PWRI dorong lansia berdaya lewat peran sosial dalam komunitas

PWRI Dorong Lansia Tetap Berdaya Melalui Peran Sosial di Komunitas

PWRI dorong lansia berdaya lewat peran – Jakarta – Sebagai wadah organisasi yang menggabungkan para pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) terus berupaya memperkuat peran lansia dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Dalam acara Perayaan Paskah PWRI 2026 di Jakarta, Sabtu, Andreas Anugerah, pengurus PWRI, menekankan pentingnya menggali potensi lansia agar tetap menjadi bagian aktif dari masyarakat. Menurutnya, lansia tidak boleh hanya dilihat sebagai kelompok usia rentan, tetapi harus diakui sebagai penyangga moral, teladan, serta sumber dorongan bagi generasi muda.

Potensi Lansia dalam Komunitas

Andreas mengungkapkan bahwa PWRI berkomitmen untuk membangun kesadaran bahwa lansia bisa tetap produktif melalui partisipasi sosial. “Kita ingin bergerak melalui komunitas. Di Jepang, misalnya, lansia dihargai karena pengalaman dan kedewasaannya. Mereka tetap merasa punya tanggung jawab untuk memajukan negaranya,” jelasnya. Dalam konteks lokal, ia menyebut adanya kelompok-kelompok seperti pengajian di komunitas Muslim dan kegiatan ibadah di gereja yang bisa menjadi media untuk membangun keterlibatan lansia.

“Di Jepang, lansia dihargai karena pengalaman dan kedewasaannya. Mereka tetap merasa punya tanggung jawab untuk memajukan negaranya,” ujar Andreas.

Dalam wawancara tersebut, Andreas juga menyoroti bahwa budaya Jepang memberikan contoh bagus tentang pengakuan terhadap peran lansia. Ia mengatakan bahwa hal ini membuat lansia di sana tidak hanya mengisi peran kecil, tetapi juga tetap dihormati sebagai bagian penting dari kehidupan sosial. “Penghormatan terhadap senior membuat lansia di negara tersebut tetap aktif dan mandiri,” tambahnya.

Peran Spiritual dalam Pembangunan

Meski usia terus bertambah, Andreas percaya bahwa lansia tetap bisa menjadi sumber doa dan inspirasi. “Kita mungkin sudah tidak bisa banyak berbuat secara fisik, tetapi doa orang tua untuk anak-anaknya tetap penting,” kata Andreas. Ia menekankan bahwa keimanan tidak berkaitan dengan usia, tetapi lebih pada kedewasaan spiritual. “Umur boleh tua terus, tetapi imannya tetap sama. Saya sendiri baru di usia 76 tahun, merasa firman Tuhan itu nyata,” ujar dia.

“Umur boleh tua terus, tetapi imannya tetap sama. Saya sendiri baru di usia 76 tahun, merasa firman Tuhan itu nyata,” paparnya.

Andreas juga mengungkapkan bahwa banyak lansia merasa telah cukup matang secara spiritual, sehingga enggan menerima perubahan dalam kehidupan rohani mereka. “Kedewasaan iman tidak selalu berkaitan dengan usia. Banyak lansia merasa diperbarui meski usianya semakin bertambah,” tambahnya. Ia menyarankan bahwa lansia perlu terus diberdayakan agar tidak hanya dilihat sebagai anggota kelompok usia tua, tetapi juga sebagai bagian dari solusi dalam pembangunan masyarakat.

Perkembangan Perhatian Pemerintah

Kebijakan pemerintah terhadap lansia kini telah mengalami kemajuan, kata Andreas. Namun, menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana seluruh elemen masyarakat bersama-sama mengajak lansia untuk tetap berpartisipasi. “Pemerintah memberikan perhatian yang lebih baik, tetapi kita harus memastikan bahwa kesadaran kolektif masyarakat terbangun bahwa lansia bisa tetap berdaya,” jelasnya.

Andreas menekankan bahwa kesadaran ini bisa tercipta melalui kegiatan seperti Perayaan Paskah PWRI yang berlangsung di Jakarta. “Melalui acara seperti ini, lansia bisa melibatkan diri dalam kehidupan komunitas. Mereka tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga aktif dalam memberikan kontribusi,” katanya. Ia juga menyoroti bahwa PWRI berupaya membangun kolaborasi antara lansia dan masyarakat luas agar peran mereka tidak hanya terbatas pada aspek fisik, tetapi juga spiritual dan sosial.

Organisasi dan Visi PWRI

Dalam penjelasannya, Andreas menyebut bahwa PWRI berdiri sebagai wadah tunggal untuk para pensiunan PNS, BUMN, dan BUMD. “PWRI bertujuan menciptakan ruang bagi lansia untuk tetap aktif, baik melalui kegiatan ekonomi, budaya, maupun keagamaan,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa organisasi ini tidak hanya berfokus pada kebutuhan material lansia, tetapi juga pada pengembangan potensi mereka untuk menjadi pelaku utama dalam dinamika sosial.

Menurut Andreas, peran sosial lansia perlu didukung secara sistematis. “Lansia memiliki pengalaman hidup yang luas, dan itu bisa menjadi fondasi untuk menciptakan solusi bagi tantangan masyarakat saat ini,” katanya. Ia menambahkan bahwa dengan tetap terlibat dalam kegiatan komunitas, lansia bisa menjaga keterhubungan dengan lingkungan sekitar, sehingga tidak hanya menjadi sumber kekuatan spiritual, tetapi juga penyokong kebijakan sosial yang lebih inklusif.

Pembangunan Kesadaran Masyarakat

Andreas berharap masyarakat secara umum dapat memahami bahwa lansia bukan hanya orang yang perlu dijaga, tetapi juga bagian dari perubahan positif. “Lansia bisa menjadi pilar masyarakat yang tangguh. Mereka tidak kehilangan arti kehidupan, bahkan bisa menjadi penyeimbang bagi generasi muda,” paparnya. Ia menyoroti bahwa kegiatan seperti Perayaan Paskah PWRI bukan hanya ajang pengenalan, tetapi juga ajang pembangunan kesadaran bahwa lansia tetap memiliki ruang dalam kehidupan sosial.

Dalam kesimpulannya, Andreas mengajak lansia untuk terus tumbuh dalam iman, meski usia terus bertambah. “Pengalaman hidup membuat saya memahami bahwa iman bisa berkembang seiring waktu. Saya juga bukan orang yang sempurna, tetapi di usia setua ini saya merasa diperbarui,” katanya. Ia berharap seluruh elemen masyarakat, termasuk lembaga-lembaga pemerintah, organisasi, dan komunitas, bisa bekerja sama dalam menjadikan lansia sebagai bagian aktif dari kemajuan negara.