New Policy: Zulhas minta Bulog lepas pasokan jagung stabilkan harga pakan ternak
Zulhas Minta Bulog Lepaskan Pasokan Jagung untuk Stabilkan Harga Pakan Ternak
New Policy – Jakarta – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan, yang biasa disebut Zulhas, mengajukan permintaan ke Perum Bulog agar segera melepaskan sebagian stok jagung subsidi dari cadangan pemerintah. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi tekanan harga pakan ternak yang terus meningkat. Dalam kunjungan ke Pasar Palmerah, Jakarta, Rabu, Zulhas langsung berkomunikasi dengan Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani untuk mempercepat proses distribusi jagung tersebut.
Upaya Pemerintah untuk Keseimbangan Harga
Menurut Zulhas, harga pakan ternak yang naik berdampak signifikan terhadap keberlanjutan usaha peternak. Ia menjelaskan bahwa peternak telur kini menghadapi tantangan ganda, di satu sisi harga telur di tingkat peternak turun, sementara di sisi lain biaya pakan meningkat. “Harga telur yang biasanya Rp23 ribu per kilogram (kg) kini mengalami penurunan hingga Rp20 ribu per kg, sehingga peternak mengalami kerugian,” katanya dalam pernyataan resmi.
“Kena dua, harga di level peternak biasanya mereka terima Rp23 ribu per kg, sekarang terimanya ada yang Rp20 ribu per kg jadi kan rugi. Tetapi jagungnya naik, harga pakan-nya naik,”
Zulhas menekankan bahwa melepas stok jagung subsidi ke sentra-sentra peternak akan membantu menstabilkan harga jagung secara umum. Dengan demikian, peternak dapat membeli bahan baku pakan dengan harga lebih terjangkau, sehingga mengurangi beban operasional mereka.
Pantauan di Pasar Palmerah dan Harga Eceran
Dalam kunjungan ke Pasar Palmerah, Zulhas dan Menteri Perdagangan Budi Santoso melakukan peninjauan harga serta pasokan pangan. Mereka juga berinteraksi langsung dengan para pedagang dan warga sekitar. Harga telur di Pasar Palmerah saat ini terpantau sekitar Rp27 ribu per kg, yang lebih rendah dari harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp30 ribu per kg. Meski harga jual telur lebih rendah, Zulhas menilai ini berpotensi merugikan peternak.
“HET itu konsumen enggak terlalu berat, tapi peternaknya enggak tutup. Kalau terlalu murah peternaknya tutup, tentu konsumen senang harganya murah, ini yang kita harus jaga,”
Ia menjelaskan bahwa harga telur yang terlalu rendah bisa mengakibatkan kebangkrutan peternak, terutama jika tidak didukung oleh pasokan bahan baku yang stabil. Dengan melepaskan jagung subsidi, pemerintah diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara kebutuhan konsumen dan perlindungan industri peternak.
Program Makan Bergizi Gratis sebagai Solusi
Menurut Zulhas, selain melepas pasokan jagung, pemerintah juga menginginkan Badan Gizi Nasional (BGN) memperbanyak penggunaan telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyebutkan bahwa langkah ini dapat meningkatkan permintaan telur, sehingga membantu menaikkan harga jual yang lebih wajar bagi peternak.
“Kalau BGN dua hari saja pakai telur, itu berarti 48 juta butir satu kali belanja. Kalau dalam seminggu dua kali, itu bisa kembali kepada harga HET,”
Zulhas menegaskan bahwa program MBG merupakan salah satu alat pemerintah untuk mendukung sektor pertanian. Dengan menyerap pasokan telur ke institusi pemerintah, diharapkan harga telur tidak terus terpuruk dan bisa kembali ke level yang sehat. Ia juga menambahkan bahwa stok pangan secara keseluruhan saat ini masih aman, termasuk beras, telur, ayam, dan cabai yang cenderung mengalami penurunan harga.
Kondisi Pasar dan Stok Pangan
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, harga rata-rata telur ayam ras pada 12 Mei 2026 mencatat Rp28.354 per kg, turun 0,18 persen dibandingkan hari sebelumnya. Data tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah dalam mengatur pasokan dan harga pangan sedang berjalan. Di sisi lain, harga cabai merah keriting, merah besar, dan rawit merah juga turun, dengan angka nasional masing-masing sebesar Rp45.830, Rp48.768, dan Rp63.252 per kg.
Dalam pantauan di Pasar Palmerah, harga cabai merah keriting mencapai Rp44 ribu per kg, cabai merah besar Rp47 ribu per kg, serta cabai rawit merah Rp65 ribu per kg. Meski demikian, Zulhas mengatakan bahwa stok pangan tetap mencukupi, sehingga tidak perlu khawatir terjadi kelangkaan. Ia menekankan bahwa kebijakan yang diambil harus menjaga kestabilan harga sekaligus memastikan kesejahteraan peternak.
Perspektif Pemerintah terhadap Pasar
Langkah pemerintah ini berdasarkan pertimbangan ekonomi makro, khususnya dalam upaya menjaga keseimbangan antara konsumen dan produsen. Zulhas menjelaskan bahwa harga telur yang terlalu rendah memang memberi manfaat bagi konsumen, tetapi jika berlangsung terus-menerus, bisa menyebabkan kehancuran industri peternak. “Kita ingin harga pangan tetap terjangkau bagi masyarakat, tetapi juga tetap memperhatikan keberlanjutan usaha para peternak,” ujarnya.
Menurut Zulhas, program MBG memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ini. Dengan mengintegrasikan telur ke dalam konsumsi pemerintah, permintaan pasar bisa meningkat, sehingga harga telur tidak terus merosot. Selain itu, penggunaan telur sebagai bagian dari program ini juga bisa menurunkan biaya produksi pemerintah.
Pasokan Jagung dan Peran Bulog
Zulhas menjelaskan bahwa Bulog memiliki peran krusial dalam mengatur pasokan jagung subsidi ke pasar. Dengan melepaskan stok yang terdapat di cadangan pemerintah, harga jagung diharapkan tidak terlalu tinggi, sehingga memengaruhi biaya pakan ternak. Ia menegaskan bahwa pengelolaan stok bahan pangan harus dilakukan secara terpadu agar tidak menyebabkan kenaikan harga yang berlebihan.
Dalam sesi komunikasi dengan Direktur Utama Bulog, Zulhas meminta agar pengiriman jagung subsidi dilakukan secepat mungkin. Hal ini penting karena peningkatan harga pakan ternak bisa menyebabkan kenaikan harga telur dan produk olahan lainnya. Dengan menekan biaya bahan baku, peternak diharapkan bisa menjaga margin keuntungan mereka.
Kondisi Pasar dan Upaya Stabilisasi
Menurut Zulhas, pasar pangan saat ini masih stabil, meskipun terdapat tekanan harga di beberapa komoditas.
