Balai Karantina NTB lepasliarkan ribuan ekor burung ke TWA Suranadi

Balai Karantina NTB Lepasliarkan Ratusan Burung ke TWA Suranadi

Balai Karantina NTB lepasliarkan ribuan ekor – Mataram – Sebanyak 1.392 ekor burung yang telah disita dari kegiatan perdagangan ilegal berhasil dilepasliarkan ke alam liar Taman Wisata Alam (TWA) Suranadi, Kabupaten Lombok Barat. Penyelamatan dan pelepasan satwa-satwa tersebut dilakukan oleh Balai Karantina Nusa Tenggara Barat (NTB) bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB pada 15 Mei 2026. Upaya ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan ekosistem serta melestarikan keanekaragaman hayati di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Kemitraan Lintas Instansi untuk Konservasi Burung

Dalam pernyataannya di Mataram, Sabtu, Kepala Balai Karantina NTB, Ina Soelistyani, menjelaskan bahwa pelepasliaran burung-burung tersebut adalah langkah strategis pemerintah dalam menjaga kelestarian satwa liar di NTB. “Tujuan utamanya adalah memastikan burung-burung ini dapat kembali hidup secara alami, beradaptasi dengan lingkungan aslinya, serta menjaga keseimbangan ekosistem,” ujarnya.

“Dengan kembali ke habitatnya, burung-burung ini bisa berkembang biak dan berkontribusi pada menjaga keanekaragaman hayati serta sumber daya alam di NTB,” tutur Ina.

Pelepasan burung dilakukan sebagai bentuk penyelesaian dari kasus perdagangan satwa liar yang tidak memiliki dokumen resmi dan tidak terawasi oleh instansi karantina. Menurut Ina, burung-burung tersebut sebelumnya diamankan di Bali karena dilalulintaskan secara ilegal. “Kami bersama BKSDA berkomitmen untuk memastikan satwa liar tetap berada di habitatnya, karena perdagangan ilegal bisa merusak ekosistem dan membawa risiko penyebaran penyakit hewan,” tambahnya.

Jenis Burung yang Dilepasliarkan dan Signifikansinya

Sebagai bagian dari upaya penyelamatan, ribuan burung yang dilepasliarkan mencakup berbagai spesies seperti pleci kacamata, pleci walacea, prenjak kepala merah, ciblek, kopyor jambul, cabe-cabean, cendet, burung madu kumbang, dan kepodang. Setiap spesies memiliki peran penting dalam ekosistem TWA Suranadi, yang menjadi salah satu area konservasi penting di NTB.

Burung-burung ini dikenal sebagai satwa yang sering terlibat dalam perdagangan ilegal karena nilai ekonominya tinggi. Dengan dilepaskan kembali, mereka dapat membantu memulihkan populasi lokal dan mengurangi tekanan pada habitat mereka. TWA Suranadi, yang terletak di Kecamatan Narmada, menjadi tempat ideal untuk memulihkan keberlanjutan satwa liar tersebut.

Risiko Perdagangan Ilegal dan Langkah Pemerintah

Ina Soelistyani menegaskan bahwa lalu lintas satwa liar ilegal sangat berisiko terhadap keseimbangan ekosistem. “Tidak adanya pengawasan dan jaminan kesehatan membuat satwa yang dilepas bisa membawa penyakit atau mengganggu lingkungan tujuan,” ujarnya.

Menurutnya, pengawasan terhadap perdagangan satwa liar harus ditingkatkan agar tidak terjadi penyebaran penyakit atau kerusakan ekosistem. “Kami harap masyarakat lebih sadar untuk melaporkan kegiatan yang melibatkan satwa liar, agar kita bisa memberikan perlindungan maksimal,” tambah Ina.

Dalam rangka mencegah praktik perdagangan ilegal, Balai Karantina NTB dan BKSDA NTB telah menetapkan protokol pengawasan yang ketat. TWA Suranadi, dengan luas area yang cukup, menjadi pilihan lokasi strategis untuk melepasliarkan burung-burung yang dipulihkan dari kegiatan illegal. Selain itu, pemerintah juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya konservasi satwa liar, termasuk dampak negatif jika satwa dilepaskan tanpa perlindungan.

Kolaborasi dalam Menjaga Kelestarian Ekosistem

Kepala Seksi BKSDA Wilayah I Lombok, Bambang Dwidarto, mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin antara Balai Karantina dan BKSDA. “Kemitraan ini menjadi kunci sukses dalam upaya menjaga keberlanjutan satwa liar di NTB, terutama dalam menekan praktik perdagangan ilegal,” ujarnya.

Bambang menjelaskan bahwa kolaborasi lintas instansi memungkinkan pengawasan yang lebih efektif. “Dengan kombinasi kekuatan Balai Karantina dan BKSDA, kita bisa memastikan setiap satwa yang dilepas memiliki kesehatan optimal dan tidak mengganggu ekosistem sekitar,” katanya.

Pelepasan burung-burung ini juga diharapkan menjadi contoh terbaik dalam upaya konservasi satwa liar. Bambang menyebutkan bahwa konservasi perlu dilakukan secara terus-menerus, baik melalui regulasi ketat maupun kampanye edukasi. “Dengan keterlibatan masyarakat, kita bisa membentuk lingkaran perlindungan yang lebih luas,” imbuhnya.

Imbauan untuk Masyarakat dan Prospek Masa Depan

Sebagai bagian dari upaya mencegah perdagangan satwa liar, Balai Karantina NTB mengimbau masyarakat untuk melaporkan kegiatan melalulintaskan satwa kepada pihak berwenang. “Melalui pelaporan awal, kami bisa memberikan jaminan kesehatan dan menghindari penyebaran penyakit ke wilayah lain,” ujarnya.

Ina juga mengatakan bahwa keberhasilan pelepasan ini akan terus diukur melalui pemantauan jangka panjang. “Kami akan memastikan burung-burung ini beradaptasi dengan baik dan tidak mengalami gangguan setelah dilepas,” jelasnya.

TWA Suranadi, dengan kekayaan biodiversitasnya, menjadi titik fokus dalam rencana konservasi yang lebih luas. Area ini dikenal sebagai tempat tinggal berbagai spesies burung langka dan terancam punah. Dengan melepasliarkan ribuan burung, pemerintah mencoba memperkuat upaya penyelamatan lingkungan dan memastikan ekosistem tetap seimbang.

Menurut Ina, keberhasilan pelepasliaran ini juga bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. “Masyarakat perlu menyadari bahwa setiap satwa liar memiliki nilai yang tinggi, dan pelepasan ilegal bisa berdampak besar terhadap keberlanjutan ekosistem,” katanya.

Perdagangan satwa liar ilegal sering kali terjadi karena adanya kebutuhan pasar yang tinggi, terutama di kota besar. Banyak burung langka dipulangkan ke daerah asal mereka untuk menjaga populasi, sementara yang lain dibiarkan berkembang biak di habitat alami. Upaya ini juga sejalan dengan peraturan perlindungan lingkungan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan daerah.

Proses pelepasliaran dilakukan dengan langkah-langkah yang terencana, termasuk pemeriksaan kesehatan satwa, pengukuran kondisi lingkungan, dan pemantauan terhadap keberhasilan adaptasi burung. “Setelah dilepas, kami akan terus memantau untuk memastikan ekosistem tetap seimbang,” tambah Ina.

Dengan kerja sama yang terus berlanjut, diharapkan praktik perdagangan ilegal akan ber