Walk For Peace 2026 tempuh jarak 660 kilometer menuju Borobudur
Walk For Peace 2026: 56 Bhikkhu Berjalan Kaki 660 Kilometer Menuju Borobudur
Peserta dan Asal Negara
Walk For Peace 2026 tempuh jarak 660 – Walk For Peace 2026, sebuah perjalanan suci yang mengumpulkan 56 bhikkhu dari berbagai negara, berlangsung di Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (11/5/2026). Para peserta, yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Laos, mengambil jalur yang melewati beberapa kota di pulau Jawa untuk mencapai Candi Borobudur, situs sejarah yang memiliki makna religius dan budaya luar biasa. Perjalanan ini dimulai dari Bali, yang merupakan tempat kelahiran para bhikkhu tersebut, dan menempuh jarak sekitar 660 kilometer. Tantangan fisik dan mental menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan ini, yang bertujuan menginspirasi nilai-nilai perdamaian dan kerukunan antarumat beragama.
Perjalanan ini tidak hanya sekadar pembuktian kekuatan fisik tetapi juga upaya menghimpun pesan universal tentang toleransi, harmoni sosial, dan rasa damai. Dalam kegiatan ini, para bhikkhu membawa tiga prinsip utama: pertama, mengajak masyarakat untuk menghormati perbedaan; kedua, menekankan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi tantangan hidup; ketiga, memperkuat ikatan spiritual antarumat Buddha di berbagai belahan dunia. Jumlah peserta yang cukup besar, mencapai 56 orang, menunjukkan perhatian serius terhadap isu perdamaian global.
Persiapan dan Pembukaan
Sebelum memulai perjalanan, para bhikkhu melakukan upacara doa di Vihara Jaya Manggala, TITD Tik Liong Tian, Rogojampi, Banyuwangi. Acara ini dihadiri oleh masyarakat lokal yang antusias menyambut kehadiran para bhikkhu. Sejumlah warga memberikan salam dan dukungan moral kepada para peserta, menunjukkan keharmonisan antara komunitas Buddha dan masyarakat umum di daerah tersebut.
Persiapan untuk Walk For Peace 2026 telah diatur secara rapi oleh organisasi penyelenggara. Setiap bhikkhu dibekali alat-alat yang diperlukan, seperti air minum, makanan ringan, dan perlengkapan pribadi. Meski jarak yang ditempuh cukup jauh, keberangkatan diawali dengan semangat tinggi, karena perjalanan ini dianggap sebagai langkah nyata menuju tujuan utamanya: menyambut Hari Raya Waisak 2560 BE pada 31 Mei 2026. Acara ini diharapkan menjadi simbol perpaduan budaya dan spiritual antarbangsa.
Pesan yang Dibawa
Pesan perdamaian yang dibawa oleh para bhikkhu ini tidak hanya sebatas lisan tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata. Mereka membawa simbol-simbol khas dari negara masing-masing, seperti bendera nasional dan alat persembahan. Hal ini memperkuat pesan bahwa kebersamaan dapat terwujud melalui keberagaman, serta bahwa ajaran Buddha tentang kebajikan dan kesadaran bisa menjadi dasar untuk menciptakan dunia yang lebih damai.
Walk For Peace 2026 juga menjadi kesempatan bagi para bhikkhu untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Di sepanjang perjalanan, mereka mengajak masyarakat untuk mengambil bagian dalam menjaga kebersihan alam, mempromosikan pendidikan, dan menghormati hak-hak setiap individu. Dalam rangkaian acara ini, para bhikkhu juga berinteraksi dengan masyarakat lokal, berbagi pengalaman, dan mendorong kolaborasi dalam mencapai tujuan bersama.
Perjalanan dan Makna Spiritual
Perjalanan dari Bali ke Borobudur membutuhkan kekuatan fisik dan mental yang luar biasa. Jarak 660 kilometer tersebut tidak hanya menjadi tantangan untuk menguji ketahanan para bhikkhu, tetapi juga sebagai bentuk meditasi jasmani dan rohani. Mereka mengikuti jalur yang melewati beberapa kota, seperti Denpasar, Kuta, Gianyar, dan Malang, sebelum akhirnya mencapai Borobudur, tempat yang dikenal sebagai salah satu keajaiban dunia dan tempat suci bagi umat Buddha.
Borobudur, sebagai tujuan akhir perjalanan, memiliki makna khusus bagi para bhikkhu. Candi ini menjadi simbol peradaban budaya dan spiritual yang sejalan dengan ajaran Buddha. Di sini, mereka berharap untuk menyampaikan pesan perdamaian kepada ribuan pengunjung dan wisatawan yang datang untuk menghadiri perayaan Hari Raya Waisak. Perayaan tersebut diperkirakan akan menarik perhatian lebih dari 100.000 orang, yang akan hadir untuk beribadah, menikmati pemandangan, dan mengikuti berbagai kegiatan budaya yang diselenggarakan.
Di tengah perjalanan, para bhikkhu juga menghadapi berbagai kondisi cuaca yang tidak menentu. Pada beberapa hari, mereka melewati hujan deras yang membuat jalanan basah dan licin. Namun, dengan semangat yang tidak pernah pudar, mereka tetap berjalan kaki dan berdoa agar pesan perdamaian dapat sampai kepada setiap orang yang melintasi jalur mereka. Perjalanan ini juga menjadi bentuk ekspresi keimanan, karena setiap langkah dianggap sebagai bentuk pencerahan spiritual.
Penerimaan dan Dukungan Masyarakat
Setibanya di Vihara Jaya Manggala, para bhikkhu mendapat sambutan hangat dari umat Buddha setempat. Masyarakat menganggap perjalanan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap ajaran Buddha dan semangat kebersamaan. Acara ini juga memperlihatkan kerja sama antara berbagai komunitas religius di Banyuwangi,
