Topics Covered: IHSG berpotensi melemah dipicu “profit taking” jelang libur panjang
IHSG Berpotensi Melemah Akibat Aksi Profit Taking Sebelum Libur Panjang
Topics Covered – Jakarta, Rabu (29/04/2026) – Pasar saham Indonesia kembali memperlihatkan fluktuasi dalam beberapa hari terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan akan mengalami penurunan pada Kamis, dipengaruhi oleh fenomena aksi ambil untung (profit taking) yang terjadi menjelang libur panjang akhir pekan. Meski IHSG dibuka dengan peningkatan 2,03 poin atau 0,03 persen ke level 7.103,26, kecenderungan melemah tampak jelas seiring pelaku pasar mengambil langkah untuk mengunci keuntungan sebelum pasar tutup. Sementara itu, Indeks LQ45, yang mencakup 45 saham unggulan, mengalami penurunan 0,50 poin atau 0,07 persen ke 683,64.
“Berdasarkan analisis teknis, IHSG berpotensi mencapai penurunan terbatas dengan level support dan resistance di sekitar 7.000–7.325,” jelas Nico, Associate Director of Research and Investment di Pilarmas Investindo Sekuritas.
Dari perspektif internasional, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed memutuskan untuk tetap menjaga suku bunga di tingkat 3,5–3,75 persen. Namun, muncul perbedaan pandangan antara para pejabat The Fed, terutama terkait dengan pengaruh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah terhadap kebijakan moneter mereka. Ketua The Fed, Jerome Powell, menyatakan bahwa dirinya akan tetap berada di dalam dewan tersebut, tetapi hanya dalam kapasitas Dewan Gubernur. Powell juga menegaskan bahwa ia tidak akan meninggalkan posisinya hingga semua investigasi terkait kebijakan The Fed selesai secara transparan dan menyeluruh.
Di sisi lain, pertemuan kali ini menjadi pertemuan terakhir Powell sebagai pemimpin rapat The Fed. Setelahnya, kekuasaan tersebut akan bergeser ke Kevin Warsh, yang telah menerima persetujuan dari Senat AS untuk mengisi jabatan tersebut. Pelaku pasar masih menunggu rilis data inflasi PCE Prices bulan Maret 2026, di mana angka yang diharapkan naik ke level 3,3 persen dari 2,8 persen sebelumnya pada Februari 2026. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal pertama 2026 diperkirakan meningkat dari 0,5 persen (qoq) menjadi 1,5 persen.
Pertimbangan dari Eropa
Dari kawasan Eropa, analis pasar memantau berbagai indikator ekonomi, termasuk data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama 2026, tingkat inflasi, pengangguran, dan hasil rapat Europan Central Bank (ECB). Berdasarkan konsensus, ECB diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di tingkat 2,15 persen. Hal ini sejalan dengan keputusan Bank of England (BoE) yang juga diharapkan tetap mengawasi suku bunga di 3,75 persen.
Perdagangan Saham dalam Negeri
Dalam negeri, aktivitas perdagangan saham akan berlangsung selama empat hari pekan ini, karena hari Jumat, 1 Mei 2026, menjadi hari libur Buruh Internasional (May Day). Libur panjang akhir pekan Sabtu dan Minggu juga memengaruhi volatilitas pasar. Pemerintah Indonesia, melalui Presiden Prabowo Subianto, menggencarkan rencana percepatan pembentukan Koperasi Merah Putih (KDMP) sebagai bagian dari upaya meningkatkan perekonomian desa.
Dalam jangka pendek, sekitar 1.000 koperasi akan diresmikan, diikuti lebih dari 25.000 koperasi dalam beberapa bulan ke depan. Target akhirnya adalah mencapai sekitar 80.000 unit koperasi di seluruh wilayah Indonesia. Program ini dirancang berbasis aset fisik, seperti gudang, cold storage, gerai, dan kendaraan, untuk langsung berdampak pada perekonomian lokal, bukan hanya administratif. Nico menilai bahwa inisiatif ini memiliki skala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Koperasi tersebut diperkirakan akan menyerap sekitar 18 tenaga kerja per unit, sehingga berpotensi menciptakan lapangan kerja yang luas. Selain itu, program ini terintegrasi dengan inisiatif makan bergizi gratis, sehingga membantu menstabilkan permintaan terhadap produk lokal. “Kami menilai secara keseluruhan, program ini bertujuan mengalihkan aliran ekonomi agar lebih banyak dinikmati oleh masyarakat dalam negeri,” tambah Nico.
Performa Pasar Global
Pada hari Rabu (29/04), bursa saham Eropa secara umum mengalami penurunan. Euro Stoxx 50 turun 0,39 persen, FTSE 100 Inggris mengalami penurunan 1,16 persen, DAX Jerman melemah 0,27 persen, serta CAC 40 Prancis turun 0,39 persen. Sementara itu, bursa AS Wall Street ditutup dengan pergerakan yang bervariasi. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,57 persen ke 48.861,81, S&P 500 mengalami penurunan tipis 0,04 persen ke 7.135,95, sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,58 persen ke 27.186,99.
Di Asia, beberapa bursa mengalami perubahan berbeda. Indeks Nikkei melemah 656,96 poin atau 1,10 persen ke 59.260,50. Sementara itu, Indeks Shanghai menguat 8,06 poin atau 0,20 persen ke 4.115,58. Hang Seng di Hong Kong turun 159,34 poin atau 0,61 persen ke 25.952,50, dan Indeks Strait Times di Singapura naik 36,54 poin atau 0,75 persen ke 4.897,51. Perubahan tersebut mencerminkan dinamika pasar global yang terus bergerak di tengah berbagai faktor eksternal.
Kebijakan moneter internasional, termasuk keputusan The Fed dan ECB, menjadi salah satu pendorong utama pergerakan IHSG. Meski suku bunga di AS tetap stabil, perbedaan pandangan di dalam dewan memengaruhi ekspektasi investor. Sementara itu, dari Eropa, pencermatan terhadap data ekonomi akan menjadi acuan utama bagi keputusan b
