Mengatasi Masalah: Menteri LH: Budaya pemilahan sampah harus jadi kebiasaan mahasiswa

Menteri Lingkungan Hidup: Budaya Pemilahan Sampah Perlu Diadopsi oleh Mahasiswa

Banjarbaru, Kamis – Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq secara resmi melantik sejumlah mahasiswa sebagai penggerak dalam pemilahan sampah di Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Upacara ini dilakukan dalam rangkaian gerakan peduli lingkungan dengan tema “Sampah Kampus, Selesai di Kampus”.

Peran Mahasiswa dalam Membentuk Budaya Lingkungan

Dalam sambutannya, Hanif menekankan bahwa para mahasiswa yang dilantik wajib menjadi contoh dalam mengelola sampah secara teratur. “Mereka diharapkan menerapkan praktik nyata dan menjadi teladan bagi seluruh civitas akademika ULM,” ujarnya.

“Pemilahan sampah merupakan indikator penting dalam pengelolaan lingkungan yang efektif. Jika sampah terpisah, sebagian besar masih bisa dimanfaatkan sebagai sumber daya,” tegas Menteri Hanif.

Target Nasional dan Tantangan Pengelolaan Sampah

Menteri Hanif menyampaikan komitmennya untuk mendukung gerakan pemilahan sampah di ULM agar selaras dengan target nasional pengelolaan sampah pada 2029. Ia menyoroti bahwa Indonesia menghasilkan 143 ribu ton sampah per hari, sehingga diperlukan pendekatan sistematis dari sumber.

“Jika tidak dikelola dengan baik, masalah sampah bisa menjadi ancaman serius bagi lingkungan,” kata Hanif.

Perkembangan Sampah Nasional dan Upaya Kalsel

Dijelaskan bahwa total sampah Indonesia mencapai 53 juta ton pada 2025, tetapi hanya 26 persen yang berhasil dikelola. Kalsel, lanjutnya, masih berada di bawah rata-rata nasional, sehingga perlu diadopsi berbagai metode dan teknologi inovatif.

Inovasi Teknologi di Fakultas Teknik ULM

Setelah mengukuhi para mahasiswa, Menteri Hanif melanjutkan kunjungan ke Fakultas Teknik ULM untuk meninjau teknologi lingkungan terbaru. Salah satu inovasi yang diperlihatkan adalah reaktor peleleh plastik hasil riset dosen dan mahasiswa. “Ini membuktikan komitmen ULM dalam mengembangkan solusi pengurangan sampah serta pendidikan lingkungan berkelanjutan,” ucapnya.