Rencana Khusus: Kebijakan Trump sebabkan 1.100 warga Afganistan terjebak di kamp Qatar
Kebijakan Trump sebabkan 1.100 warga Afganistan terjebak di kamp Qatar
Jakarta – Sejumlah besar warga Afganistan yang dulu bekerja bersama pasukan Amerika Serikat masih terperangkap di kamp As Sayliyah, Qatar, setelah program relokasi mereka dibekukan oleh pemerintahan Donald Trump, menurut laporan The Wall Street Journal. Surat kabar tersebut mengungkapkan pada Selasa bahwa pejabat AS sedang berusaha menemukan solusi dengan minimal tiga negara di Afrika Sub-Sahara serta Asia Tenggara untuk menetapkan para individu tersebut secara permanen.
Fasilitas di Qatar dilaporkan menghabiskan lebih dari 10 juta dolar AS per bulan. Sementara itu, pemerintah negara tersebut meminta agar kamp tersebut ditutup segera. Ketidakpastian mengenai visa membuat semangat para penghuni menurun tajam. Menurut Shawn VanDiver dari Afghan Evac, banyak dari mereka kini “seperti tahanan akibat ketidakmampuan birokrasi.”
“Ketika tenggat waktu berlalu tanpa penjelasan atau tindak lanjut, harapan itu berubah menjadi keputusasaan,” ujar VanDiver. Ia menambahkan, rasa percaya diri para warga Afganistan semakin merosot.
Beberapa anggota kongres AS juga meminta tindakan cepat. Senator Jeanne Shaheen mengingatkan bahwa memulangkan mereka bisa membahayakan keberadaan kelompok Taliban. “Kita tidak bisa lepas tangan terhadap mereka,” katanya.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott menyalahkan pemerintahan Joe Biden, menyatakan situasi ini adalah akibat dari “penarikan pasukan dari Afganistan yang kacau dan tidak terkelola dengan baik.”
