Important Visit: Pengamat: Piala dunia jadi motivasi anak muda tekuni dunia olahraga
Pengamat: Piala Dunia 2026 Bisa Jadi Pemicu Baru untuk Generasi Muda Berkiprah di Dunia Olahraga
Important Visit – Di tengah perjalanan sejarah sepak bola yang terus berkembang, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 dianggap sebagai peluang emas untuk memberi semangat kepada generasi muda, khususnya dari kalangan Gen Z, agar tertarik menggeluti bidang olahraga sebagai salah satu pilihan karier. Menurut Mohammad Kusnaeni, seorang pengamat sepak bola Indonesia yang dikenal dengan julukan Bung Kus, turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada ini bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga bisa menjadi pintu masuk bagi pemuda untuk menjajaki dunia olahraga secara lebih mendalam.
Kompetisi Global Sebagai Rangkaian Proses Pendidikan
Bung Kus menjelaskan bahwa pertandingan sepak bola tidak sekadar terjadi di layar kaca atau lapangan hijau, tetapi melibatkan proses panjang yang memerlukan peran kolaboratif dari berbagai elemen pendukung. “Sepak bola adalah suatu ekosistem yang terdiri dari puluhan komponen yang saling memperkuat satu sama lain. Tanpa peran mereka, tidak akan ada pertandingan yang kita tonton hari ini,” ujarnya dalam dialog bersama RRI Tanjungpinang, Kepri, Sabtu.
“Piala Dunia sebelumnya sudah banyak melahirkan atlet muda berbakat yang menjadi inspirasi bagi banyak anak muda Indonesia untuk bermimpi menjadi profesional olahraga,” tambahnya.
Dalam konteks ini, Piala Dunia 2026 bisa dianggap sebagai titik awal bagi generasi muda untuk menyadari bahwa dunia sepak bola tidak hanya tentang keterampilan fisik, tetapi juga tentang konsistensi, kesabaran, dan keberagaman bidang profesi. Menurut Bung Kus, berbagai peran seperti dokter tim, psioterapis, manajer, dan pegawai media resmi bisa menjadi jalan alternatif untuk berkontribusi dalam olahraga tersebut. “Tidak semua orang harus menjadi pemain di lapangan, ada banyak jalur lain yang bisa dimanfaatkan untuk menekuni sepak bola secara lebih luas,” kata dia.
Peluang Profesi di Luar Lapangan Hijau
Salah satu contoh yang ia sebutkan adalah profesi groundsman, yaitu tenaga ahli yang bertugas merawat lapangan sepak bola. “Groundsman memiliki pendidikan khusus dan sertifikasi, sehingga mampu menjaga kualitas rumput serta kondisi lapangan agar optimal selama pertandingan,” ujarnya.
“Dengan adanya Piala Dunia, masyarakat Indonesia bisa melihat bahwa sepak bola menghasilkan peluang kerja yang beragam, termasuk di sektor yang sering diabaikan,” lanjut Bung Kus.
Menurutnya, keberhasilan turnamen ini tidak hanya tergantung pada keberadaan pemain hebat, tetapi juga pada peningkatan kualitas pendukung lainnya. “Jika kita ingin mengembangkan olahraga, harus memastikan seluruh elemen terlibat secara aktif,” tuturnya. Ia juga menekankan bahwa media memiliki peran penting dalam menyebarkan gambaran ini kepada masyarakat luas, termasuk melalui siaran TVRI, RRI, dan ANTARA yang akan menemani pertandingan Piala Dunia 2026.
Khususnya, siaran oleh TVRI yang menjadi pemegang hak siar resmi di Indonesia diharapkan bisa membangun kesadaran masyarakat bahwa olahraga bukan hanya pilihan untuk menjadi atlet, tetapi juga memiliki jaringan kerja yang luas. “Melalui tayangan informatif dan edukatif, kita bisa memperkenalkan peran-peran yang tidak terlihat di balik pertandingan, seperti dokter tim atau lalu psikolog atlet,” imbuhnya.
Aspek Non-Olahraga yang Membawa Manfaat
Di samping pengaruhnya terhadap dunia olahraga, Bung Kus juga menyoroti bahwa Piala Dunia 2026 memiliki dampak pada aspek budaya, sosial, dan ekonomi. “Turnamen ini bisa menjadi sarana untuk menyebarkan nilai-nilai persamaan, kerja sama, serta disiplin yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
“Misalnya, pemain seperti Lionel Messi yang terus menunjukkan sikap rendah hati, mengajarkan bahwa kesuksesan tidak selalu diiringi ego, tetapi juga kepatuhan terhadap aturan dan peran tim,” sebutnya.
Menurutnya, dengan memperkenalkan peran-peran di luar lapangan, seperti tenaga medis atau manajer, akan membuka ruang bagi generasi muda untuk menjajaki berbagai bidang yang masih underdeveloped namun berpotensi. “Ini juga bisa mengurangi kesan bahwa sepak bola hanya tentang bermain bola,” kata Bung Kus. Ia menambahkan bahwa Indonesia, yang memiliki banyak lapangan bola dengan anggaran besar, masih kalah dalam menjaga kualitas rumput, sehingga keberadaan groundsman sangat dibutuhkan.
Persiapan dan Harapan untuk Tahun 2026
Piala Dunia FIFA 2026 akan menjadi ajang paling besar dalam sejarah sepak bola dengan total 104 pertandingan yang digelar selama 69 hari. Perhelatan ini akan memperlihatkan bagaimana sepak bola mampu membangun koneksi antar negara, membuka peluang ekonomi, serta menciptakan jejak budaya yang khas. “Turnamen ini bisa menjadi cerminan bagaimana olahraga mampu memberi ruang bagi pengembangan ekosistem yang lebih luas,” ujarnya.
Sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam penyiaran, TVRI didorong untuk memberikan penampilan yang informatif dan menarik agar bisa memberikan pengaruh lebih besar. “Contoh kecil seperti menampilkan peran dokter tim atau psikolog olahraga bisa menjadi inspirasi bagi pemuda yang ingin menekuni bidang pendukung,” jelas Bung Kus. Ia juga mengingatkan bahwa siaran radio dan media daring seperti ANTARA bisa memperkuat dampak edukatif tersebut.
Dengan memadukan berbagai elemen, Piala Dunia 2026 diharapkan bisa menjadi ajang transformasi bagi generasi muda Indonesia. Bung Kus menekankan bahwa selain memotivasi pemain, pihak lain juga bisa menemukan ruang untuk berkontribusi. “Jika kita bisa mengangkat peran-peran ini, mungkin akan ada lebih banyak anak muda yang tertarik menekuni dunia sepak bola, bukan hanya sebatas bercita-cita menjadi pemain,” pungkasnya.
Keseimbangan antara Olahraga dan Pendidikan
Menurut Bung Kus, Piala Dunia 2026 juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa sepak bola adalah industri yang kompleks dan membutuhkan keterampilan spesialis. “Dengan mengetahui peran mereka, generasi muda bisa lebih memahami bahwa menjadi atlet bukanlah satu-satunya jalan untuk sukses di dunia sepak bola,” katanya.
Di sisi lain, ia berharap pemerintah dan institusi terkait bisa memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan kualitas penyiaran. “TVRI, RRI, dan ANTARA harus menghadirkan konten yang menarik dan bermanfaat, agar bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat,” ujarnya. Kombinasi antara olahraga dan pendidikan, men
