Latest Program: Kemenekraf dorong subsektor kriya tembus pasar global
Kemenekraf Dorong Subsektor Kriya Tembus Pasar Global
Latest Program – Jakarta, Kamis—Subsektor kriya, khususnya seni ukir Jepara, menjadi fokus perhatian Kementerian Ekonomi Kreatif dalam upaya meningkatkan daya saing produk lokal. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, mengungkapkan bahwa pihaknya berkomitmen untuk mengembangkan industri ini agar bisa bersaing secara global. Menurut Irene, seni ukir Jepara tidak hanya mewakili furnitur berkualitas, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya yang kaya, seperti ketekunan, sejarah, dan estetika tinggi. “Dengan mendorong kriya menjadi produk premium, kita bisa menjaga keberlanjutan warisan budaya serta meningkatkan kesejahteraan para perajin,” kata Irene dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.
Pameran “TATAH” sebagai Momentum Penguatan Ekonomi Kreatif
Pameran bertajuk “TATAH” dijadwalkan sebagai ajang penting untuk memperkuat sektor ekonomi kreatif Jepara. Acara ini akan berlangsung di Ruang Pamer Temporer A, Gedung Museum Nasional Indonesia, mulai 29 April hingga 5 Juli 2026. Pameran ini menggabungkan seni ukir, kriya, dan desain interior dalam satu ekosistem yang diberi standar internasional. Irene Umar menekankan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk mengangkat identitas Indonesia di kancah global, sekaligus memastikan produk-produk lokal tetap relevan dalam pasar dunia.
“Seni ukir adalah mahakarya berkelas, bukan sekadar komoditas. Pameran ini hadir sebagai langkah nyata untuk mengapresiasi proses kreatif seniman sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya kita,” ujar Direktur Pelaksana TATAH, Veronica Rompies.
Dalam pameran “TATAH,” 35 karya seni ukir tematik terbaru akan dipamerkan. Karya-karya ini berasal dari perajin-perajin yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Jepara, DPD HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia) Jepara Raya, serta komunitas sejarah Rumah Kartini Japara. Kolaborasi ketat antara pemerintah, industri, dan organisasi budaya ini diharapkan mampu menciptakan ruang yang lebih dinamis bagi pertumbuhan kriya. Veronica Rompies menambahkan bahwa pameran ini juga menjadi platform untuk memperkenalkan seni ukir kontemporer dan karya bersejarah yang dihasilkan oleh maestro ukir Jepara. Bentuk-bentuk karya yang ditampilkan mencakup patung, relief, dekorasi ruang, serta mebel eksklusif.
Irene Umar menjelaskan bahwa seni ukir Jepara memiliki potensi besar sebagai produk kreatif yang bisa diakui secara internasional. “Dengan pendekatan hilirisasi yang tepat, seni ukir ini bisa menjadi incaran kolektor, bahkan menjadi produk premium di pasar global,” tambahnya. Hilirisasi, kata Irene, adalah strategi untuk mengembangkan nilai tambah produk kriya melalui inovasi, desain, dan pemasaran yang lebih modern. Ia menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya melindungi hak intelektual para perajin, sehingga karya-karya mereka tidak hanya dihargai di pasar lokal, tetapi juga dikenal di luar negeri.
Pemerintah juga aktif dalam memperluas akses pasar digital bagi pelaku usaha kriya. Langkah ini bertujuan untuk memudahkan ekspor furnitur nasional, terutama dari Jepara, ke berbagai belahan dunia. Irene Umar menjelaskan bahwa pendekatan digital ini tidak hanya mempercepat distribusi, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas. “Dengan memanfaatkan teknologi, kita bisa memperkuat daya saing produk lokal di tengah persaingan yang semakin ketat,” katanya. Hal ini sejalan dengan visi Kemenekraf untuk menciptakan ekosistem kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.
Strategi Penguatan Daya Saing Produk Lokal
Di samping pameran “TATAH,” Kemenekraf juga berupaya meningkatkan daya saing produk kriya melalui beberapa langkah strategis. Pertama, pihaknya memperkuat pengawasan terhadap perlindungan intellectual property (IP) untuk menjaga kualitas dan orisinalitas karya seni. Kedua, melalui pelatihan dan pendampingan teknis, para perajin diharapkan bisa meningkatkan keterampilan dan kreativitas mereka. Ketiga, pengembangan pasar digital menjadi prioritas, karena membuka akses lebih mudah bagi produsen kecil maupun menengah.
Menurut Irene Umar, seni ukir Jepara memiliki keunikan yang tidak dimiliki sektor kriya lainnya. “Seni ukir ini mewakili ciri khas Indonesia, yaitu kombinasi antara tradisi dan inovasi,” ujarnya. Ia berharap, dengan pameran seperti “TATAH,” masyarakat dunia akan lebih mengenal keahlian para perajin Jepara. Selain itu, pameran ini dianggap sebagai sarana untuk mengukuhkan identitas budaya Indonesia sebagai bagian dari sejarah dunia. “Dengan menampilkan karya-karya yang memadukan estetika dan keaslian, kita bisa menciptakan daya tarik yang menginspirasi konsumen global,” tutur Irene.
Kolaborasi Antara Pemerintah dan Komunitas Budaya
Kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Jepara, DPD HIMKI Jepara Raya, serta komunitas sejarah Rumah Kartini Japara menjadi poin penting dalam kesuksesan pameran “TATAH.” Veronica Rompies menegaskan bahwa peran komunitas sejarah sangat vital dalam menjaga keaslian seni ukir Jepara. “Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya karya yang dipamerkan, tetapi juga memastikan bahwa nilai budaya terus dilestarikan,” katanya. Dengan melibatkan para ahli sejarah, pameran ini bisa menyajikan konteks historis dan filosofi seni ukir yang melekat pada produk-produk yang ditampilkan.
Di samping itu, pameran ini juga menjadi ruang untuk menggali potensi ekonomi dari seni ukir. Veronica Rompies menjelaskan bahwa melalui “TATAH,” para perajin bisa memperluas jaringan pemasaran, termasuk menghadapi investor asing yang tertarik mengembangkan industri ini. “Ajang ini dirancang untuk memperkuat rantai pasok dan memastikan produk Jepara bisa bersaing di tingkat global,” ujarnya. Dengan menyatukan kriya, desain interior, dan seni ukir dalam satu pameran, pihak penyelenggara berharap bisa menciptakan kesan holistik yang menggambarkan kekuatan ekonomi kreatif Indonesia.
Menurut Veronica, pameran “TATAH” tidak hanya sebagai ajang pameran, tetapi juga sebagai bentuk investasi pada masa depan industri kriya. “Kita ingin menunjukkan bahwa seni ukir Jepara bisa menjadi bahan inspirasi bagi industri lainnya, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para perajin,” katanya. Ia menilai bahwa pameran
