Key Strategy: Indonesia ajak negara-negara ASEAN kembangkan potensi energi bersih
Key Strategy: Indonesia Ajak ASEAN Percepat Energi Bersih
Key Strategy – Indonesia mengusung Key Strategy dalam mendorong pengembangan energi bersih di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), dengan menekankan pemanfaatan sumber daya terbarukan sebagai penopang ketahanan energi regional. Dalam pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BIMP-EAGA di Cebu, Filipina, Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa subkawasan memiliki potensi besar untuk melaksanakan transisi energi berkelanjutan. Key Strategy ini bertujuan memperkuat kerja sama antar-negara anggota ASEAN dalam menciptakan sistem energi yang lebih inovatif dan ramah lingkungan.
Langkah Konkret untuk Energi Bersih
Presiden Prabowo menyoroti beberapa Key Strategy yang perlu dijalankan, seperti pengembangan tenaga air di Kalimantan, ekspansi proyek energi surya di Palawan, dan pemanfaatan angin di wilayah pesisir. Dia menyatakan bahwa langkah-langkah ini tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kapasitas energi ASEAN secara keseluruhan. Key Strategy ini bertumpu pada kolaborasi antar-negara untuk mencapai tujuan yang lebih luas, yakni mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mempercepat adopsi teknologi hijau.
Indonesia, sebagai salah satu pemimpin Key Strategy, mencontohkan progres dalam membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan target 100 GW. Presiden menyatakan bahwa Key Strategy tersebut memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta dan akademisi, untuk menjamin keberlanjutan proyek energi bersih. Selain itu, Key Strategy ini juga mencakup pengurangan emisi karbon melalui penggunaan kendaraan listrik (EV) dan teknologi penyimpanan karbon (CCS/CCUS), yang menjadi prioritas dalam strategi keberlanjutan negara-negara ASEAN.
Visi BIMP-EAGA 2035 dan Kerangka Strategis
Usai KTT BIMP-EAGA, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa konferensi ini menghasilkan dokumen BIMP-EAGA Vision (BEV) 2035. Dokumen ini berisi kerangka strategis yang akan menjadi panduan bagi negara-negara Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Filipina dalam mencapai tujuan ekonomi, sosial, dan lingkungan yang lebih baik. Key Strategy yang diusung juga memperkuat fokus pada konektivitas energi, transformasi pariwisata, serta pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Dalam Key Strategy ini, empat negara BIMP-EAGA membentuk klaster-klaster khusus, termasuk Power and Energy Infrastructure Cluster (PEIC), yang memimpin pengembangan infrastruktur energi. Indonesia menjadi ketua PEIC pada periode 2022-2025, sementara Malaysia akan mengambil alih pada periode 2026-2029. Menteri Bahlil menjelaskan bahwa Key Strategy ini mencakup proyek interkoneksi jaringan listrik, elektrifikasi pedesaan, serta program efisiensi dan konservasi energi, yang menjadi prioritas untuk meningkatkan akses energi di daerah terpencil.
Challenges dan Peluang dalam Implementasi
Meski Key Strategy ini dianggap potensial, tantangan seperti keterbatasan dana, kebijakan yang belum konsisten, dan infrastruktur yang masih perlu ditingkatkan menjadi hambatan utama. Presiden Prabowo menegaskan bahwa Key Strategy ini memerlukan keseriusan dari semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan swasta, untuk menyelesaikan tugas tersebut. Di sisi lain, peluang besar terbuka, terutama dengan adanya teknologi baru dan keterlibatan negara-negara ASEAN dalam pembangunan bersama.
Indonesia juga berharap Key Strategy ini akan mempercepat adopsi energi bersih di seluruh kawasan ASEAN, dengan contoh proyek PLTS 100 GW yang sedang dijalankan. Menteri Bahlil menyatakan bahwa Key Strategy ini selaras dengan arahan presiden dalam mempercepat transisi energi, dengan meningkatkan bauran energi terbarukan dan memanfaatkan sumber daya seperti hidrogen dan ammonia. Kolaborasi lintas sektor dan negara akan menjadi kunci dalam merealisasikan Key Strategy ini secara efektif.
“Kita harus siap untuk mengambil langkah konkrit berdasarkan Key Strategy ini, agar bisa menciptakan sistem energi yang lebih tangguh dan inklusif,” kata Presiden Prabowo dalam pidatonya.
Dengan Key Strategy yang diusung, ASEAN diperkirakan akan menjadi kawasan yang lebih mandiri dalam energi dan berkontribusi pada penurunan emisi global. Indonesia, sebagai salah satu negara pendorong, berkomitmen untuk memimpin dan menginspirasi negara-negara lain dalam pemanfaatan teknologi energi hijau. Proses ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membantu pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan yang telah disepakati bersama.
