Key Strategy: BPOM-WHO teken Joint Work Plan 2026-2027 kuatkan sistem kesehatan RI

BPOM dan WHO Teknologi Kerja Sama Strategis 2026-2027 Kuatkan Sistem Kesehatan RI

Key Strategy dalam memperkuat sistem kesehatan nasional Indonesia diluncurkan melalui penandatanganan Rencana Kerja Bersama (Joint Work Plan) oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta World Health Organization (WHO) Indonesia. Penandatanganan ini dilakukan pada Selasa di Jakarta dan menandai pengembangan kerja sama untuk periode dua tahun 2026–2027. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa dana hibah sebesar USD 997.853, setara sekitar Rp17 miliar, akan digunakan untuk menjalankan 63 kegiatan lintas unit kerja BPOM, seperti standarisasi, pengawasan, dan operasional laboratorium. Key Strategy ini bertujuan memastikan sistem kesehatan Indonesia lebih solid dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Perpanjangan Kerja Sama Strategis

Key Strategy ini merupakan kelanjutan dari perjanjian sebelumnya yang berlangsung sejak 2020. Memasuki tahun keempat pelaksanaan hibah, BPOM dan WHO Indonesia terus memperkuat sinergi program sesuai dengan prioritas pembangunan kesehatan nasional, kebijakan WHO, serta kebutuhan penguatan pengawasan obat dan makanan. “Key Strategy ini menjadi bagian dari komitmen yang terus berlanjut untuk menciptakan sistem kesehatan yang lebih adaptif dan efektif,” kata Taruna Ikrar. Kolaborasi ini diharapkan meningkatkan kapasitas BPOM dalam menjamin kualitas produk kesehatan.

Kegiatan yang Akan Dilaksanakan

Sebagai bagian dari Key Strategy, kerja sama ini mencakup berbagai kegiatan yang dirancang untuk mendorong pengembangan sumber daya manusia (SDM) di sektor kesehatan. Beberapa aktivitas utama meliputi pelatihan, dialog kebijakan, bantuan teknis dari para ahli, serta pendekatan holistik untuk peningkatan kesehatan populasi. Key Strategy ini juga melibatkan penguatan operasional laboratorium dan standarisasi produk obat dan makanan, yang menjadi pilar utama dalam menjaga kualitas layanan kesehatan masyarakat.

Ruang Lingkup Kolaborasi

Kerja sama antara BPOM dan WHO Indonesia mencakup empat bidang utama dalam Key Strategy. Pertama, penguatan sistem kesehatan secara keseluruhan. Kedua, pengendalian penyakit menular dan program imunisasi. Ketiga, peningkatan kesiapsiagaan terhadap kedaruratan kesehatan. Keempat, pengembangan kebijakan untuk memperbaiki akses layanan kesehatan yang tidak merata. Key Strategy ini bertujuan menyelaraskan standar internasional dengan kebutuhan lokal Indonesia, terutama dalam menghadapi wabah penyakit baru.

Perspektif Kepala BPOM

Taruna Ikrar menegaskan bahwa Key Strategy ini adalah langkah penting untuk meningkatkan kemampuan institusional BPOM. “Key Strategy tidak hanya memberikan manfaat teknis, tetapi juga membantu menyelaraskan kebijakan dengan standar internasional,” ujarnya. Dengan bantuan teknis dan pertukaran ilmu, BPOM diharapkan lebih siap dalam menjaga kualitas produk kesehatan. Key Strategy ini juga menjadi fondasi untuk memperkuat peran BPOM sebagai otoritas pengawas vaksin yang diakui WHO.

Komite WHO Indonesia Mengapresiasi

Phoubandith Soulivong, Perwakilan WHO Indonesia, mengapresiasi Key Strategy yang ditandatangani. “Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya utama WHO untuk mencapai tujuan kesehatan nasional,” kata Phoubandith. Ia berharap Key Strategy ini dapat memberikan dampak signifikan dalam memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan. Dengan kombinasi kebijakan nasional dan pendekatan internasional, BPOM dan WHO Indonesia berkomitmen menciptakan layanan kesehatan yang lebih efektif dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.

Konteks Global dan Lokal

Key Strategy ini tidak hanya menargetkan peningkatan kinerja internal BPOM, tetapi juga menjawab tantangan global dan lokal di bidang kesehatan. Dalam konteks global, standar WHO memberikan arahan dalam pengelolaan produk kesehatan. Sementara itu, dalam konteks lokal, Key Strategy dirancang untuk memperbaiki akses layanan kesehatan yang tidak merata. “Key Strategy ini membantu BPOM menyesuaikan program dengan kebutuhan spesifik Indonesia,” jelas Phoubandith. Kemitraan ini menjadi sarana memperkuat kapasitas institusional dan menjamin keberlanjutan sistem kesehatan.

Komitmen BPOM untuk Sistem Pengawasan yang Efektif

Key Strategy ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang BPOM untuk menjaga kualitas obat dan makanan. Dengan dukungan WHO, BPOM berupaya memperkuat pengawasan terhadap produk kesehatan, termasuk menjawab tantangan dalam pengelolaan risiko kesehatan. “Key Strategy memastikan BPOM tetap menjadi mitra yang andal dalam menjaga kesehatan masyarakat,” tambah Taruna Ikrar. Kolaborasi ini diharapkan meningkatkan kepercayaan publik terhadap sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh dan berkelanjutan.