Pilot

Solving Problems: Polisi Identifikasi Terduga Pelaku Penembakan Pilot AMA di Yahukimo

Pengidentifikasian Terduga Pelaku Penembakan Pilot AMA di Yahukimo Solving Problems - Operasi Damai Cartenz-2026, yang ditugaskan untuk mengamankan wilayah di

Desk Pilot
Published Juli 4, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Pengidentifikasian Terduga Pelaku Penembakan Pilot AMA di Yahukimo

Solving Problems – Operasi Damai Cartenz-2026, yang ditugaskan untuk mengamankan wilayah di Papua Pegunungan, telah menegaskan bahwa pilot pesawat PT Associated Mission Aviation (AMA), Nicholas F. Goselin (29), warga negara Amerika Serikat, meninggal akibat luka tembak dalam insiden serangan terhadap pesawat Pilatus PK-RCY di Lapangan Terbang Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo. Menurut informasi terkini, korban tewas secara mendadak setelah pesawatnya diserang oleh kelompok yang diduga teroris.

Proses identifikasi korban tewas telah dilakukan oleh tim Satgas, dengan pendampingan para ahli forensik. Pemeriksaan visum terhadap jenazah menjadi kunci dalam menentukan penyebab kematian. Dalam visum tersebut, ditemukan sejumlah luka yang memicu kepastian bahwa korban mengalami kekerasan akibat senjata api. Kombes Yusuf Sutejo, Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, menjelaskan bahwa autopsi tidak dilakukan karena hasil visum dan radiologi sudah cukup mengungkapkan penyebab kematian secara ilmiah.

“Berdasarkan kondisi jenazah saat pemeriksaan awal, autopsi tidak dianggap sebagai langkah utama. Penyebab kematian telah jelas terlihat melalui pemeriksaan luar tubuh dan pendukung radiologi,” kata Yusuf kepada media di Jayapura, Sabtu (4/7).

Detail Luka dan Kerusakan pada Jenazah

Dokter Forensik RS Bhayangkara Polda Papua, dr. Rommy Sebastian, melaporkan bahwa hasil visum menunjukkan adanya luka terbuka di area kepala, termasuk dahi, pipi kiri, serta sekitar telinga kanan. Selain itu, ditemukan juga luka lecet di sisi kanan kepala yang mengindikasikan adanya kekerasan dari benda tumpul. Dalam pemeriksaan lebih lanjut, terdapat patah tulang pada rahang atas kiri dan kanan, serta patah tulang rahang bawah sisi kanan yang mungkin terjadi akibat tekanan dari peluru.

Kerusakan yang paling menonjol adalah luka terbuka di pipi kiri, yang sesuai dengan karakteristik luka tembak masuk secara langsung (contact gunshot wound). Karumkit menegaskan bahwa posisi moncong senjata berada tegak lurus terhadap kulit korban, yang mengakibatkan peluru masuk melalui pipi dan keluar di dekat telinga kanan. Ini berdampak pada kerusakan berat pada dasar tengkorak, yang menjadi penyebab kematian cepat. Pemeriksaan radiologi (X-ray) memperkuat kesimpulan ini dengan menunjukkan adanya retakan pada tulang maksila.

“Lintasan peluru menyebabkan kerusakan serius pada dasar tengkorak. Hal ini menegaskan bahwa korban meninggal secara mendadak akibat kecepatan dampak yang sangat tinggi,” tambah dr. Rommy Sebastian.

Pengungkapan Identitas Pelaku

Dalam rangka penyelidikan, Satgas Gakkum Ops Damai Cartenz mengidentifikasi pelaku sebagai anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Bakusip. Kombes I. G. G. Era Adinata, Kasatgas Gakkum, menyatakan bahwa berdasarkan data sementara, aksi penembakan diduga berasal dari kelompok tersebut. Menurut Era, Bakusip merupakan kelompok baru yang dipimpin oleh M. Mbalingga, yang menjadi sosok sentral dalam operasi ini.

Kasatgas juga menyoroti hubungan yang sedang diinvestigasi antara Bakusip dengan kelompok Elkius Kobak, yang sebelumnya dikenal sebagai pelaku serangan di daerah lain di Papua. Meski identifikasi pelaku telah memastikan bahwa M. Mbalingga adalah kepala kelompok yang bertanggung jawab, penyidik masih menyelidiki kemungkinan keterlibatan Elkius Kobak dalam peristiwa ini. “Identifikasi pelaku sudah jelas, tetapi keterkaitan dengan kelompok lain masih dibuktikan melalui proses penyelidikan lanjutan,” ujar Era.

Profil Kelompok Bakusip dan Motif Serangan

Kelompok Bakusip, berdasarkan informasi dari Satgas, masih dalam tahap penyelidikan untuk memahami secara rinci penempatan senjata mereka. Tim masih memetakan anggota dan persiapan operasi yang dilakukan kelompok ini. Sebelum insiden, kelompok tersebut sebelumnya sempat mengancam kegiatan penerbangan di wilayah yang mereka klaim sebagai zona operasi. Ini menjadi petunjuk bahwa serangan terhadap pesawat AMA terkait dengan konflik territorial dan ketegangan antara kelompok bersenjata dengan pihak pemerintah.

Menurut data yang dikumpulkan, Bakusip termasuk dalam kelompok KKB yang aktif di daerah perbatasan Papua. Mereka dianggap sebagai pengganggu utama operasi militer dan keamanan di wilayah tersebut. Pemeriksaan lebih lanjut mengungkap bahwa pelaku bergerak dengan strategi yang terencana, termasuk menargetkan pesawat yang melintasi daerah mereka. Motif pasti serangan, baik untuk melindungi wilayah atau mempercepat konflik, masih dalam proses analisis.

Peluang Keterlibatan Kelompok Lain

Satgas Damai Cartenz menekankan bahwa meskipun identifikasi pelaku telah mengarah pada M. Mbalingga, hubungan dengan kelompok Elkius Kobak tetap menjadi fokus investigasi. Penyidik mencari bukti bahwa kedua kelompok ini mungkin bekerja sama atau memiliki kepentingan bersama dalam serangan terhadap pesawat. Elkius Kobak, yang dikenal sebagai pelaku serangan di daerah lain, mungkin terlibat dalam menyusun rencana serangan ini.

Dalam beberapa hari terakhir, kelompok Elkius Kobak diterima sebagai pelaku kekerasan di Wilayah Pegunungan Tengah. Dengan adanya perangkat senjata dan strategi operasional yang berbeda, Satgas mempertimbangkan kemungkinan bahwa mereka saling mendukung dalam menyerang target penerbangan. Meski demikian, tidak ada bukti langsung yang menghubungkan kedua kelompok, sehingga penyidikan masih berlangsung.

Insiden ini menjadi sorotan karena menggambarkan ketegangan yang semakin tinggi antara kelompok bersenjata dan pihak pemerintah di Papua. Dengan menewaskan pilot asing, Bakusip mengirimkan pesan bahwa mereka siap melawan kehadiran kekuasaan nasional di wilayah yang dianggap sebagai wilayah mereka. Penyidik berharap bahwa visum dan pemeriksaan lebih lan

Leave a Comment