New Policy: Konferensi tinjauan NPT, Rusia soroti gagasan dialog stabilitas AS

Konferensi Tinjauan NPT: Rusia Kritik Gagasan AS Soal Dialog Stabilitas Strategis

Konferensi Tinjauan ke-11 Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) akan berlangsung di New York pada 27 April hingga 22 Mei 2026. Perjanjian ini menjadi fondasi keamanan global dengan tiga prinsip utama: mencegah penyebaran senjata nuklir, mendorong penggunaan teknologi nuklir untuk tujuan damai, serta mempercepat perlucutan senjata oleh negara-negara yang telah memilikinya.

Rusia Anggap Gagasan AS Tidak Jelas

Duta besar Rusia untuk urusan khusus, Andrey Belousov, menyatakan bahwa usulan Amerika Serikat (AS) untuk melanjutkan diskusi strategis dengan Moskow dinilai kurang realistis serta tidak jelas detailnya. Dalam wawancara dengan RIA Novosti, ia menekankan bahwa AS belum mengambil langkah konkret untuk mengawali negosiasi mengenai stabilitas strategis.

“Gagasan AS dirumuskan secara tidak realistis dan kabur dalam rinciannya,” kata Belousov.

Syarat Rusia untuk Diskusi Stabilitas

Diplomat Rusia menegaskan bahwa beberapa kriteria harus terpenuhi sebelum dialog tentang isu ini bisa dilanjutkan. Termasuk di dalamnya adalah normalisasi hubungan bilateral dan penyelesaian kontradiksi mendasar di bidang keamanan. Ia juga menyebutkan bahwa AS secara ketat menghubungkan kemungkinan kerja sama dengan keterlibatan wajib China, meskipun sikap negara itu terhadap topik ini sudah diketahui.

Menariknya, AS justru mengabaikan partisipasi Inggris dan Prancis, yang dianggap memiliki peran penting bagi Rusia.

Peran Indonesia dalam NPT

Indonesia merupakan salah satu negara yang telah meratifikasi NPT dan aktif mendukung upaya pelucutan senjata nuklir secara global. Perjanjian ini, yang ditandatangani pada 1968 dan berlaku sejak 1970, mengakui lima negara (AS, Rusia, China, Inggris, dan Prancis) sebagai pemilik resmi senjata nuklir karena mereka meledakkan senjata tersebut sebelum tahun 1967.

Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) bertugas memastikan bahan nuklir tidak dialihkan dari keperluan damai ke tujuan militer.