Meeting Results: Djokovic tersingkir pada laga pembukanya di Italian Open 2026

Djokovic tersingkir pada laga pembukanya di Italian Open 2026

Novak Djokovic kalah dari Dino Prizmic, mencatatkan kekalahan pertama di Roma

Meeting Results – Roma, Sabtu WIB – Petenis legendaris dari Serbia, Novak Djokovic, harus mengakhiri perjalanan di Italian Open 2026 setelah kalah dari petenis Kroasia, Dino Prizmic, dengan skor 6-2, 2-6, 4-6. Ini menjadi kekalahan pertama Djokovic dalam laga pembuka sepanjang kariernya di turnamen yang berlangsung di Rome, menjadikannya momen bersejarah dalam perjalanan karier mantan juara enam kali tersebut.

“Bagi saya, sulit untuk mengatakan sesuatu. Saya sangat menghormati Novak. Dia adalah idola saya, jadi ini adalah pertandingan yang hebat bagi saya hari ini,” kata Prizmic seusai pertandingan, dikutip dari ATP.

Prizmic, yang mengenakan jaket merah dan putih, menunjukkan performa yang sangat menonjol sepanjang pertandingan. Meski Djokovic sempat menunjukkan dominasi di set pertama, pemain berusia 38 tahun tersebut mulai mengalami hambatan fisik di set kedua. Ia sering membungkuk dan meletakkan tangannya di lutut saat berada di antara poin, serta berjalan perlahan menuju kursinya di setiap pergantian babak. Meski demikian, Djokovic tetap berusaha membangun kembali momentum di set ketiga.

Prizmic, yang berada di peringkat 79 dalam daftar ATP, membuktikan kualitasnya sebagai petenis yang mampu menghadapi atlet papan atas. Di set pertama, Djokovic menguasai permainan dengan baik, tetapi Prizmic mampu menemukan keseimbangan dan konsistensi yang dibutuhkan untuk memperkecil jarak di set kedua. Di set ketiga, Djokovic kembali menunjukkan semangatnya, namun kelelahan akhirnya menghambat permainannya. Prizmic, yang sebelumnya dikenal sebagai pemain kualifikasi, mampu mempertahankan fokus dan ketenangannya untuk memperoleh kemenangan atas idolanya.

Dalam pertandingan pertemuan pertama mereka sejak Australian Open 2024, Prizmic memperlihatkan perubahan signifikan. Di Australia, petenis yang saat itu berusia 18 tahun itu memenangkan satu set melawan Djokovic, lalu menyulitkan bintang tenis dunia itu dengan pukulan baseline yang konsisten. Meski kalah dalam empat set, penampilan Prizmic pada saat itu menggarisbawahi potensinya sebagai pesaing berpotensi. Kini, di Roma, ia melangkah lebih jauh lagi, memasuki babak ketiga ATP Masters 1000 dengan performa yang memuaskan.

Prizmic memulai pertandingan dengan agresivitas tinggi, terutama sejak set kedua. Ia memperbaiki strateginya dan bermain dengan percaya diri, sehingga mampu mengungguli Djokovic di beberapa momen kritis. Kekalahan Djokovic di Roma ini menjadi peringatan mengenai kebutuhan untuk menjaga kondisi fisik sepanjang musim. Sebelumnya, ia mengalami hambatan serupa saat berlaga di Indian Wells pada Maret lalu, di mana ia kalah di babak keempat dari Jack Draper, petenis kidal Inggris yang dikenal memiliki gerakan cepat dan pukulan sangan akurat.

Djokovic, yang tercatat sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa, menghadapi tantangan fisik yang terus menghimpit. Meski ia mencoba beradaptasi dengan pola permainan Prizmic, keterbatasan dalam pengaturan energi mengakibatkan kesulitan di beberapa momen. Prizmic, yang berusia 20 tahun, menunjukkan kematangan mental dan teknik yang memperkuat kepercayaannya diri. Ini adalah kali pertama dalam sejarah Djokovic bahwa ia kalah di laga pembuka di Roma, sebuah hal yang tidak terduga mengingat prestasi luar biasa di turnamen ini selama beberapa tahun terakhir.

Dalam kariernya, Prizmic berhasil mencatatkan beberapa pencapaian penting. Tahun lalu, ia berada di peringkat 334 dalam daftar ATP, namun sekarang ia berada di peringkat 79, menunjukkan kenaikan drastis. Pertandingan terbarunya di Madrid bulan lalu juga menjadi bukti ketangguhannya. Prizmic melaju ke babak ketiga dengan kemenangan atas Ben Shelton, seorang petenis dari Amerika Serikat yang tercatat dalam daftar Top 10. Kemenangan itu melengkapi perjalanan luar biasa Prizmic, yang sebelumnya sukses memasuki babak final di turnamen ATP Challenger di Italia.

Djokovic, yang memulai tahun ini dengan kemenangan atas Jannik Sinner di Australian Open, berharap pulih cepat untuk menghadapi Roland Garros akhir bulan ini. Di turnamen tersebut, ia akan berusaha meraih gelar utama ke-25, menjadikannya salah satu pencapaian historis dalam sejarah tenis. Namun, kekalahan di Roma mengingatkan kembali bahwa setiap pemain, bahkan yang terbaik, bisa menghadapi hambatan tak terduga. Statistik kemenangan-kalah Djokovic di Roma adalah 18-1, namun kekalahan ini menjadi pertama kali dalam sejarahnya.

Permainan Djokovic melawan Prizmic menunjukkan perubahan dalam kondisi fisiknya, yang mungkin dipengaruhi oleh penyesuaian jadwal dan tekanan kompetitif. Meski begitu, ia tetap menunjukkan kemampuan mental yang luar biasa, terutama di set ketiga, ketika mencoba bangkit dari ketertinggalan. Prizmic, di sisi lain, menunjukkan konsistensi yang luar biasa, memastikan bahwa ia bisa menjadi ancaman nyata bagi atlet-atlet berperingkat tinggi di turnamen besar.

Keberhasilan Prizmic di Roma tidak hanya menjadi prestasi pribadinya, tetapi juga membawa perubahan dalam pengaruhnya pada kompetisi tingkat dunia. Pemuda berusia 20 tahun itu menggambarkan tampilan yang mampu membangun momentum, terutama setelah kemenangan atas pemain Top 10. Ini menegaskan bahwa usia bukan lagi batas untuk mencapai kesuksesan di arena tenis papan atas. Djokovic, yang selama ini dianggap sebagai salah satu atlet yang tak terkalahkan di Roma, kini harus mengakui kekuatan Prizmic.

Kemenangan Prizmic atas Djokovic menjadi babak baru dalam perjalanan kariernya, sekaligus mengingatkan para penggemar tenis bahwa ketahanan dan adaptasi bisa menentukan hasil pertandingan. Dengan kepercayaan diri yang meningkat, Prizmic berharap bisa melangkah lebih jauh dalam turnamen ini, sementara Djokovic akan terus berjuang untuk memperbaiki performanya dan memperpanjang rekor gelar utama yang luar biasa.