Meeting Results: Pakar nilai proteksionisme menguat, ASEM fokus ke pembangunan domestik

Pakar Nilai Proteksionisme Menguat, ASEM Fokus pada Pembangunan Domestik

Meeting Results – Jakarta – Dalam suasana krisis energi global, pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menyatakan bahwa proteksionisme kini mengalami peningkatan signifikan. Menurutnya, fenomena ini mendorong negara-negara yang tergabung dalam forum Asia-Europe Meeting (ASEM) untuk mengalihkan prioritasnya ke pembangunan dalam negeri. Rezasyah menjelaskan bahwa keterbatasan pasokan energi dan tingginya kemungkinan konflik di wilayah Timur Tengah memaksa para peserta ASEM fokus pada kebutuhan lokal, termasuk ketahanan pangan, keamanan energi, dan stabilitas pemerintahan.

Krisis Energi dan Tantangan Regional

Rezasyah mengatakan bahwa proteksionisme telah menjadi kebijakan yang kian umum di tengah tekanan ekonomi global. “Kurangnya pasokan energi dan ancaman perang di kawasan Timur Tengah mendorong negara-negara ASEM untuk mengoptimalkan sumber daya mereka sendiri,” terangnya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Ahad. Ia menekankan bahwa situasi ini memaksa anggota ASEM mengalihkan perhatian dari kerja sama internasional ke peningkatan kekuatan ekonomi nasional.

Transformasi Uni Eropa dan Dampak Global

Dalam analisisnya, Rezasyah memprediksi bahwa Uni Eropa akan mengalami perubahan strategi dari kebijakan pasar bebas menjadi sistem yang lebih terbatas. Hal ini dipicu oleh dominasi China dalam sektor perdagangan, investasi, perbankan, dan teknologi. “Penyebaran ekonomi China ke pasar global berpotensi mengurangi ketergantungan Uni Eropa pada hubungan ekonomi luar negeri,” katanya. Namun, ia mengingatkan bahwa tindakan proteksionisme bisa dianggap sebagai ancaman bagi pertumbuhan ekonomi negara lain, sehingga berisiko merusak kerja sama antaranggota ASEM.

Kebutuhan Norma Bersama untuk Proteksionisme

Menurut Rezasyah, diperlukan kesepakatan bersama untuk memastikan bahwa kebijakan proteksionisme tidak disalahartikan sebagai bentuk proteksi yang merugikan negara-negara lain. “Proteksionisme bisa dibenarkan jika tujuannya untuk memperkuat ketahanan nasional, termasuk keamanan pangan dan energi, serta memastikan kestabilan pemerintahan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini perlu didasarkan pada kondisi tertentu, bukan sekadar untuk memprioritaskan kepentingan dominan satu negara.

Respons Asia terhadap Standar Hijau Eropa

Rezasyah juga menyoroti pentingnya negara-negara Asia, seperti Indonesia, menyesuaikan diri dengan standar lingkungan yang diterapkan oleh Uni Eropa. “Eropa sering kali menetapkan kriteria hijau sebagai syarat utama dalam perdagangan, sehingga Asia perlu memahami posisi ini agar tidak terjebak dalam kesulitan,” katanya. Ia menekankan perlunya pelatihan mendalam bagi para pembuat kebijakan Asia agar bisa menghadapi standar lingkungan yang konsisten dan berkelanjutan dari Eropa.

SDGs sebagai Fokus Utama ASEM

Dalam konteks ini, Rezasyah mengatakan bahwa ASEM akan menitikberatkan pada tiga target Sustainable Development Goals (SDGs) yang relevan. “SDGs Nomor 13 (Tindakan Iklim), Nomor 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), serta Nomor 6 (Air Bersih dan Sanitasi) menjadi fokus utama dalam diskusi,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa ketiga indikator ini penting untuk mengukur kemajuan negara-negara berkembang dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan hingga 2030.

ASEM: Platform Dialog dan Kerja Sama Asia-Eropa

Forum ASEM berfungsi sebagai platform untuk memperkuat hubungan antara kawasan Asia dan Eropa. Selama ini, ASEM menyatukan 53 mitra, yang meliputi negara-negara Eropa, anggota ASEAN, serta negara-negara lain di Asia. Forum ini mengeksplorasi berbagai isu, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan, untuk mendorong kerja sama yang lebih efektif.

Sejarah dan Tujuan ASEM

ASEM didirikan di Bangkok, Thailand pada Maret 1996, dengan tujuan utama mempererat hubungan antar daerah melalui kolaborasi yang seimbang. “Forum ini berupaya menciptakan kesadaran bersama, perdamaian, dan kesejahteraan antara dua benua,” kata Rezasyah. Kehadiran ASEM dianggap penting untuk menghadapi tantangan global yang memengaruhi kedua kawasan tersebut.

Pilar Kerja Sama dalam ASEM

Menurut Rezasyah, ASEM memiliki tiga pilar kerja sama utama: dialog mengenai stabilitas dan keamanan untuk bidang politik, kerja sama perdagangan, investasi, dan infrastruktur untuk sektor ekonomi, serta pertukaran pendidikan, budaya, dan hubungan masyarakat untuk bidang sosial dan intelektual. “Ketiga pilar ini memberikan kerangka kerja yang komprehensif untuk menghadapi berbagai isu penting,” jelasnya.

Rezasyah menambahkan bahwa ASEM perlu menjaga keseimbangan antara kerja sama ekonomi dan kepentingan domestik. “Negara-negara Asia harus aktif mengajukan argumen ke Eropa mengenai kontribusi mereka dalam pengelolaan lingkungan hidup,” katanya. Ia menyoroti bahwa dana alokasi yang telah dijanjikan oleh Eropa untuk mendukung SDGs perlu dijadikan alasan kuat dalam memperkuat kepercayaan antarmitra.

Kesimpulan dan Tantangan di Depan

Dalam kesimpulannya, Rezasyah memprediksi bahwa proteksionisme akan menjadi trend global hingga 2030. “Namun, dengan adanya kesepakatan bersama, ASEM bisa menjadi forum yang menggabungkan keterbukaan dan ketahanan nasional,” katanya. Ia berharap para negara peserta bisa memanfaatkan kebijakan proteksionisme sebagai alat untuk mempercepat pembangunan lokal, sekaligus menjaga hubungan internasional yang sehat.

“Kini, tendensi proteksionisme semakin populer karena tekanan dari krisis energi dan ancaman konflik regional. Namun, hal ini berpotensi mengurangi kerja sama