Visit Agenda: Komisi VII teruskan keluhan peternak telur bebek ke pemerintah

Komisi VII lanjutkan keluhan peternak telur bebek ke lembaga pemerintah

Visit Agenda – Jakarta – Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia, menegaskan bahwa fraksi partainya akan mengirimkan keluhan para peternak telur bebek ke pemerintah dan komisi lainnya. Keluhan tersebut terkait dengan penurunan harga telur bebek yang signifikan, meskipun biaya produksi terus meningkat. Dalam sebuah pernyataan di Jakarta, Minggu, Chusnunia memberikan tanggapan terhadap keluhan yang disampaikan oleh anggota komunitas Persatuan Peternak Bebek Nasional (PPBN) yang merasa tertekan akibat kondisi pasar telur bebek yang tidak menjanjikan.

Protes Peternak di Sleman

Pernyataan tersebut datang setelah para peternak menggelar aksi pengaduan di acara bertema “Rembug Nasional Peternak Rakyat, Harga Pakan Melambung, Harga Telur Bikin Kembung” di Resto Bebek Pinggir Embung, Sleman, Yogyakarta. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh koordinator PPBN se-Jawa. Mereka menyoroti ketidakseimbangan harga yang terjadi antara biaya produksi dan nilai jual telur bebek, yang memicu keluhan mereka.

“Kami telah memutuskan untuk mengirimkan aspirasi tersebut kepada Komisi IV DPR serta Fraksi PKB guna mendapatkan perhatian yang lebih besar,” ujar Chusnunia. Pihaknya berharap keluhan tersebut dapat diperhatikan oleh lembaga pemerintah yang bertugas mengawasi sektor pertanian dan perdagangan.

Ketua Umum PPBN, Mohammad Rosul, menjelaskan bahwa aksi pengaduan tersebut dilakukan karena kenaikan harga pakan ternak yang membebani para peternak. “Harga telur bebek belakangan ini terus merosot, harganya bahkan di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP). Jangankan untung, keuntungan minimal pun sulit dicapai,” tambahnya. Rosul menilai kondisi ini telah menyebabkan kesulitan ekonomi bagi para peternak yang sebelumnya bergantung pada produksi telur bebek.

Menurut Rosul, keluhan utama para peternak terpusat pada dua hal: penurunan harga telur bebek dan kurangnya serapan pasar. “Kita perlu pemerintah melakukan intervensi untuk mengatur harga telur bebek agar lebih seimbang dengan biaya produksi,” pinta Rosul. Ia menambahkan bahwa PPBN juga akan mengirimkan surat audiensi ke Komisi IV DPR RI untuk menjelaskan situasi yang dihadapi para peternak rakyat.

“Kami ingin memastikan keberpihakan pemerintah terhadap peternak rakyat semakin jelas. Ketahanan dan swasembada pangan bukan hanya omongan belaka,” lanjut Rosul. Ia menekankan bahwa peningkatan produksi pangan perlu didukung dengan kebijakan yang adil terhadap peternak.

Di sisi lain, Haryono, salah satu peserta rembug peternak rakyat, menyoroti kenaikan harga pakan sebagai faktor utama penurunan harga telur bebek. “Dalam dua bulan terakhir, harga pakan ternak, khususnya pakan bebek petelur, naik tiga kali lipat. Namun, harga telur bebek justru jatuh jauh di bawah HPP,” ungkap Haryono. HPP telur bebek mencapai sekitar Rp1.732 per butir, sedangkan harga yang dijual saat ini hanya berkisar antara Rp1.400 hingga Rp1.500 per butir.

Menurut Haryono, situasi ini membuat para peternak sulit mempertahankan keuntungan. “Kenaikan biaya produksi yang terus-menerus, ditambah dengan penurunan harga jual, membuat kondisi ekonomi mereka semakin memburuk,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa pemerintah harus melakukan tindakan konkret untuk mengendalikan harga pakan dan telur bebek.

Aksi PPBN Lainnya

Selain mengirimkan keluhan ke lembaga pemerintah, PPBN juga mengadakan aksi bagi-bagi telur bebek secara gratis. Acara ini dihelat di perempatan Ringroad Utara UPN, Sleman, Yogyakarta, dengan total 30.000 butir telur yang dibagikan. Aksi tersebut menjadi bentuk protest dari PPBN terhadap kondisi pasar yang dinilai tidak sehat.

Rosul menjelaskan bahwa aksi bagi-bagi telur bebek merupakan bagian dari upaya PPBN untuk memperkuat keluhan mereka. “Ini tidak hanya sebagai bentuk penolakan terhadap harga telur bebek yang rendah, tetapi juga sebagai pernyataan bahwa peternak rakyat perlu didukung,” katanya. Aksi serupa diharapkan mampu menarik perhatian masyarakat luas terhadap masalah yang dihadapi para peternak.

PPBN juga menyatakan bahwa aksi mereka tidak hanya berupa pengaduan, tetapi juga sebagai tindakan solidaritas. Dengan membagikan telur bebek secara gratis, mereka berharap masyarakat bisa lebih memahami tantangan yang dihadapi peternak. Selain itu, aksi ini juga menjadi bentuk komunikasi langsung dengan konsumen dan pembeli di Sleman.

“Kami berharap pemerintah dapat memperhatikan keadaan peternak rakyat, karena mereka adalah penggerak utama dalam produksi pangan,” papar Haryono. “Jika harga telur bebek terus anjlok, makan dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat secara luas.” Pernyataan tersebut menggambarkan kekhawatiran para peternak bahwa kebijakan pemerintah tidak cukup responsif terhadap situasi yang terjadi.

Chusnunia menambahkan bahwa keluhan dari para peternak tidak hanya menjadi isu lokal, tetapi juga nasional. “Kita perlu menjamin stabilitas harga pangan agar rakyat bisa memperoleh makanan sehat dengan harga terjangkau,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa Komisi VII akan terus bekerja sama dengan PPBN dan komisi lainnya untuk mencari solusi yang tepat.

Keluhan tentang penurunan harga telur bebek telah menjadi sorotan utama dalam diskusi nasional terkait ketahanan pangan. Rosul menyebutkan bahwa kebijakan pemerintah perlu lebih memperhatikan dinamika pasar dan mengambil langkah-langkah untuk meminimalkan risiko bagi para peternak. “Kita meminta pemerintah menciptakan lingkungan usaha yang lebih seimbang, sehingga peternak bisa tetap berkembang,” pungkasnya.

Dengan mengadakan rembug dan aksi bagi-bagi telur bebek, PPBN berharap mampu membangun kesadaran publik tentang pentingnya keberpihakan terhadap peternak rakyat. Chusnunia menegaskan bahwa keluhan mereka akan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam merancang kebijakan di masa depan. “Kita berharap ini bisa menjadi awal dari perbaikan kondisi pasar telur bebek,” tuturnya.

Selain itu, PPBN juga menyoroti bahwa perlu ada pengawasan terhadap harga pakan ternak, yang saat ini terus meningkat. Rosul menekankan bahwa kenaikan harga pakan menjadi ancaman serius bagi kelangsungan usaha para peternak. “Kita perlu menjamin ketersediaan bahan pakan dengan harga yang stabil agar produksi bisa berjalan lancar,” katanya.

Aksi PPBN menunjukkan kegigihan mereka untuk menyuarakan aspirasi. Chusnunia memastikan bahwa pihaknya akan terus mendukung upaya-upaya tersebut. “Kami akan bekerja sama dengan PPBN untuk mencari solusi yang jitu,” ujarnya. Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan masalah yang dihadapi para peternak bisa segera ditangani oleh pihak yang berwenang.

Keluhan tentang anjloknya harga telur bebek dan kenaikan bi