Special Plan: Peduli kesehatan, Dinkes Kota Madiun cek kualitas udara rumah warga
Peduli kesehatan, Dinkes Kota Madiun cek kualitas udara rumah warga
Special Plan – Kota Madiun, Jawa Timur, baru-baru ini melaksanakan surveilans kualitas udara dalam ruang (SKUDR) di sejumlah lokasi hunian warga. Inisiatif ini dijalankan oleh Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Madiun guna memastikan lingkungan rumah layak huni dan mengurangi risiko gangguan pernapasan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi polutan yang mungkin mengancam kesehatan penduduk, terutama di area dengan tingkat kepadatan populasi tinggi atau dekat dengan sumber pencemaran.
Surveilans Kualitas Udara Dalam Ruang
SKUDR dilakukan secara bersamaan oleh keenam puskesmas yang ada di Kota Madiun. Kepala Sub Koordinator Pengelolaan Kesehatan Lingkungan Kerja dan Olahraga Dinkes PPKB, Retno Dwi Wahyuni, menjelaskan bahwa proses ini bertujuan memantau kualitas udara di dalam ruangan serta dampak kesehatan yang mungkin ditimbulkan. “Hasil pengukuran nantinya akan dibandingkan dengan standar baku mutu yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan,” katanya saat melakukan survei di Kelurahan Patihan, wilayah kerja Puskesmas Ngegong.
“Pemantauan ini tidak hanya untuk menilai kondisi fisik ruangan, tetapi juga untuk memahami bagaimana faktor lingkungan memengaruhi kesejahteraan warga,” ujar Retno.
Retno menekankan bahwa standar baku mutu SKUDR mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2 Tahun 2023 tentang Kesehatan Lingkungan. Peraturan tersebut memberikan pedoman spesifik untuk mengevaluasi berbagai parameter udara dalam ruang, seperti suhu, kelembaban, pencahayaan, kebisingan, laju ventilasi, dan konsentrasi partikulat debu. Pemantauan ini menjadi bagian dari upaya lebih luas untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mencegah penyakit pernapasan.
Metode Pengecekan yang Terstruktur
Setiap puskesmas di Kota Madiun ditugaskan mengambil 30 sampel rumah tangga. Pemilihan rumah dilakukan berdasarkan indikator tertentu, seperti tingginya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), kepadatan penduduk, keberdekatan dengan jalur transportasi umum, atau area industri yang mencemari lingkungan. “Kita memilih lokasi yang rentan terhadap polusi udara untuk memastikan semua sumber masalah teridentifikasi,” tambah Retno.
Pengecekan dilakukan dengan alat sanitarian kit yang dioperasikan oleh petugas kesehatan lingkungan. Alat ini mengukur parameter fisik ruangan secara akurat dan menyeluruh. Selama pengujian, petugas memeriksa tiga titik ruangan per rumah, termasuk ruang tamu, kamar tidur, dan dapur, karena setiap area memiliki karakteristik udara yang berbeda. Misalnya, dapur sering kali mengandung partikulat debu akibat aktivitas memasak, sementara kamar tidur bisa terpengaruh oleh kelembaban yang berlebihan.
Standar Baku Mutu dan Hasil yang Diharapkan
Standar kualitas udara dalam ruang menurut Permenkes 2023 menyebutkan bahwa suhu ruangan ideal berkisar antara 18–30 derajat Celsius. Angka ini penting karena suhu yang terlalu tinggi atau rendah bisa menyebabkan kelelahan atau gangguan kesehatan jangka panjang. Sementara kelembapan harus terjaga di antara 40–60 persen untuk mencegah pertumbuhan jamur dan bakteri yang berpotensi menyebabkan alergi.
Tingkat kebisingan dalam ruangan dibatasi maksimal 55 desibel. Parameter ini sering diabaikan, tetapi kebisingan yang terus-menerus bisa mengganggu tidur dan menyebabkan stres, yang berdampak pada sistem imun tubuh. Pencahayaan minimal 60 lux juga diperhatikan, karena kurangnya cahaya alami dapat memengaruhi kesehatan mata dan suasana hati. Adapun laju ventilasi harus memastikan udara segar mengalir secara optimal, sementara partikulat debu diukur untuk mengetahui tingkat polusi dari partikel kecil yang bisa masuk ke paru-paru.
Mengapa SKUDR Penting bagi Masyarakat?
Retno menambahkan bahwa pengujian SKUDR dilakukan dua kali setahun, sehingga hasilnya bisa memberikan gambaran yang up-to-date tentang kondisi lingkungan dalam ruang. “Dengan mengetahui data ini, Pemkot Madiun dapat merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran, baik untuk peningkatan infrastruktur maupun edukasi masyarakat,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa data yang diperoleh digunakan untuk mengevaluasi kinerja puskesmas dalam memastikan kesehatan lingkungan rumah tangga.
Upaya ini tidak hanya memperkuat pengawasan pemerintah, tetapi juga memberdayakan warga untuk lebih memahami lingkungan sekitar mereka. Retno menekankan bahwa kesadaran masyarakat akan faktor-faktor pencemaran udara dalam ruang bisa menjadi kunci dalam mencegah penyakit terkait pernapasan. Selain itu, hasil surveilans akan menjadi dasar untuk menilai kebutuhan peningkatan fasilitas sanitasi di area-area yang rentan.
SKUDR juga menjadi sarana untuk mengukur efektivitas program pemerintah dalam meningkatkan kualitas udara. Retno menjelaskan bahwa setiap rumah yang diperiksa akan dianalisis secara terperinci, termasuk keberadaan asap rokok, penggunaan bahan bakar padat, atau penggunaan produk kebersihan yang mungkin mengandung bahan kimia berbahaya. “Dari sini, kita bisa mengetahui apakah ada polutan yang kurang terpantau atau perlunya intensifikasi program,” ujarnya.
Dinkes PPKB Kota Madiun berharap hasil surveilans ini bisa digunakan untuk menyusun rekomendasi kepada warga, seperti perbaikan ventilasi, penggunaan peralatan pemanas yang ramah lingkungan, atau pengurangan kebiasaan merokok di dalam rumah. Retno menyampaikan bahwa inisiatif ini bertujuan membangun lingkungan yang sehat dan nyaman, terutama untuk anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi medis spesifik.
SKUDR tidak hanya memperkuat kerja Dinkes PPKB, tetapi juga menjadikannya partner dengan warga dalam menjaga kualitas udara. “Kita ingin membuat warga merasa bahwa kesehatan lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” pungkas Retno. Dengan pendekatan partisipatif seperti ini, diharapkan peningkatan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan hunian mereka.
Kepentingan Kesehatan Jangka Panjang
Retno menjelaskan bahwa kualitas udara dalam ruang sering kali diabaikan, padahal faktor ini sangat berpengaruh pada kesehatan jangka panjang. “Polutan dalam ruangan bisa menumpuk karena ventilasi yang buruk, dan itu berisiko menyebabkan penyakit seperti asma, alergi, atau infeksi saluran pernapasan kronis,” katanya. Ia menyoroti bahwa udara dalam rumah warga, terutama di kawasan perkotaan, terkadang mengandung partikel yang tidak terlihat tetapi berbahaya, seperti formaldehida atau benz
