BNPB: Tiga pendaki hilang di Gunung Dukono masih dalam pencarian

BNPB: Tiga Pendaki Hilang di Gunung Dukono Masih dalam Pencarian

BNPB – Labuan Bajo, NTT (ANTARA) – Pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui informasi terkait upaya pencarian tiga pendaki yang terlantar setelah erupsi Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Tim pencarian dan penyelamatan gabungan masih terus berupaya menemukan korban hilang tersebut, meski kondisi medan dan aktivitas vulkanik gunung yang tetap intensif memperumit operasi.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa dari tiga pendaki yang terdampak, dua di antaranya adalah Warga Negara Asing (WNA) dan satu orang pendaki lainnya merupakan Warga Negara Indonesia (WNI). Ia menegaskan bahwa meskipun lokasi dua WNA telah teridentifikasi, proses evakuasi masih belum bisa dilakukan akibat kondisi lingkungan yang berbahaya.

“Pada hari kedua operasi pencarian, tim fokus menelusuri area yang diduga menjadi titik keberadaan korban. Letak dua pendaki asing tersebut sempat terpantau berada dalam jarak 20 hingga 30 meter dari tepi kawah utama,” ujarnya.

Dalam keterangan yang diterima di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada hari Sabtu, Abdul Muhari menjelaskan bahwa erupsi Gunung Dukono yang terjadi beberapa hari lalu mengakibatkan jembatan dan jalur pendakian rusak parah. Kondisi tersebut membuat pendaki sulit bergerak dan berisiko terjebak di area berbahaya. Selain itu, aktivitas vulkanik yang masih sangat tinggi memaksa tim SAR berhati-hati dalam melakukan pendekatan.

Menurut data terkini dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono, aktivitas kegempaan masih didominasi oleh gempa letusan dengan amplitudo besar. Sejak Sabtu (9/5) dini hari hingga pukul 11.00 WIT, erupsi tercatat beberapa kali, dengan tinggi kolom abu mencapai 3.000 meter di atas puncak. Hal ini menunjukkan bahwa gunung tersebut tetap dalam status siaga dan memerlukan pengawasan ketat.

BNPB mengingatkan bahwa seluruh personel di lapangan harus memprioritaskan keselamatan. Mereka dianjurkan mengikuti rekomendasi PGA Dukono dari Badan Geologi, karena status gunung berstatus Level II (Waspada). Menurut Abdul Muhari, tingkat aktivitas vulkanik yang tinggi berpotensi menimbulkan risiko terhadap pendaki yang tidak mematuhi aturan.

Sementara itu, satu pendaki WNI hingga saat ini masih dalam proses pelacakan. Tim SAR sedang memanfaatkan teknologi dan informasi dari sensor seismik untuk memperkirakan arah gerakan korban. “Meskipun titik terdekat korban ditemukan, medan yang curam dan tertutup awan membuat proses evakuasi memakan waktu lebih lama,” tambahnya.

BNPB menyampaikan kekecewaannya atas adanya pendakian yang dilakukan meski jalur sudah ditutup sejak 17 April 2026. Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara memutuskan untuk melarang akses ke kawasan rawan bencana dalam radius empat kilometer dari puncak kawah. Larangan ini diterapkan untuk mencegah korban jiwa akibat erupsi yang tak terduga.

Erupsi Gunung Dukono memicu kekhawatiran akan kejadian serupa di masa depan. BNPB menekankan bahwa masyarakat dan wisatawan wajib mematuhi instruksi dari Badan Geologi. Selain Dukono, beberapa gunung berapi lainnya seperti Gunung Lewotobi Laki-laki di NTT, Gunung Marapi di Sumatera Barat, hingga Gunung Semeru di Jawa Timur juga dalam status waspada atau siaga. Oleh karena itu, warga dianjurkan untuk tidak memasuki kawasan tersebut tanpa izin atau pengawasan.

Abdul Muhari meminta operator jasa pendakian dan masyarakat lokal untuk aktif mensosialisasikan penutupan jalur. Ia menekankan bahwa setiap pelanggaran terhadap peraturan ini bisa dikenai sanksi sesuai perundang-undangan yang berlaku. “Tujuan utama adalah menjaga keselamatan jiwa pendaki, terutama saat aktivitas vulkanik masih dinamis,” tuturnya.

BNPB juga berharap adanya kerja sama dari seluruh pihak untuk mempercepat proses evakuasi. Tim SAR terus berupaya memanfaatkan pesawat dan drone untuk memperluas area pencarian. Selain itu, perangkat lunak pemetaan digital digunakan untuk menentukan jalur yang paling efektif. Meski begitu, kondisi cuaca dan letusan berulang masih menjadi tantangan utama.

Korban hilang ini menjadi pengingat bagi pendaki untuk lebih waspada. BNPB menekankan bahwa erupsi gunung berapi bisa terjadi kapan saja, terutama saat aktivitas vulkanik meningkat. Dengan status Level II, gunung tersebut dianggap berpotensi menimbulkan ancaman terhadap kehidupan manusia. Oleh karena itu, peraturan penutupan jalur harus diikuti secara konsisten.

Sebagai upaya pencegahan, BNPB mengimbau masyarakat untuk selalu memperhatikan peringatan dari PGA. Pemantauan secara berkala dianggap penting untuk mengantisipasi perubahan kondisi gunung. Selain itu, penggunaan alat pelindung diri seperti helm, kacamata pelindung, dan pakaian anti-api dianjurkan saat berada di area risiko tinggi.