Latest Program: Pemkab Sumedang atasi sampah lewat Program Sekolah Ramah Lingkungan
Inisiatif Pemkab Sumedang dalam Mengatasi Sampah melalui Sekolah Ramah Lingkungan
Latest Program – Sumedang, Jawa Barat, tengah mengambil langkah strategis melalui Program Sekolah Ramah Lingkungan sebagai upaya mendorong kesadaran lingkungan sejak usia dini. Program ini dirancang untuk mengurangi jumlah sampah yang berdampak pada lingkungan sekaligus membangun budaya peduli terhadap alam. Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengungkapkan bahwa sekolah tidak hanya tempat belajar akademik, tetapi juga wadah transformasi perilaku yang mampu memberikan dampak jangka panjang.
Menurut Dony, volume sampah di daerah itu mencapai lebih dari 176.000 ton per tahun, dengan rata-rata 483 ton yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) setiap hari. “Sekolah harus menjadi pusat perubahan, tempat yang mampu mengubah cara berpikir dan bertindak masyarakat terhadap lingkungan,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Antaranews, Sabtu. Ia menekankan bahwa program ini bertujuan menciptakan kesadaran lingkungan yang konsisten, sehingga meminimalkan kontribusi sampah dari sumber terbesar, yaitu kegiatan sehari-hari di lingkungan pendidikan.
“Kita ingin sekolah menjadi pusat perubahan. Bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga tempat strategis dalam membangun kesadaran dan perilaku ramah lingkungan dalam merespons persoalan sampah,” katanya.
Dalam mewujudkan visi tersebut, Pemkab Sumedang mendorong penerapan konsep Zero Waste School di seluruh satuan pendidikan. Langkah ini melibatkan berbagai inisiatif, seperti mengajarkan siswa untuk memilah sampah secara teratur, menjaga kebersihan lingkungan sekolah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hingga membiasakan mereka membawa sendiri alat makan dan minum. Dengan cara ini, program tidak hanya fokus pada penanganan sampah, tetapi juga pada penguatan kebiasaan ramah lingkungan yang bisa bermuara pada perubahan gaya hidup masyarakat.
Dinas Pendidikan (Disdik) Sumedang mencatat bahwa sekitar 70 persen dari total 725 sekolah SD dan SMP di bawah naungannya telah menerapkan Program Sekolah Ramah Lingkungan. Angka ini menunjukkan adanya kemajuan yang signifikan dalam upaya mengurangi sampah. Pemkab Sumedang menargetkan semua lembaga pendidikan di daerah itu dapat mengikuti jejak sekolah-sekolah yang telah berpartisipasi, secara bertahap. Tujuan utamanya adalah memastikan setiap sekolah menjadi bagian dari solusi kebersihan lingkungan, sehingga jumlah sampah yang masuk ke TPA dapat dikurangi secara signifikan.
Mobilisasi Perubahan Perilaku
Dony menegaskan bahwa perubahan nyata harus dimulai dari dalam. “Sekolah menjadi lebih bersih, siswa lebih peduli terhadap lingkungan, dan dampaknya mulai dirasakan hingga ke masyarakat,” ujarnya. Kebiasaan seperti membawa tumbler atau mangkuk sendiri mulai diadopsi oleh sejumlah lembaga sekolah, sehingga plastik sekali pakai di lingkungan belajar siswa berkurang. Selain itu, kegiatan pengolahan kompos dari sampah organik juga dipercaya sebagai metode efektif dalam mengurangi volume sampah yang dihasilkan.
Program ini tidak hanya berdampak pada lingkungan sekolah, tetapi juga membentuk generasi yang lebih sadar akan tanggung jawab terhadap masa depan. Dony berharap gerakan ini terus berkembang menjadi budaya bersama, yang tidak terbatas pada lingkungan pendidikan, melainkan mencakup seluruh masyarakat. “Ini menjadi komitmen kami untuk terus dilakukan, kami tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga sedang membentuk generasi yang bertanggung jawab terhadap masa depan,” tambahnya.
Pendekatan Multidisiplin
Di samping program di sekolah, Pemkab Sumedang juga menggandeng masyarakat dalam upaya mengatasi sampah. Edukasi pemilahan sampah, pembentukan bank sampah, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan menjadi bagian dari strategi yang digunakan. Dony menyoroti pentingnya keterlibatan aktif warga sekitar, karena perubahan lingkungan tidak bisa tercapai hanya melalui upaya pemerintah saja.
Dari data yang dihimpun, kegiatan pembuatan kompos dan pengelolaan sampah daur ulang di beberapa sekolah telah menunjukkan hasil yang memuaskan. Selain itu, inisiatif seperti penggunaan kantong daur ulang dan pengurangan penggunaan kertas sekali pakai juga mulai menyebar. Dony mengakui bahwa pertumbuhan program ini dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat yang semakin tinggi, serta dukungan dari guru dan siswa dalam mempraktikkan kebiasaan ramah lingkungan.
Kebijakan ini berharap dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. Dengan menciptakan lingkungan belajar yang hijau, Pemkab Sumedang berupaya membangun pola pikir generasi muda untuk menjadi pilar pembawa perubahan. “Mobilisasi perubahan perilaku tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, tetapi kami yakin program ini akan memberikan dampak yang mengakar,” kata Dony.
Langkah-langkah kecil yang dijalankan di tingkat sekolah diyakini akan berdampak besar pada jangka panjang. Pemkab Sumedang berkomitmen untuk terus mengembangkan program ini, baik melalui dukungan anggaran maupun kerja sama dengan berbagai pihak. Dengan kombinasi pendidikan lingkungan, edukasi daur ulang, dan partisipasi aktif masyarakat, harapan besar tersimpan untuk menciptakan ekosistem yang lebih sehat dan berkelanjutan.
