Latest Program: ILUNI FKUI-FIAKSI buka posko bantu dokter internship hadapi tantangan

ILUNI FKUI-FIAKSI buka posko bantu dokter internship hadapi tantangan

Latest Program – Jakarta – Dalam upaya meningkatkan kualitas program internship bagi para dokter, Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI UI) dan Forum Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Seluruh Indonesia (FIAKSI) telah menyatukan langkah untuk membuka posko pengaduan. Mekanisme ini bertujuan memberikan bantuan menyeluruh kepada calon dokter yang sedang menjalani masa magang, mulai dari aspek perlindungan hukum hingga masalah finansial. Langkah kolaboratif ini dianggap penting guna mengatasi tantangan yang sering dihadapi dalam dunia medis, terutama selama masa paling kritis dalam pembentukan profesi.

Pelaporan Awal dan Kebutuhan Analisis Lebih Lanjut

Ketua Umum ILUNI FKUI, Marsekal Pertama TNI (Purn.) Dr. dr. Wawan Mulyawan, menjelaskan bahwa hingga saat ini hanya tiga orang yang menyampaikan laporan melalui pesan WhatsApp atau secara langsung. Namun, ia menekankan bahwa jumlah pelapor yang kurang bisa disebabkan karena belum adanya sistem yang terstruktur untuk mengumpulkan data secara kronologis. “Kita ingin mengumpulkan laporan lebih rinci agar bisa menganalisis penyebab terjadinya tantangan tersebut secara menyeluruh,” ujarnya.

“Yang sudah ada yang masuk lewat WA maupun yang langsung mau hubungi itu baru ada tiga yang menyampaikan. Tapi memang kita inginnya itu dibuat kronologis dan lain-lain. Dan itu memang belum ada yang secara spesifik mengirimkan kronologisnya yang lengkap,”

Dalam penjelasannya, Wawan mengungkapkan bahwa tantangan yang dihadapi para dokter internship tidak hanya terbatas pada perundungan atau penolakan izin cuti sakit. Tantangan utama lainnya, menurutnya, adalah kurangnya bimbingan praktis di lapangan. “Para dokter muda sering kali merasa kesulitan menghadapi situasi klinis yang kompleks, karena belum memiliki panduan yang jelas,” tambahnya.

Kebutuhan Pemantauan dan Perlindungan

Langkah pembukaan posko ini, menurut Wawan, tidak hanya menunjukkan kepedulian alumni terhadap generasi muda medis, tetapi juga upaya untuk memastikan program internship berjalan dengan efektif. “Kita ingin memantau kualitas program dan memastikan para dokter tidak mengalami kesulitan yang berlebihan,” katanya.

Program internship telah berlangsung sejak tahun 2010. Meski dinilai cukup baik, selama 16 tahun terakhir, program ini mulai menunjukkan tantangan yang lebih serius. Wawan mengungkapkan, dalam tahun 2026, terdapat empat kasus kematian dokter internship yang menjadi sorotan. “Kita melihat kalau hanya satu kasus aja kita isolasi, mungkin itu kebetulan. Tapi terjadi beberapa kasus yang kemudian kita pikir ini mesti diperdalam lagi,” katanya.

Respons Pemerintah dan Tantangan Kebijakan

Dalam wawancara yang sama, Wawan juga menyebutkan bahwa kebijakan Bantuan Biaya Hidup (BBH) senilai sekitar Rp3 juta per bulan dinilai tidak memadai mengingat beban kerja yang sangat tinggi. “Dokter internship harus bekerja hampir 48 jam setiap minggunya, tapi mereka hanya mendapat penghasilan sebesar itu. Ini membuat kami mempertanyakan apakah kebijakan tersebut sesuai dengan kewajiban mereka,” ujarnya.

“Tapi kan mereka diposisikan sebagai orang yang lagi sekolah gitu. ‘Orang lagi sekolah kan nggak dibayar nggak apa-apa dong gitu kan’. Nah ini kan mindset yang mesti diubah ya,”

Menurut Wawan, perlu adanya perubahan paradigma di berbagai institusi medis agar para dokter tidak dirugikan secara finansial. Ia menambahkan, meski Kementerian Kesehatan telah menanggapi cepat terkait kasus kematian tersebut, langkah lebih lanjut harus melibatkan pengawasan yang ketat dan peningkatan pengawalan terhadap pelaksanaan program.

Peran Alumni dan Keterbukaan Informasi

Di sisi lain, Ketua Umum FIAKSI, Brigjen TNI (Pur) dr. Dewi Puspitorini, menegaskan bahwa posko ini bukan hanya untuk alumni UI, tetapi juga bisa diakses oleh alumni dari fakultas kedokteran lainnya. “Kita mengimbau kepada semua ikatan alumni untuk tetap dekat dengan anggotanya dan alumninya, sehingga mereka bisa melaporkan masalah yang dihadapi,” kata Dewi.

“Jadi kita mengimbau kepada ikatan alumni untuk selalu dekat sama anggotanya dan alumninya dan bisa melaporkan karena sekarang sudah mulai banyak keterbukaan,”

Dewi juga menyoroti pentingnya alumni sebagai bagian dari aset bangsa. “Para alumni fakultas kedokteran adalah fondasi masa depan pelayanan kesehatan Indonesia, jadi perlindungan yang baik akan memastikan mereka tetap sehat dan bisa memberikan layanan terbaik,” imbuhnya.

Perkembangan dan Harapan Masa Depan

Dengan adanya posko ini, para alumni diharapkan bisa menjadi garda depan dalam menemani para dokter muda menghadapi tantangan di lapangan. Dewi menekankan bahwa keterbukaan informasi menjadi kunci untuk mempercepat respons terhadap masalah yang muncul. “Kami percaya bahwa melalui kolaborasi dan komunikasi yang intens, kita bisa mengidentifikasi masalah secara lebih cepat dan menyelesaikannya,” katanya.

Pembukaan posko juga dianggap sebagai respons positif terhadap kebutuhan pengawasan di sektor kesehatan. Kebijakan BBH dan beban kerja yang berlebihan, menurut Dewi, menjadi indikasi bahwa sistem yang ada masih memerlukan perbaikan. “Kita perlu mengubah cara berpikir, agar para dokter internship tidak hanya dianggap sebagai sumber daya tanpa memperhatikan kesejahteraan mereka,” ujarnya.

Penguatan Kualitas dan Keberlanjutan Program

Sebagai langkah lanjutan, Dewi berharap pihak berwenang bisa mengambil tindakan konkret untuk memastikan program internship tidak hanya menghasilkan dokter yang kompeten, tetapi juga sehat secara fisik dan mental. “Kebutuhan bantuan di lapangan harus dipenuhi, agar para dokter tidak terlalu terbebani dan bisa fokus pada pembelajaran,” katanya.

Dalam konteks ini, program internship dianggap sebagai fondasi penting bagi pengembangan profesionalisme dalam bidang medis. Meski telah berjalan selama lebih dari satu dekade, banyak tantangan yang belum sepenuhnya diatasi. “Kami yakin bahwa melalui kolaborasi ini, permasalahan bisa dianalisis lebih mendalam dan solusi yang tepat bisa ditemukan,” tambah Wawan.

Posko pengaduan ini juga diharapkan menjadi wadah untuk meningkatkan kesadaran para alumni akan tanggung jawab mereka terhadap generasi muda. Dengan adanya mekanisme pelaporan yang lebih sistematis, para dokter internship akan merasa lebih didukung dalam menghadapi tantangan di dunia medis. Selain itu, posko ini juga bisa menjadi sarana untuk mengumpulkan data yang relevan guna mengevaluasi kebijakan di masa depan.

Dewi menegaskan bahwa keterbukaan informasi adalah kunci untuk mengurangi kesenjangan antara alumni dan para dokter yang sedang menjalani masa internship. “Saat ini, banyak alumni yang sudah lebih terbuka dalam berkomunikasi dengan anggotanya. Ini menjadi peluang untuk memperkuat peran mereka dalam memastikan kualitas program tetap terjaga,” katanya.

Menurut Wawan, langkah ini