Main Agenda: Selebgram dan Anak Bupati di Riau Positif Narkoba Usai Penggerebekan Tempat Hiburan Malam
Selebgram dan Anak Bupati Riau Terlibat Penggunaan Narkoba Saat Razia di Tempat Hiburan Malam
Main Agenda – Pekanbaru, Riau – Dalam operasi penyergatan yang dilakukan pada Minggu 24 Mei 2026, polisi menemukan adanya aktivitas penggunaan narkoba di sebuah tempat hiburan malam (THM) di Kota Pekanbaru. Sejumlah 13 individu, termasuk dua orang yang tergolong selebgram dan anak dari seorang bupati, dinyatakan positif mengonsumsi bahan-bahan narkotika, psikotropika, serta adiktif berbahaya lainnya. Menurut Kombes Pol Muharman Artha, Kepala Kepolisian Resor Pekanbaru, hasil uji urine yang diperoleh dari para pelaku menunjukkan adanya keterlibatan ganja dan etomidate.
Operasi Razia dan Penangkapan 13 Orang
Razia yang dilakukan sekitar pukul 02.00 WIB itu memicu pemeriksaan terhadap seorang dari beberapa ruangan yang disusupi oleh petugas. Selain mengamankan para pengguna narkoba, polisi juga menemukan barang bukti yang menjadi dasar untuk menetapkan status mereka. “Total 13 orang diamankan, dan seluruhnya menunjukkan hasil positif dalam uji urine,” terang Muharman saat jumpa pers, Rabu (27/5/2026), seperti dilansir Antara.
“Hasil uji urine diperoleh setelah mereka terjebak dalam razia di salah satu tempat hiburan malam,” kata Muharman.
Dari kelompok tersebut, dua orang dikenal sebagai pemilik barang bukti. FTR (22 tahun) diduga memiliki daun ganja kering seberat 9,8 gram dan empat cartridge, sementara MAY (24 tahun) diketahui menyimpan daun ganja kering sebanyak 1,2 gram. Dua orang lainnya, yakni selebgram SA (23 tahun) dan FA (anak bupati), dinyatakan positif mengonsumsi ganja dan etomidate. Menurut Kombes Pol Wawan, kepala BNN Kota Pekanbaru, paparan asap yang terjadi di lokasi itu menjadi penyebab mereka tertular narkoba.
Asesmen BNN dan Langkah Penanganan Berikutnya
Setelah mengumpulkan data, BNN melakukan asesmen terpadu untuk menentukan tindakan selanjutnya terhadap para tersangka. “Dari hasil evaluasi, FTR yang terbukti memiliki barang bukti akan diteruskan ke penyidikan,” jelas Wawan. Sementara MAY, sebagai pengguna berat, direkomendasikan menjalani rawat inap selama tiga bulan di lembaga kesehatan BNN.
“MAY dikategorikan sebagai pengguna berat dan harus menjalani rawat inap selama tiga bulan,” tambah Wawan.
Selain itu, selebgram SA dan FA termasuk dalam kelompok pengguna ringan. Mereka akan diberikan perawatan jalan di BNN dengan jadwal pertemuan tiga hingga enam kali. “Kedua orang tersebut tidak terbukti terlibat jaringan narkotika,” tambah Muharman, menjelaskan bahwa mereka lebih banyak terlibat dalam penggunaan narkoba secara individual.
Detail Lain dari Kasus Ini
Menurut informasi yang dihimpun, sejumlah warga yang diamankan dalam operasi itu juga mengonsumsi alkohol. “SA ditemukan mengonsumsi alkohol selain ganja dan etomidate,” kata Wawan. Meski demikian, keterlibatan mereka dalam penggunaan narkoba tidak dikaitkan dengan aktivitas ilegal yang lebih besar.
BNN Kota Pekanbaru menyatakan bahwa seluruh pemeriksaan dilakukan secara sistematis, termasuk analisis terhadap kondisi kesehatan para tersangka. Hasilnya, tiga belas orang yang diamankan menunjukkan bahwa ada pola penggunaan narkoba yang beragam. “Sebagian besar hanya terlibat dalam penggunaan ringan, namun ada yang secara aktif mengedarkan barang bukti,” jelas Muharman.
“Mereka adalah inisial KS (32), RR (22), GSA (23), TT (28), AF (21), MAY (24), FTR (22), IMF (22), MA (23), NR (23), SAP (22), SA (23), dan ALS (23),” kata Muharman.
Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan selebgram dan anak seorang pejabat daerah. FTR, yang diduga sebagai pengedar, akan dihadapkan pada penyidikan lebih lanjut. Sementara MAY, meskipun hanya pengguna, akan menjalani rawat inap karena tingkat kecanduan yang lebih tinggi. “Dari hasil pemeriksaan, FR (mungkin FTR?) menjadi pemilik barang dan akan menghadapi proses penyidikan,” terang Muharman.
Pengaruh Razia Terhadap Masyarakat Lokal
Operasi ini dianggap sebagai langkah penting dalam mengurangi konsumsi narkoba di kalangan masyarakat. “Dengan mengungkap aktifitas di tempat hiburan malam, kita bisa menekan kebiasaan buruk yang merugikan kesehatan masyarakat,” kata Muharman. Ia menekankan bahwa THM sering kali menjadi tempat berkumpulnya para pengguna narkoba, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.
Kombes Pol Wawan menambahkan bahwa para tersangka yang diperiksa juga menunjukkan peningkatan kesadaran akan dampak negatif narkoba. “Beberapa dari mereka menyatakan bahwa penggunaan narkoba terjadi karena tekanan sosial atau lingkungan kerja,” ujarnya. Ia menyarankan bahwa seluruh pihak, baik individu maupun institusi, harus bekerja sama dalam pencegahan narkoba.
Kasus yang Dianggap Perlu Perhatian Khusus
Adanya keterlibatan selebgram dan anak bupati membuat kasus ini lebih menarik perhatian. “SA sebagai selebgram terbukti mengonsumsi ganja serta alkohol, yang menjadi pengingat bahwa bahaya narkoba tidak terbatas pada kalangan tertentu,” kata Wawan. Sementara FA, yang merupakan anak kepala daerah, dinyatakan positif ganja dan etomidate. “Paparan asap dari aktivitas di THM disebut sebagai penyebab kecanduan tersebut,” jelasnya.
Pemeriksaan yang dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara menunjukkan bahwa seluruh pelaku mengalami efek narkoba. “Dari hasil tes, seluruhnya positif, termasuk FTR dan MAY,” kata Muharman. Ia menambahkan bahwa para pelaku tersebut mengakui bahwa mereka sering menggunakan narkoba di lingkungan tempat hiburan malam yang menjadi pusat sosialisasi dan pertemuan.
Kasus ini diharapkan menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap bahaya narkoba. “Kita harus mengingatkan bahwa narkoba bisa merusak kesehatan dan mengganggu kehidupan seseorang,” ujar Muharman. Selain itu, operasi ini juga menunjukkan bahwa pemerintah daerah dan kepolisian tetap aktif dalam mengawasi lingkungan yang rawan narkoba.
Para tersangka yang tidak terbukti terlibat dalam jaringan besar akan diberikan bimbingan dan pengawasan terpadu. “Kami berharap mereka bisa berubah dan tidak kembali ke cara yang merugikan diri sendiri,” tambah Wawan. Dengan adanya perawatan jalan dan rawat inap, para pelaku diberikan kesempatan untuk memulihkan diri dari ketergantungan narkoba.
Kesimpulan dan Harapan Masa Depan
Kasus penggunaan narkoba yang melibatkan selebgram dan anak kepala daerah di Riau menunjukkan bahwa narkoba bisa menjangkau berbagai kalangan. “Ini menjadi bukti bahwa tidak ada yang terlalu aman dari bahaya narkoba,” kata Muharman. Ia berharap kejadian ini menjadi momentum untuk memperkuat kebijakan pemberantasan narkoba di tingkat lokal.
Operasi yang dilakukan di Pekanbaru menunjukkan konsistensi kepolisian dalam mengamankan individu yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. “Kami terus berupaya menekan penyebaran narkoba ke berbagai lapisan masyarakat,” ujar Wawan. Dengan menangani kasus ini secara transparan, pihak BNN dan kepolisian berharap bisa meningkatkan kepercayaan publik terhadap upaya pemberantasan narkoba.
