Facing Challenges: Fortinet: Ancaman AI dan Kompleksitas Sistem Jadi Tantangan Keamanan Siber di Indonesia
Fortinet: Ancaman AI dan Kompleksitas Sistem Jadi Tantangan Keamanan Siber di Indonesia
Facing Challenges – Di tengah percepatan digitalisasi, keamanan siber menjadi isu utama yang memicu kekhawatiran banyak organisasi di Indonesia. Dalam keterangan resmi, Fortinet mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam sektor ini melibatkan dua faktor utama, yaitu meningkatnya ancaman berbasis kecerdasan buatan (AI) serta kompleksitas sistem keamanan digital yang tidak terintegrasi. Perusahaan ini menyoroti bahwa kondisi tersebut menghambat kemampuan organisasi dalam mendeteksi dan merespons serangan siber secara efektif.
Kesulitan Pengelolaan Sistem Silo
Edwin Lim, Country Director Fortinet Indonesia, menjelaskan bahwa banyak perusahaan masih mengadopsi pendekatan keamanan yang terpisah. Hal ini menyebabkan pengelolaan menjadi rumit dan memakan waktu, karena setiap komponen keamanan, seperti email, firewall, atau endpoint, membutuhkan produk berbeda. “Dulu, keamanan siber banyak diimplementasikan secara silo. Jika butuh perlindungan untuk email, pembelian satu produk; untuk firewall, pembelian produk lain; dan untuk endpoint, merek yang berbeda. Akibatnya, perusahaan justru memiliki banyak tools yang sulit dipelajari dan dioperasikan,” ujar Edwin.
“AI sekarang bukan hanya dipakai perusahaan, tapi juga digunakan pelaku ancaman untuk mempercepat serangan. Karena itu, organisasi perlu memiliki kemampuan deteksi dan respons yang juga lebih cepat dan otomatis,”
Kondisi ini memperparah kesulitan organisasi dalam menghadapi ancaman siber, terutama di tengah peningkatan jumlah serangan dan volume alert yang mengalir. Menurut Edwin, kompleksitas sistem yang tidak terintegrasi menyebabkan keterlambatan dalam pengambilan keputusan dan penanganan insiden keamanan. “Dengan sistem yang terpisah, tim keamanan harus berurusan dengan berbagai platform dan protokol, yang tidak selaras. Ini mengurangi efisiensi dan kecepatan respons,” tambahnya.
Temuan Studi Fortinet: Masalah Kompleksitas dan Volume Alert
Berdasarkan studi terbaru yang dilakukan Fortinet bersama Forrester Consulting, sebanyak 64 persen organisasi di Asia Pasifik menganggap kompleksitas tools dan arsitektur keamanan sebagai hambatan utama dalam operasional mereka. Selain itu, 46 persen dari responden mengaku terganggu oleh volume alert yang terlalu tinggi, sementara 43 persen lainnya masih mengandalkan proses manual untuk menangani ancaman siber. “Penggunaan manual dalam penanganan insiden membuat tim keamanan kesulitan mengikuti dinamika serangan yang terus berubah,” ujarnya.
Kompleksitas ini tidak hanya berdampak pada waktu reaksi, tetapi juga pada keandalan sistem. Menurut Edwin, ketika tools keamanan tidak terhubung, data tidak terintegrasi, dan proses terpisah, kesalahan kecil bisa mengakibatkan kegagalan pengamanan yang signifikan. “Banyak perusahaan justru kesulitan mengatur prioritas tindakan karena sistem mereka terlalu berantakan,” tambahnya.
Pendekatan Platform: Solusi untuk Mengurangi Kompleksitas
Menghadapi tantangan tersebut, Fortinet menilai bahwa tren industri saat ini mulai berubah ke arah keamanan berbasis platform. Pendekatan ini bertujuan untuk menyederhanakan pengelolaan sistem dengan menggabungkan berbagai fungsi keamanan dalam satu struktur yang terpadu. “Sekarang, industri mulai mengarah ke solusi yang berbasis platform, karena integrasi bisa mengurangi kompleksitas dan meningkatkan efisiensi,” ujar Edwin.
Dalam wawancara di Jakarta, Edwin juga mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan besar mulai merekomendasikan konsolidasi tools untuk menghindari penggunaan terlalu banyak vendor. “Dengan integrasi, perusahaan bisa mengoptimalkan investasi yang sudah ada, karena semua data dan fungsi bisa diakses secara terpusat,” ujarnya. Menurutnya, sistem terpadu juga memungkinkan pengelolaan keamanan lebih mudah, karena tidak lagi memerlukan penyesuaian antar-platform.
Ancaman AI: Meningkatkan Kecepatan dan Efektivitas Serangan
Di samping kompleksitas sistem, ancaman berbasis AI juga semakin menjadi perhatian. Studi Fortinet mencatat bahwa 69 persen organisasi mengaku khawatir terhadap kemampuan pelaku ancaman untuk memanfaatkan teknologi AI dalam serangan mereka. Edwin menyatakan bahwa AI memberi keuntungan signifikan bagi pelaku kejahatan siber, karena memungkinkan mereka mempercepat proses deteksi dan penyerangan.
“Kini, pelaku ancaman menggunakan AI untuk meningkatkan kecepatan dan efektivitas serangan. Mereka bisa mengotomatisasi proses identifikasi target dan mengurangi kesalahan manual,” ujarnya. Sebagai contoh, AI dapat memproses data secara real-time, sehingga membantu pelaku kejahatan siber dalam menemukan celah keamanan yang sulit terdeteksi oleh sistem konvensional. Hal ini memaksa organisasi untuk merancang strategi yang lebih adaptif dan responsif.
Manfaat AI dalam Keamanan Siber
Sebaliknya, AI juga menjadi alat yang bermanfaat dalam operasional keamanan siber. VP of Marketing and Communications APAC Fortinet, Rashish Pandey, menjelaskan bahwa teknologi ini bisa digunakan untuk memprioritaskan alert dan insiden keamanan. “AI memungkinkan tim keamanan menangani data dengan lebih cepat, sehingga mereka bisa fokus pada ancaman yang benar-benar kritis,” ujarnya.
“AI membutuhkan data yang terhubung dan visibilitas yang menyeluruh. Tanpa integrasi, AI justru berisiko memperbesar kompleksitas dan menambah tantangan baru bagi tim keamanan,”
Menurut Rashish, penggunaan AI di bidang keamanan siber tidak bisa terlepas dari fondasi sistem yang terintegrasi. “Jika data tidak terhubung, AI akan memperparah masalah, karena tidak bisa memberikan keputusan yang akurat,” katanya. Ia menambahkan bahwa integrasi adalah kunci untuk memaksimalkan potensi AI dalam mendeteksi ancaman yang berpotensi serius.
Kesiapan Sumber Daya Manusia: Tantangan yang Tidak Bisa Diabaikan
Fortinet juga menyoroti bahwa kesiapan sumber daya manusia masih menjadi hambatan dalam optimalisasi keamanan siber. “Meskipun teknologi terus berkembang, manusia tetap menjadi komponen utama dalam penanganan insiden,” ujarnya. Perusahaan ini menyatakan bahwa terdapat kebutuhan akan pelatihan dan edukasi yang lebih intensif untuk memastikan tim keamanan mampu mengoperasikan solusi berbasis AI secara efektif.
Dalam upaya menjawab tantangan ini, Fortinet menawarkan layanan konsultasi, pelatihan, dan sertifikasi keamanan siber. “Kami ingin membantu pelanggan memahami dan memaksimalkan penggunaan solusi yang kami sediakan,” ujar Rashish. Layanan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas organisasi dalam menghadapi ancaman yang semakin kompleks dan beragam.
Prediksi Pertumbuhan Penggunaan Platform Terpadu
Studi Fortinet menunjukkan bahwa saat ini hanya sekitar 29 persen organisasi yang telah mengimplementasikan platform keamanan terpadu. Namun, angka tersebut diprediksi akan meningkat menjadi 60 persen dalam jangka waktu 12 hingga 24 bulan mendatang. “Percepatan transformasi digital di Indonesia memberikan peluang besar untuk adopsi solusi yang lebih terpadu dan otomatis,” ujarnya.
Edwin menegaskan bahwa kebutuhan akan keamanan yang berbasis AI dan platform terpadu akan terus meningkat. “Dengan perubahan kebiasaan penggunaan teknologi, organisasi harus siap mengadopsi pendekatan baru agar tetap relevan dalam menghadapi ancaman di masa depan,” ujarnya. Fortinet menilai bahwa keberhasilan transformasi digital bergantung pada kemampuan organisasi untuk mengatasi tantangan-tantangan yang muncul dari sisi keamanan siber.
