Main Agenda: Sulteng perkuat literasi keuangan untuk generasi muda

Sulteng perkuat literasi keuangan untuk generasi muda

Main Agenda – Dalam upaya meningkatkan kesadaran keuangan generasi muda di Sulawesi Tengah, Pemerintah Kota Palu dan Hanna Asa Indonesia memperkuat kerja sama untuk memperluas akses edukasi literasi dan inklusi keuangan. Pertemuan antara perwakilan pemerintah dan pendiri lembaga edukasi tersebut mengupas strategi kolaborasi dalam menghadapi tantangan ekonomi yang kian kompleks. Keberhasilan program ini diharapkan mampu menjadi langkah penting dalam membentuk generasi yang lebih mandiri dan berpengetahuan.

Langkah Bersama Membangun Kemandirian

Kerja sama yang diperkuat ini fokus pada upaya meningkatkan kapasitas masyarakat muda dalam mengelola keuangan pribadi dan mengurangi risiko keterlibatan dalam pinjaman online ilegal. Pemimpin organisasi Hanna Asa Indonesia, Mardiyah, mengatakan bahwa dukungan dari Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, menjadi faktor kunci dalam mengembangkan program edukasi ini. “Pak Wali Kota sangat antusias. Kami telah berkomunikasi intens selama dua tahun terakhir, dan kehadirannya hari ini membuktikan komitmen untuk mendorong perubahan positif,” tuturnya setelah bertemu dengan wali kota di Palu, Senin.

“Pertemuan hari ini juga terkait agenda kegiatan kami di Jakarta pada 12 Juni 2026, kemudian dalam waktu dekat kami akan melaksanakan Smart Financial Journey,” tambah Mardiyah.

Program Smart Financial Journey yang direncanakan akan melibatkan ratusan anak muda di Sulawesi Tengah. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan praktis tentang pengelolaan keuangan, termasuk cara mengatur pengeluaran, menyusun anggaran, dan membangun dana darurat. Mardiyah menekankan bahwa kesadaran finansial harus dibangun sejak dini agar masyarakat muda mampu menghadapi dinamika ekonomi yang kian rumit.

Survei Menunjukkan Potensi dan Kesenjangan

Dalam diskusi, Mardiyah juga mengungkapkan hasil survei terkini dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025. Survei tersebut menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 66,46 persen, sementara inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Meski angka tersebut menunjukkan kemajuan, Mardiyah menyebut masih ada kesenjangan yang signifikan pada kalangan generasi muda.

“Masih banyak pemuda yang menghadapi masalah finansial, seperti pendapatan yang tidak stabil, kurangnya pengetahuan tentang dana darurat, dan risiko terjebak dalam pinjaman online ilegal,” jelasnya.

Menurut Mardiyah, tantangan tersebut bisa diatasi melalui pendekatan edukasi yang menyentuh langsung. Kegiatan Smart Financial Journey akan disampaikan secara tatap muka, tetapi juga direncanakan disiarkan melalui media sosial agar lebih banyak orang bisa mengaksesnya. “Media digital menjadi sarana efektif untuk menjangkau masyarakat yang mungkin terbatasi aksesnya ke layanan edukasi tradisional,” tambahnya.

Perspektif Pemimpin Kota Palu

Hadianto Rasyid, Wali Kota Palu, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai bahwa literasi keuangan adalah fondasi penting dalam mengembangkan sumber daya manusia yang produktif dan mandiri. “Dengan pemahaman yang baik tentang keuangan, generasi muda bisa membuat keputusan yang lebih bijak dalam pengelolaan dana, baik untuk kebutuhan pribadi maupun investasi jangka panjang,” kata Rasyid dalam pertemuan tersebut.

Kolaborasi ini juga diharapkan menjadi contoh bagi daerah-daerah lain di Indonesia Timur. Hadianto Rasyid menegaskan bahwa edukasi keuangan yang berkelanjutan perlu menjadi prioritas, terutama di tengah krisis ekonomi yang masih terus berlangsung. Ia menyebutkan bahwa pemerintah akan terus mendukung kegiatan serupa, termasuk menyediakan dana dan sumber daya untuk memperluas cakupan peserta.

Strategi untuk Membentuk Generasi Maju

Mardiyah menekankan bahwa program ini tidak hanya mengedukasi, tetapi juga memberikan latihan praktis. Dalam kegiatan Smart Financial Journey, peserta akan belajar tentang prinsip dasar keuangan, seperti mengatur pengeluaran, menyusun anggaran, dan mengenali produk keuangan yang aman. “Kami juga melibatkan berbagai mitra untuk memastikan materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal,” tuturnya.

Selain itu, kegiatan ini akan dilaksanakan secara bertahap, mulai dari pelatihan dasar hingga workshop lanjutan. Mardiyah menyebut bahwa adaptasi metode pembelajaran dengan era digital menjadi kunci untuk memastikan partisipasi maksimal. “Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi pengalaman yang bermakna, bukan hanya sekadar seminar biasa,” imbuhnya.

Kerja sama antara pemerintah dan lembaga edukasi ini juga diharapkan memperkuat kemitrahan di bidang keuangan. Dengan memadukan sumber daya pemerintah dan organisasi nirlaba, program ini bisa menciptakan ekosistem yang lebih inklusif. Mardiyah menegaskan bahwa partisipasi masyarakat muda akan menjadi barometer keberhasilan program ini.

Harapan untuk Menjadi Kota Contoh

Kepala program Hanna Asa Indonesia mengatakan bahwa keberhasilan di Sulawesi Tengah bisa menjadi contoh untuk daerah lain. “Kota Palu ingin menjadi model kota di Indonesia Timur yang kompeten dalam menyebarkan pengetahuan keuangan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa program ini juga akan mencakup pelatihan untuk orang tua dan pendidik, agar mereka bisa mendukung anak muda dalam pembelajaran finansial sejak dini.

Menurut Mardiyah, ada tiga pilar utama dalam program ini: pendidikan keuangan dasar, penguatan inklusi, dan kolaborasi lintas sektor. “Dengan pendekatan komprehensif, kita bisa memastikan bahwa masyarakat muda tidak hanya paham tentang uang, tetapi juga bisa mengelolanya secara bijaksana,” paparnya. Ia juga berharap program ini bisa menjangkau anak-anak usia 12 hingga 25 tahun, yang merupakan usia kritis dalam membentuk pola keuangan.

Kelompok usia muda yang menjadi sasaran program ini diperkirakan jumlahnya mencapai 3 juta orang di Sulawesi Tengah. Mardiyah menjelaskan bahwa target utama adalah meningkatkan kebiasaan menyimpan dan berinvestasi, yang sejauh ini masih rendah di kalangan pemuda. “Kami juga menggali potensi lokal, seperti menggandeng pelaku usaha kecil dan komunitas remaja untuk menjadi bagian dari pengembangan literasi keuangan,” katanya.

Dalam konteks itu, kegiatan Smart Financial Journey diharapkan bisa menjadi acara yang memperkuat keterlibatan masyarakat. Pemuda yang terlibat akan diberikan alat-alat praktis, seperti aplikasi pengelolaan keuangan, buku panduan, dan seminar tentang manajemen risiko. “Kami ingin masyarakat tidak hanya belajar, tetapi juga langsung mengaplikasikan pengetahuan yang didapat,” jelas Mardiyah. Ia juga menyebutkan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada keterlibatan aktif partisipan dan kesinambungan dari p