Solving Problems: Perluas produksi, Sumedang kembangkan ubi Cilembu via kultur jaringan

Perluas produksi, Sumedang kembangkan ubi Cilembu via kultur jaringan

Solving Problems – Sumedang, Jawa Barat – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumedang sedang berupaya meningkatkan produksi ubi Cilembu sebagai komoditas unggulan daerah. Inovasi kultur jaringan menjadi salah satu strategi yang diterapkan untuk mengembangkan tanaman ini secara lebih luas dan meningkatkan daya saing di pasar. Kepala DKPP Sumedang Tono Suhartono, dalam wawancara di Sumedang, Senin, menjelaskan bahwa pengembangan ubi Cilembu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari proses penanaman hingga pemasaran. “Kami terus mendorong pengembangan ubi Cilembu di sektor hulu melalui teknologi kultur jaringan, serta memperkuat hilirisasi agar bisa memperluas produksi sekaligus memastikan kompetitivitas di pasar,” ujarnya.

Tono menekankan bahwa ubi Cilembu memiliki ciri khas yang membedakannya dari ubi jalar lainnya. Terutama setelah dipanggang, tanaman ini menghasilkan rasa manis yang menyerupai madu. “Rasa manis alami tersebut menjadi nilai tambah yang membuat ubi Cilembu diminati oleh konsumen,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa karakteristik ini berpotensi besar untuk mendorong ekspor dan pengembangan pasar internasional. Tono berharap melalui pengembangan teknologi, ubi Cilembu bisa menjadi produk yang diakui secara global.

Menurut Tono, penerapan kultur jaringan memungkinkan pengembangan budidaya ubi Cilembu tanpa bergantung sepenuhnya pada kondisi tanah asli di Desa Cilembu. Teknologi ini membantu menghasilkan bibit yang lebih konsisten dan tahan terhadap berbagai faktor lingkungan. “Uji coba kultur jaringan telah dilakukan di sejumlah wilayah dengan melibatkan kelompok tani serta aparat setempat,” tambahnya. Hasil uji coba tersebut menunjukkan bahwa penanaman di 26 titik kerja sama telah mencapai sekitar 5.000 bibit. Proses ini diharapkan mampu mempercepat penyebaran ubi Cilembu ke area lain yang lebih luas.

Sentra produksi ubi Cilembu di Kabupaten Sumedang terdapat di empat kecamatan utama, yakni Pamulihan, Rancakalong, Tanjungsari, dan Sukasari. Total luas lahan yang digunakan untuk budidaya mencapai lebih dari 462 hektare. Namun, Desa Cilembu sebagai asal ubi ini hanya memiliki sekitar 229 hektare lahan, dengan produksi rata-rata mencapai 1.600 hingga 1.900 ton per tahun. Tono menyebutkan bahwa produktivitas ubi Cilembu di Sumedang berkisar antara 15 hingga 20 ton per hektare. Dalam kondisi optimal, angka ini bisa mencapai 40 ton per hektare, yang tentu saja memberikan dampak signifikan bagi pendapatan petani.

Tantangan dalam Pengembangan Ubi Cilembu

Walau memiliki potensi besar, pengembangan ubi Cilembu masih menghadapi beberapa hambatan. Tono menjelaskan bahwa salah satu tantangan utamanya adalah ketergantungan pada kondisi tanah tertentu. “Ketidakstabilan cuaca juga memengaruhi fluktuasi produksi,” kata Tono. Ia menambahkan bahwa permintaan pasar yang terus meningkat memaksa pihaknya untuk menjaga kontinuitas produksi. “Permintaan untuk produk olahan dan ekspor mencapai 12 hingga 40 ton per bulan, sehingga keberlanjutan produksi menjadi faktor kunci dalam pengembangan ini,” ujarnya.

Dalam upayanya menjamin pasokan yang cukup, DKPP Sumedang terus melakukan pengoptimalan teknologi. Selain itu, pihaknya juga berupaya mengembangkan industri kecil dan menengah (UMKM) untuk memanfaatkan ubi Cilembu secara lebih luas. “Salah satu inovasi yang sedang dijajaki adalah pengolahan ubi Cilembu menjadi bakpia tanpa tambahan gula, karena rasa manis alaminya sudah cukup menggugah selera,” kata Tono. Ia menegaskan bahwa ubi Cilembu tidak hanya bisa digunakan sebagai bahan baku makanan tradisional, tetapi juga bisa diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Kompetitivitas Pasar dan Harapan Masa Depan

Menurut Tono, kultur jaringan berperan penting dalam menjaga kualitas dan konsistensi ubi Cilembu. Teknologi ini memungkinkan penghasilan bibit yang lebih cepat dan efisien, sehingga mampu menekan biaya produksi serta meningkatkan keberlanjutan pertanian. “Kami percaya teknologi ini akan menjadi kunci untuk menjangkau pasar lebih luas,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa pengembangan ubi Cilembu diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat sekitar, terutama petani yang mengandalkan hasil tanaman ini sebagai sumber penghasilan utama.

Pengolahan ubi Cilembu menjadi berbagai produk, seperti bakpia, mengurangi risiko risiko penyimpanan dan menjaga nilai ekonomi. Tono menjelaskan bahwa keunikan rasa manis ubi Cilembu bisa dimanfaatkan untuk menciptakan produk yang berbeda dari ubi jalar lainnya. “Pengembangan ini juga bertujuan menjadikan ubi Cilembu sebagai komoditas unggulan berkelanjutan yang bisa mendukung perekonomian daerah,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pihaknya sedang berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memperluas peluang ekspor dan menjaga kualitas produk.

Dengan pengembangan berkelanjutan, DKPP Sumedang berharap bisa meningkatkan kuantitas produksi sekaligus memperluas basis konsumen. Tono menegaskan bahwa penggunaan kultur jaringan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada kondisi tanah, tetapi juga meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit. “Dengan teknologi ini, kita bisa menghasilkan ubi Cilembu yang lebih ku