Rencana Khusus: Pertamina: Harga minyak tinggi jadi momentum tingkatkan produksi
Pertamina: Harga minyak tinggi jadi momentum tingkatkan produksi
Di Malang, Jawa Timur, PT Pertamina Hulu Energi menyatakan bahwa kenaikan harga minyak global merupakan kesempatan strategis untuk mempercepat produksi dan menyelesaikan proyek-proyek yang tertunda. Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio, dan Komersial perusahaan tersebut, Edi Karyanto, mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak memperkuat kemungkinan ekonomis proyek migas yang sebelumnya dianggap kurang menguntungkan.
“Kalau PHE, kami justru melihat ini sebagai peluang untuk meningkatkan output, ya. Karena sejumlah rencana kerja kami menjadi lebih layak secara ekonomis,” ujar Edi dalam acara media gathering di Malang, Jawa Timur, Kamis.
Dia menambahkan bahwa kenaikan harga minyak dunia telah mengubah perspektif beberapa proyek, membuatnya lebih menarik untuk dikerjakan. Saat ini, harga minyak jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) mencapai sekitar 98 dolar AS per barel, lebih tinggi dari rata-rata harga bulan Januari 2026, di mana Brent (ICE) berada di 64 dolar AS per barel.
Edi memproyeksikan bahwa harga minyak global akan tetap berada di level yang lebih tinggi hingga akhir tahun dibandingkan kinerja kuartal I 2026. “Mungkin ke depan hingga Desember, harga berpotensi lebih baik dari Januari, Februari, dan Maret ini,” tambahnya.
Tetapi, harga minyak sempat mengalami penurunan signifikan sebesar 13–17 persen setelah pengumuman gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran, menurut data perdagangan Rabu (8/4) pagi, seperti dilaporkan Sputnik. Pada Selasa (7/4) malam, Presiden AS Donald Trump mengumumkan persetujuan gencatan senjata bilateral dengan Iran selama dua pekan.
Dalam wawancara, Trump menyebutkan bahwa Iran juga setuju menjamin keamanan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Pada pukul 00.17, harga Brent berjangka Juni turun 12,6 persen, menjadi 91,92 dolar AS (kira-kira Rp1,56 juta) per barel. Ini merupakan pertama kalinya sejak 23 Maret harga Brent melemah di bawah 92 dolar AS.
Sementara itu, WTI berjangka Mei juga mengalami penurunan 16,6 persen, turun menjadi 94,10 dolar AS (kira-kira Rp1,6 juta). Namun, serangan udara Israel ke Dahiyeh, area selatan Beirut, Lebanon, pada Rabu (8/4), memicu kenaikan kembali harga Brent pada Kamis (9/4). Laporan Anadolu menyebutkan ledakan besar dan asap tebal terlihat di lokasi serangan tersebut, yang memperkuat kekhawatiran mengenai pasokan minyak global.
