New Policy: BNC bukukan laba Rp136,98 miliar pada kuartal I-2026
Laba BNC Naik di Kuartal I-2026
New Policy – Jakarta, 3 April 2026 – PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) mencatatkan laba sebesar Rp136,98 miliar pada periode kuartal pertama tahun ini. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya dan menjadi bukti perbaikan kinerja keuangan perusahaan. Direktur Utama BNC, Eri Budiono, mengungkapkan bahwa pencapaian ini dipengaruhi oleh strategi perusahaan untuk memperkuat posisi di pasar. “Kami terus berupaya mempertahankan tren kinerja positif, yang terbukti dengan laba Rp136,98 miliar yang berhasil kami catatkan di kuartal pertama 2026,” jelas Eri dalam keterangan tertulis yang dirilis Rabu lalu.
Peningkatan Dana Murah dan Strategi Pembiayaan
Dari segi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) BNC mencapai Rp13,42 triliun per 31 Maret 2026, mengalami penurunan 1,97 persen dibandingkan Rp13,69 triliun pada kuartal I-2025. Namun, terjadi kenaikan signifikan pada tabungan nasabah, yang mencapai Rp3,50 triliun, naik 8,62 persen dari Rp3,22 triliun sebelumnya. Di sisi lain, deposito tercatat sebesar Rp9,35 triliun, turun 2,18 persen dari Rp9,56 triliun di kuartal yang sama tahun lalu. “Peningkatan tabungan menunjukkan kepercayaan nasabah terhadap layanan kami, sementara penurunan deposito diimbangi dengan strategi pengelolaan dana yang lebih efisien,” tambah Eri.
Penyaluran Kredit dan Pengendalian Risiko
Bagian dari upaya ini adalah peningkatan komposisi dana murah melalui pengembangan kapabilitas transaksi. Hal ini memicu rasio current account and saving account (CASA) yang mencapai 30,34 persen akhir kuartal I. Meski demikian, penyaluran kredit BNC mengalami penurunan 17,24 persen, dari Rp8,49 triliun pada kuartal I-2025 menjadi Rp7,03 triliun di kuartal I-2026. Angka tersebut sejalan dengan upaya bank untuk mengurangi risiko kredit yang diukur melalui rasio non performing loan (NPL) neto yang tetap berada di level 0,43 persen.
Pertumbuhan Aset dan Efisiensi Operasional
Kinerja BNC juga mencerminkan peningkatan total aset, yang mencapai Rp18,34 triliun per 31 Maret 2026, naik 0,94 persen dari Rp18,17 triliun di kuartal I-2025. Di sisi efisiensi, rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) tercatat 83,68 persen, sedangkan rasio cost to income (CIR) sebesar 32,93 persen. Net interest margin (NIM) berada di angka 13,50 persen, menunjukkan daya saing dalam mengelola dana. “Rasio kecukupan modal (CAR) kami meningkat drastis menjadi 50,60 persen, dibandingkan 35,81 persen tahun sebelumnya, yang didorong oleh pertumbuhan laba bersih,” lanjut Eri.
Tren Positif yang Berkelanjutan
Menurut Eri Budiono, tren positif ini akan terus dipertahankan di tahun 2026. “Kami optimistis bisa menjaga momentum kinerja yang baik sepanjang tahun ini, sekaligus memperkuat pencapaian dua tahun terakhir,” ungkapnya. Strategi perusahaan mencakup peningkatan layanan keuangan, khususnya dalam memperluas akses pembiayaan bagi nasabah. Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) yang akan diluncurkan dalam tahun ini diharapkan menjadi alat untuk meningkatkan volume transaksi dan daya tarik pasar.
Penyertakan ke Indeks Economic 30y
Seiring dengan kinerja yang stabil, BNC juga mencatatkan kemajuan di sektor pasar modal. Saham BBYB, yang menjadi bagian dari BNC, resmi terdaftar sebagai anggota baru Indeks Economic 30y sejak 2 Maret 2026. “Pengakuan BBYB dalam indeks tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap pertumbuhan dan prospek perusahaan, yang terus menunjukkan hasil keuangan dan bisnis yang meyakinkan,” jelas Eri. Hal ini memperkuat posisi BNC sebagai salah satu institusi keuangan yang diakui secara nasional.
Komitmen Peningkatan Layanan
BNC menegaskan komitmen untuk memperbaiki kualitas layanan kepada nasabah. Dalam catatan tertulis, Eri menekankan bahwa pengembangan BNPL adalah bagian dari upaya untuk memperluas akses pembiayaan, terutama bagi kalangan yang memiliki kebutuhan finansial berjangka. “Layanan ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas lebih dalam pemanfaatan dana, sambil memastikan keberlanjutan bisnis,” kata Eri. Selain itu, perusahaan juga terus meningkatkan sistem digital dan keamanan transaksi sebagai bagian dari adaptasi terhadap perubahan kebiasaan konsumen.
Analisis Kinerja Operasional
Dari segi keuangan, laba yang diperoleh BNC tidak hanya meningkatkan CAR tetapi juga memberikan stabilitas bagi operasional perusahaan. Rasio CAR yang mencapai 50,60 persen mencerminkan kemampuan bank dalam mengelola risiko dan memenuhi persyaratan regulasi. Dengan tingkat NPL neto yang tetap di bawah 0,5 persen, BNC menunjukkan efektivitas dalam mengendalikan kualitas kredit. “Kami memantau secara ketat dinamika pasar dan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dana serta efisiensi operasional,” pungkas Eri.
Prospek di Tahun 2026
Eri Budiono memproyeksikan bahwa BNC akan terus mengoptimalkan strategi jangka panjang untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan. “Kami siap meny
