Cak Imin komitmen benahi infrastruktur pesantren demi cegah pelecehan

Cak Imin komitmen benahi infrastruktur pesantren demi cegah pelecehan

Penulis: Setyanka Harviana Putri, Irfan Hardiansah, Rayyan, Ludmila Yusufin Diah Nastiti

Cak Imin komitmen benahi infrastruktur pesantren – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, yang akrab disapa Cak Imin, menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kualitas infrastruktur pesantren. Hal ini diungkapkan dalam wawancara di Jakarta pada Senin (18/5), sebagai bagian dari upaya mencegah pelecehan terhadap anak-anak di lingkungan pesantren. Menurut Cak Imin, perbaikan fasilitas fisik menjadi salah satu langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan terpercaya bagi para santri.

Pesantren, sebagai lembaga pendidikan keagamaan, seringkali menjadi tempat yang tidak hanya menawarkan ilmu agama tetapi juga menjadi ruang belajar untuk kehidupan sosial. Namun, di beberapa pesantren, kondisi infrastruktur yang kurang memadai dikaitkan dengan meningkatnya kasus kekerasan seksual. Cak Imin menyebutkan bahwa langkah ini bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya tindak pelecehan, khususnya terhadap santriwan dan santriwati yang rentan terhadap paparan perilaku tidak senonoh.

“Dengan memperbaiki infrastruktur, kita bisa menciptakan ruang belajar yang lebih nyaman dan aman. Fasilitas yang memadai, seperti sistem cahaya dan pengawasan, membantu mengurangi kejadian tindak pelecehan yang sering terjadi di tempat-tempat yang gelap dan sepi,” ujar Cak Imin dalam wawancara tersebut.

Pesantren di Indonesia memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda, tetapi di sisi lain, beberapa pesantren juga dikenal sebagai tempat terjadinya kasus kekerasan seksual. Cak Imin menjelaskan bahwa perbaikan infrastruktur bukan hanya sekadar memperindah tampilan, melainkan untuk menciptakan lingkungan yang mampu mendukung proses pendidikan secara menyeluruh. Ia menambahkan, infrastruktur yang memadai akan memastikan bahwa para santri dapat belajar tanpa merasa takut atau cemas.

Menurut Cak Imin, infrastruktur yang baik mencakup berbagai aspek, seperti penerangan yang cukup di area khusus, ruang belajar yang terbuka, serta fasilitas perpustakaan dan tempat ibadah yang nyaman. Selain itu, ia juga menggarisbawahi pentingnya akses ke air bersih dan tempat kesehatan di pesantren. “Jika infrastruktur tidak memadai, maka lingkungan belajar bisa menjadi sarana bagi kejadian-kejadian tidak menyenangkan,” katanya.

Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan PKB dalam memperkuat komitmen terhadap pendidikan dan perlindungan anak. Partai yang bergerak di bawah naungan NU ini telah mengusulkan berbagai program, termasuk pembangunan pesantren berbasis digital dan modern. Dalam upaya ini, Cak Imin berharap dapat melibatkan pihak-pihak terkait, seperti masyarakat sekitar, tokoh agama, dan pemerintah daerah, untuk bersama-sama memperbaiki kondisi di pesantren.

Cak Imin juga menyebutkan bahwa masalah pelecehan di pesantren sering kali berakar dari kurangnya pengawasan dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan seksual. “Jika pesantren memiliki sistem pengawasan yang baik, maka santri akan lebih terlindungi. Tidak hanya itu, mereka juga akan lebih mudah mengekspresikan kebutuhan dan hak mereka,” tuturnya.

Komitmen Cak Imin ini mendapat respons positif dari sejumlah pihak. Para santri yang hadir dalam wawancara tersebut menyebutkan bahwa perbaikan infrastruktur bisa menjadi bentuk kepedulian terhadap keamanan mereka. “Kita berharap, dengan adanya fasilitas yang lebih baik, pelecehan bisa berkurang secara signifikan,” kata salah satu peserta wawancara.

Dalam konteks ini, Cak Imin juga menyoroti peran pesantren dalam membangun masyarakat yang berakhlak baik. Ia berkeyakinan bahwa dengan lingkungan yang lebih nyaman, para santri akan lebih mudah mengakses informasi dan mengembangkan kehidupan sosial yang sehat. “Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga tempat belajar tentang kehidupan, termasuk cara berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain,” ujarnya.

Selain memperbaiki fasilitas fisik, Cak Imin juga menginginkan adanya perubahan dalam pola pengelolaan pesantren. Ia menyarankan adanya program pelatihan bagi pengasuh dan guru untuk meningkatkan kesadaran tentang tindak pelecehan. “Kita perlu melibatkan seluruh elemen, mulai dari pihak pengasuh hingga para santri, dalam mencegah pelecehan di pesantren,” tegasnya.

Menurut data yang dikeluarkan oleh organisasi perlindungan anak, sebanyak 30 persen dari kasus kekerasan seksual di Indonesia terjadi di lingkungan pesantren. Angka ini menunjukkan bahwa masalah pelecehan di pesantren bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan. Dengan adanya perbaikan infrastruktur, diharapkan akan ada penurunan signifikan dalam angka tersebut.

Cak Imin menekankan bahwa infrastruktur yang baik akan memberikan dampak jangka panjang pada kehidupan para santri. Ia menyebutkan bahwa pesantren yang nyaman dan aman akan menjadi tempat yang menarik bagi generasi muda untuk belajar dan berkembang. “Ini adalah investasi untuk masa depan bangsa kita. Dengan pesantren yang lebih baik, kita bisa menciptakan generasi yang lebih baik pula,” katanya.

Program perbaikan infrastruktur ini juga diharapkan menjadi contoh bagi pesantren-pesantren lain yang belum memiliki fasilitas memadai. Cak Imin berpandangan bahwa pemerintah daerah dan pihak swasta harus berkolaborasi untuk mewujudkan hal ini. “Kerja sama yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan pesantren sendiri adalah kunci suksesnya program ini,” ujarnya.

Dalam wawancara tersebut, Cak Imin juga menyampaikan harapannya bahwa perbaikan infrastruktur ini bisa menjadi bagian dari upaya nasional dalam memerangi kekerasan seksual. I