Iran kecam pernyataan Trump soal penyitaan kapal Iran
Iran Kecam Pernyataan Trump Soal Penyitaan Kapal di Selat Hormuz
Iran kecam pernyataan Trump soal penyitaan – Teheran, Iran, pada hari Sabtu (2/5) memberikan respons tajam terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut penyitaan kapal-kapal Iran oleh AS sebagai tindakan “perompakan.” Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menyampaikan kecaman tersebut melalui unggahan di platform X, menekankan bahwa Trump dengan berani menyamakan tindakan penyitaan oleh AS ke dalam kategori kriminal yang melanggar hukum internasional.
“Presiden AS secara terbuka menggambarkan penyitaan ilegal kapal-kapal Iran sebagai ‘perompakan,’ dengan berani membanggakan bahwa ‘kami bertindak seperti perompak,’” kata Baghaei dalam unggahannya. “Ini bukan sekadar kesalahan ucapan. Ini adalah pengakuan langsung tentang sifat kriminal dari tindakan mereka terhadap pelayaran maritim internasional,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Baghaei meminta masyarakat internasional, negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta Sekretaris Jenderal PBB untuk mempertegas penolakan terhadap normalisasi tindakan penyitaan yang dianggap sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional. Dia menyoroti bahwa AS mengambil langkah-langkah keras, termasuk memblokir kapal Iran, tanpa ada dasar hukum yang jelas, yang berdampak pada jalur perdagangan internasional.
Sebelumnya, Trump dalam acara di Florida pada Jumat (1/5) menyombongkan bahwa operasi blokade oleh Angkatan Laut AS dilakukan dengan cara yang mirip dengan tindakan perompak. “Kami merampas kapal, kami merampas kargo, kami merampas minyak. Ini bisnis yang sangat menguntungkan,” ujarnya. Pernyataan itu menunjukkan sikap AS yang percaya diri mengklaim bahwa tindakan mereka terhadap Iran sebagai bentuk kekuasaan militer yang efektif, meskipun dianggap sebagai ancaman terhadap kebebasan laut.
“Kami merampas kapal, kami merampas kargo, kami merampas minyak. Ini bisnis yang sangat menguntungkan,” kata Trump dalam acara tersebut, menegaskan bahwa AS memandang penyitaan kapal sebagai upaya yang memperoleh keuntungan ekonomi.
Baghaei menilai bahwa pernyataan Trump mengubah narasi penyerangan AS terhadap Iran menjadi sesuatu yang disebut sebagai tindakan kriminal, sehingga memberikan ruang untuk memperkuat tuntutan Iran terhadap AS. Pernyataan tersebut, menurutnya, juga menunjukkan bahwa AS tidak segan-segan mengedepankan kekuasaannya untuk menghalangi kegiatan ekonomi Iran, termasuk pengangkutan minyak.
Pernyataan Trump muncul setelah blokade AS terhadap Iran di Selat Hormuz terus berlanjut, yang telah memicu reaksi keras dari Iran. Kebijakan blokade ini diterapkan sebagai langkah untuk membatasi akses Iran terhadap sumber daya ekonomi, terutama minyak, yang menjadi komoditas utama negara itu. Selat Hormuz, sebagai jalur vital perdagangan minyak, telah menjadi titik kontroversi sejak pertengahan April, ketika perundingan pascagencatan senjata antara Iran, AS, dan Israel di Islamabad gagal mencapai kesepakatan.
Sebelumnya, gencatan senjata antara Iran, AS, dan Israel berlaku sejak 8 April, setelah 40 hari pertempuran yang berat. Namun, meski ada jeda perang, AS tidak berhenti untuk melanjutkan operasi militer, termasuk serangan udara terhadap pelabuhan Iran. Pada 28 Februari, AS dan Israel melakukan operasi gabungan yang menargetkan Teheran serta kota-kota lain, mengakibatkan kematian Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, dan sejumlah komandan senior serta warga sipil.
Iran, sebagai balasan, memulai gelombang serangan rudal dan drone ke arah Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah. Serangan tersebut dianggap sebagai tindakan represif yang memperkuat keterlibatan militer antara kedua pihak. Di sisi lain, Iran memperketat kendali atas Selat Hormuz, mengambil langkah-langkah untuk menutup jalur aman bagi kapal-kapal yang terafiliasi dengan AS dan Israel.
Baghaei menegaskan bahwa kebijakan blokade AS menimbulkan dampak signifikan terhadap perdagangan internasional, terutama karena Selat Hormuz menjadi jalur utama untuk pengiriman minyak ke pasar global. Ia mengkritik AS karena menggunakan wewenang militer untuk menghalangi kegiatan ekonomi Iran, yang seharusnya didasarkan pada keputusan politik internasional yang lebih adil. Baghaei menyerukan kepada PBB untuk menjadi pihak yang menjunjung tinggi hukum internasional, bukan sekadar menyambut tindakan kekuasaan militer AS.
Penyitaan kapal Iran oleh AS bukanlah kejadian pertama dalam hubungan yang tegang antara kedua negara. Sejak beberapa bulan terakhir, AS terus melakukan serangkaian operasi untuk membatasi kegiatan Iran di Selat Hormuz, yang dilihat sebagai ancaman terhadap keamanan lalu lintas laut. Meski Iran menolak pernyataan Trump sebagai penghinaan, mereka tetap mempertahankan sikap keras terhadap tindakan AS, mengingat sejarah konflik yang berlarut-larut antara kedua negara.
Sebagai respons terhadap tindakan AS, Iran menegaskan komitmen mereka untuk melindungi kebebasan maritim. Mereka juga mengingatkan bahwa blokade yang diterapkan tidak hanya merugikan Iran, tetapi juga menimbulkan risiko bagi negara-negara lain yang bergantung pada aliran minyak dari wilayah tersebut. Baghaei menekankan bahwa keputusan AS untuk menyita kapal Iran menunjukkan penggunaan kekuatan secara tidak proporsional, yang bertentangan dengan prinsip hukum internasional.
Kebijakan blokade AS di Selat Hormuz memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk negara-negara tetangga dan organisasi internasional. Baghaei berharap PBB dapat memainkan peran aktif dalam menghentikan tindakan ini, karena dianggap sebagai pelanggaran terhadap prinsip-prinsip kebebasan laut. Iran juga mengingatkan bahwa AS tidak hanya membatasi akses Iran ke minyak, tetapi juga mengancam keamanan dan stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Dengan pernyataan Trump yang disampaikan secara langsung, AS semakin memperkuat narasi bahwa Iran bertindak sebagai musuh dari kebebasan ekonomi dan perdagangan internasional. Namun, Iran menganggap tindakan AS sebagai bentuk ekspansi kekuasaan yang tidak adil, terutama setelah perundingan di Islamabad gagal membuahkan kesepakatan. Baghaei menegaskan bahwa tindakan penyitaan kapal Iran oleh AS adalah bentuk invasi yang melanggar hak negara-negara lain untuk menggunakan jalur laut secara bebas.
Kecaman Iran terhadap Trump juga menunjukkan ketegangan politik yang semakin memanas antara kedua negara. Baghaei berharap masyarakat internasional dapat mengambil posisi tegas untuk menentang tindakan AS, yang dianggap sebagai bentuk tekanan tidak adil terhadap Iran. Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa AS tidak hanya menggunakan keku
