Jf3

Main Agenda: JF3 Fashion Festival 2026 Bawa Optimisme Memperkuat Masa Depan Ekosistem Fesyen Indonesia

JF3 Fashion Festival 2026 Bawa Harapan Membangun Ekosistem Fesyen Indonesia yang Kuat Main Agenda - MERAHPUTIH.COM - Dalam acara Media Preview JF3 2026 yang

Desk Jf3
Published Juli 5, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

JF3 Fashion Festival 2026 Bawa Harapan Membangun Ekosistem Fesyen Indonesia yang Kuat

Main Agenda – MERAHPUTIH.COM – Dalam acara Media Preview JF3 2026 yang dihelat di Kelapa Gading, Kamis (2/7), Soegianto Nagaria, ketua Jakarta Fashion and Food Festival (JF3), menyatakan bahwa penyelenggaraan tahun ini adalah ke-22, dan terasa bahwa perayaan ke-50 semakin dekat. Kegiatan ini menjadi sumber semangat bagi penyelenggara, karena optimisme yang melibatkan keberlanjutan industri fesyen menjadi kekuatan utama dalam menghadapi tantangan masa depan.

Tema dan Visi Membentuk Masa Depan

JF3 Fashion Festival 2026 mengusung tema “Recrafted: Shaping the Future,” yang menegaskan komitmen festival untuk menjadikan fesyen sebagai bagian dari sistem yang terus berkembang. Menurut Soegianto, tema ini mencerminkan pergeseran paradigma dari sekadar wadah presentasi koleksi menjadi platform yang lebih luas, yang melibatkan kolaborasi, peningkatan kualitas, dan penguatan identitas desainer. “Fesyen bukan hanya ekspresi kreatif, tapi ekosistem yang perlu dibentuk secara berkelanjutan,” tutur Soegianto.

“Sebagai platform, JF3 masih berkembang dan terus belajar. Di sini kita membangun sinergi yang saling menguatkan,” kata Soegianto dalam wawancara dengan Merahputih.com.

Festival ini tidak hanya menampilkan karya kreatif, tetapi juga menjadi ruang interaksi antara desainer, pelaku UMKM, perajin, institusi pendidikan, komunitas kreatif, media, pembeli, dan mitra internasional. Pada kesempatan ini, Soegianto menekankan bahwa ekosistem fesyen Indonesia tidak bisa dibangun oleh satu pihak saja, tetapi melalui kerja sama yang terpadu. “Kami percaya bahwa kreativitas yang didukung infrastruktur yang tepat akan menghasilkan dampak ekonomi yang lebih besar,” lanjutnya.

Kolaborasi yang Menjadi Fondasi

Dari awal berdiri pada 2004, JF3 terus menjadi pusat pertemuan dan pertukaran ide bagi industri fesyen. Dalam pelaksanaannya ke-22, festival ini menegaskan perannya sebagai salah satu wadah utama yang memperkuat sinergi antara berbagai pemangku kepentingan. “Tema ini sejalan dengan tuntutan industri fesyen masa kini, yang tidak hanya membutuhkan inovasi, tapi juga strategi bisnis yang matang dan kekuatan kompetitif,” ujar Soegianto.

“Talenta kita bagus, cuma perlu bentuk standar agar bisa eksis di ranah global,” kata Thresia Mareta, Advisor JF3, saat menjawab pertanyaan Merahputih.com.

Thresia menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam industri fesyen, selama kreativitas para desainer dipertemukan dengan sistem yang solid. “Talenta lokal harus berani tumbuh, bukan hanya berada di level potensi. Kita perlu konsisten mengolah keunikan budaya dan teknik tangan tradisional,” jelas Thresia. Ia menambahkan bahwa JF3 berupaya menciptakan lingkungan yang memungkinkan desainer berkembang, berkolaborasi, dan menemukan peluang untuk menembus pasar internasional.

Masa Depan yang Dibangun Bersama

Menurut Thresia, budaya Indonesia dan teknik keterampilan lokal adalah kekuatan utama yang perlu dijaga. “Kita punya warisan kebudayaan yang unik dan dikenal dunia, yang bisa menjadi diferensiasi dalam industri global,” imbuhnya. Ia juga menyebutkan bahwa JF3 memberikan ruang bagi desainer untuk tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga membangun identitas merek yang kuat dan berkelanjutan.

“Industri fesyen yang kuat tidak tumbuh dari satu acara, tetapi dari ekosistem yang dibangun secara konsisten,” tutur Soegianto.

Dalam konteks ini, JF3 terus memperluas jaringan nasional maupun internasional. Dari sisi domestik, festival ini memperkuat kemitraan dengan pelaku industri, sementara di tingkat global, hubungan JF3 dengan berbagai negara semakin erat. “Keberhasilan kita di dalam negeri menjadi fondasi untuk mengangkat fesyen Indonesia ke panggung internasional,” kata Soegianto.

Festival ini juga menjadi wadah bagi talenta muda dan perspektif baru dalam industri fesyen. Pada JF3 2026, lebih dari 50 desainer dan jenama dari berbagai belahan dunia akan hadir, termasuk sejumlah nama besar yang sudah lama terlibat dalam pengembangan industri ini. Dari Indonesia, Tities Sapoetra, Hartono Gan, AMOTSYAMSURIMUDA, Adrie Basuki, Sofie, HOWARD LAURENT, RAEGITAZORO, dan LAKON Indonesia akan kembali menampilkan karyanya, sementara juga ada desainer baru yang ingin menunjukkan ciptaannya.

Tema “Recrafted: Shaping the Future” menggambarkan upaya JF3 untuk mendorong perubahan positif dalam cara fesyen di Indonesia dihadapkan pada dinamika pasar global. Dengan menghadirkan berbagai elemen seperti inovasi, kualitas eksekusi, dan kemampuan merancang strategi bisnis, JF3 menegaskan bahwa industri ini perlu dipandang sebagai sistem yang terintegrasi, bukan sekadar kegiatan sementara.

Keberlanjutan ekosistem fesyen menjadi fokus utama JF3 2026. Puncak acara akan berlangsung pada 23-29 Juli 2026 di Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading, dan diharapkan mampu membangun hubungan yang lebih kuat antara kreativitas dan pasar. “Dari runway langsung ke konsumen, JF3 ingin menggandeng semua pihak untuk menciptakan alur yang efektif,” jelas Soegianto.

Menurutnya, pemenuhan kebutuhan industri fesyen masa depan tidak bisa tercapai tanpa kolaborasi antar sektor. “Dengan memperkuat ekosistem, kita bisa menciptakan ekonomi kreatif yang berdampak luas,” kata Soegianto. Ia menegaskan bahwa JF3 menjadi bagian dari perjalanan transformasi industri ini, sekaligus membawa pesan optimisme bahwa fesyen Indonesia mampu bersaing di panggung global.

Thresia Mareta juga menyampaikan bahwa ekosistem f

Leave a Comment