Main Agenda: Kementan dan Bapanas perkuat penyerapan telur peternak di Magetan
Kementan dan Bapanas Perkuat Penyerapan Telur Peternak di Magetan
Main Agenda – Dalam upaya menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat, Kementerian Pertanian (Kementan) bekerja sama dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) serta Pemerintah Kabupaten Magetan mengambil langkah strategis untuk meningkatkan penyerapan telur ayam ras. Kebijakan ini dirancang agar produksi telur yang berlebihan tidak mengganggu harga di tingkat produsen. “Kami bertujuan memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi sekaligus menjaga stabilitas usaha peternak,” kata Makmun, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu (9/5).
Langkah Strategis Kementan dan Bapanas
Koordinasi antarlembaga dilakukan melalui rapat hybrid yang digelar oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan. Pertemuan ini turut dihadiri oleh Kementan, Bapanas, asosiasi perunggasan, peternak, serta pelaku usaha. Menurut Makmun, pemerintah memandang surplus produksi telur harus dikelola secara cepat dan terukur agar tidak menurunkan harga jual di tingkat peternak. “Dengan percepatan penyerapan dan distribusi, kita bisa menjaga keseimbangan pasokan serta meningkatkan daya beli masyarakat,” jelasnya.
“Harus ada yang mengomando di daerah agar harga penjualan telur tidak melebihi rentang HAP. Ini akan memastikan peternak tetap mendapat keuntungan dan semangat untuk meningkatkan produksi,” ujar Makmun.
Dalam konteks nasional, Kementan menekankan pentingnya hilirisasi dan perluasan pasar untuk memastikan hasil pertanian bisa terserap optimal. “Kami terus memperkuat kerja sama dengan lembaga terkait, serta menyusun strategi distribusi antar daerah untuk menekan biaya produksi dan menjaga keberlanjutan usaha,” tambahnya. Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, yang menekankan peran pemerintah dalam memastikan ketahanan pangan.
Inisiatif Pemerintah Daerah Magetan
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan, Nur Haryani, menyampaikan beberapa langkah cepat yang telah disiapkan pemerintah setempat untuk mendukung penyerapan telur. “Pemerintah daerah berkomitmen mengupayakan penguatan konsumsi telur melalui berbagai kegiatan, seperti pembelian oleh aparatur sipil negara (ASN) dan kampanye penggunaan telur di masyarakat,” ujarnya. Langkah ini dianggap sebagai bentuk perhatian terhadap ketahanan pangan dan keberlanjutan usaha peternak rakyat.
“Penyerapan telur melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan ditingkatkan dari sebelumnya satu kali menjadi tiga kali dalam seminggu. Kami berharap ini bisa mendorong produksi peternak lebih banyak terserap,” kata Nur Haryani.
Dalam upaya ini, Magetan juga memperkuat kerja sama dengan program-program seperti kegiatan kesehatan ibu dan anak (posyandu), pemberian makanan tambahan (PMT), serta pencegahan stunting. “Semua program tersebut bertujuan menyasar kelompok masyarakat yang membutuhkan, sambil mendorong konsumsi protein hewani secara teratur,” tambahnya. Dengan demikian, konsumsi telur bisa meningkat, sehingga membantu menekan harga jual di tingkat peternak.
Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan
Untuk menekan biaya produksi, pemerintah daerah Magetan mulai menyalurkan bantuan jagung subsidi melalui Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Langkah ini diharapkan bisa meringankan beban biaya pakan bagi peternak, terutama dalam kondisi surplus produksi telur. “Dengan bantuan jagung subsidi, peternak bisa memperoleh bahan baku pakan dengan harga lebih terjangkau, sehingga memperkuat daya tahan usaha mereka,” jelas Nur Haryani.
Kementan juga meminta pemerintah daerah menertibkan pedagang yang menjual telur di bawah harga acuan pembelian/penjualan (HAP). “Ini penting agar peternak tidak mengalami kerugian besar dan tetap bersemangat meningkatkan produksi,” tambah Makmun. Langkah ini diperkuat oleh koordinasi dengan asosiasi perunggasan dan pelaku usaha, untuk memastikan harga telur tetap stabil.
Upaya Memastikan Stabilitas Subsektor Perunggasan
Kementan dan Bapanas secara aktif memastikan ketahanan subsektor perunggasan nasional. “Dengan menekan biaya produksi dan meningkatkan penyerapan telur, kita bisa menjaga keseimbangan antara penawaran dan permintaan,” ujar Makmun. Ia menekankan bahwa program ini tidak hanya fokus pada penyerapan telur, tetapi juga pada penguatan ketahanan pangan secara keseluruhan.
Kebijakan penyerapan telur di Magetan diharapkan menjadi contoh yang bisa diaplikasikan di daerah lain. Dalam pertemuan hybrid, pihak Kementan dan Bapanas menggali berbagai solusi, seperti pengembangan pasar ekspor, penguatan distribusi antar daerah, serta penerapan teknologi dalam pengelolaan produksi. “Kolaborasi ini menjadi jembatan antara produsen dan konsumen, sehingga ekosistem pertanian tetap sehat,” kata Makmun.
Strategi Jangka Panjang untuk Ketahanan Pangan
Menurut Nur Haryani, penyerapan telur melalui MBG dan program bantuan sosial telah memberikan dampak positif di tingkat lokal. “Dengan frekuensi pembelian yang lebih tinggi, masyarakat akan lebih terbiasa mengonsumsi telur, yang sekaligus meningkatkan permintaan pasar,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa program tersebut juga membantu meminimalkan risiko kerusakan telur karena keterlambatan distribusi.
Kementerian Pertanian optimistis bahwa penguatan penyerapan telur, distribusi antar daerah, pengendalian biaya produksi, serta peningkatan konsumsi protein hewani akan memperkuat stabilitas subsektor perunggasan. “Ini adalah langkah terpadu untuk menjaga ketersediaan bahan pangan sekaligus mengurangi risiko ketergantungan pada harga global,” jelas Makmun. Kebijakan ini juga sejalan dengan visi pemerintah dalam mendorong pertanian rakyat menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional.
Kolaborasi Antara Pusat dan Daerah
Koordinasi antara Kementan, Bapanas, dan pemerintah daerah Magetan menjadi kunci keberhasilan program ini. Makmun menyoroti bahwa dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan agar kebijakan tidak hanya sekadar kebijakan kertas, tetapi benar-benar berdampak nyata. “Kerja sama antarlembaga dan antar daerah harus terus ditingkatkan, termasuk memanfaatkan kebijakan nasional untuk menguatkan usaha lokal,” ujarnya.
Nur Haryani menegaskan bahwa pemerintah daerah terus mengoptimalkan program-program yang sudah ada, seperti MBG, PMT, dan kegiatan sosial lainnya. “Kami akan terus memantau perkembangan penyerapan telur, sambil menyes
