542 unit mobil penumpang dan pikap pada April, naik 70,9% dibandingkan tahun lalu. Angka ini menyoroti peran penting ekspor dalam menopang kinerja perusahaan, meski permintaan di pasar domestik melemah. Ekspor menyumbang 42,8% dari total volume penjualan April, menunjukkan bahwa sektor luar negeri menjadi pendorong utama pertumbuhan bisnis.
Dari Januari hingga April, BYD menjual 1.003.039 unit mobil penumpang, turun 26,4% secara tahunan. Dalam periode yang sama, penjualan luar negeri mencapai 455.707 unit, naik 59,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan target penjualan 1,5 juta unit di luar Tiongkok pada 2026, perusahaan ini terus mengejar ekspansi pasar global sebagai strategi untuk mengimbangi penurunan di pasar internal.
Secara total, BYD menjual 321.123 unit kendaraan pada April, termasuk mobil komersial dan bus. Namun, perolehan utama berasal dari merek utama mereka, yang mencakup seri Dynasty dan Ocean. Penjualan dari kedua merek tersebut turun 21,2% dan 26,9% secara tahunan, mencapai 273.448 unit dan 11.250 unit, masing-masing. Di sisi lain, merek off-road Fang Cheng Bao tumbuh 190,2% menjadi 29.138 unit, sementara merek kelas atas Yangwang mengalami peningkatan sebesar 95,6% menjadi 264 unit.
Penurunan penjualan domestik ini terjadi meskipun BYD mencatatkan performa positif di sektor ekspor. Mereka mencatatkan kenaikan signifikan, mencapai rekor tertinggi dalam satu bulan. Angka tersebut menunjukkan bahwa perusahaan ini berhasil menembus pasar global, terutama di wilayah Eropa, Amerika Utara, dan Asia Tenggara. Namun, ketidakseimbangan antara penurunan di pasar Tiongkok dan pertumbuhan di luar negeri menimbulkan pertanyaan tentang ketergantungan bisnis pada ekspor.
Kondisi pasar domestik Tiongkok terus mengalami tekanan, terutama karena persaingan ketat di sektor otomotif. Kenaikan harga bahan bakar dan biaya produksi juga berkontribusi pada penurunan margin keuntungan. Dalam kuartal pertama, BYD melaporkan penurunan profitabilitas sebesar 55,4% menjadi 4,09 miliar yuan (Rp10,4 triliun), mengakibatkan kekhawatiran terhadap stabilitas keuntungan jangka panjang.
Perusahaan ini terus berupaya menyesuaikan strategi mereka dengan menghadapi tantangan di pasar internal. Sejumlah analis mengatakan bahwa BYD perlu meningkatkan inovasi produk dan mengurangi biaya operasional untuk mengembalikan keuntungan. Di sisi lain, fokus pada mobil listrik dan teknologi ramah lingkungan diharapkan bisa membantu merek mereka tetap kompetitif di tengah pergeseran preferensi konsumen.
Ekspor tetap menjadi penopang utama BYD, terutama setelah mereka mengalami penurunan signifikan di pasar Tiongkok. Perusahaan ini telah mengembangkan jaringan distribusi di berbagai negara, seperti Eropa dan Amerika Selatan, untuk memperkuat posisi mereka di luar Tiongkok. Namun, perlu diingat bahwa pertumbuhan ekspor tidak selalu dapat menjamin keuntungan jangka panjang, terutama jika terjadi perubahan ekonomi global atau gangguan rantai pasok.
Pada akhirnya, BYD harus menghadapi realitas bahwa kinerja domestik mereka tidak sepenuhnya stabil. Meskipun ada peningkatan bulanan di April, penurunan tahunan yang berkelanjutan mengisyaratkan bahwa perusahaan ini perlu memperbaiki strategi di pasar Tiongkok. Dengan target penjualan internasional yang ambisius, BYD berharap dapat mengurangi risiko ketergantungan pada permintaan dalam negeri dan menciptakan pertumbuhan yang lebih seimbang di masa depan.
