166

Key Issue: 166,15 Juta Orang Gunakan Layanan Urban Listrik KAI Group

166,15 Juta Orang Gunakan Layanan Urban Listrik KAI Group Key Issue - Mobilitas di kota-kota besar terus mengalami peningkatan akibat meningkatnya kepadatan

Desk 166
Published Juni 14, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

166,15 Juta Orang Gunakan Layanan Urban Listrik KAI Group

Key Issue – Mobilitas di kota-kota besar terus mengalami peningkatan akibat meningkatnya kepadatan aktivitas warga. Perjalanan ke tempat kerja, sekolah, pusat bisnis, kawasan pendidikan, bandara, dan ruang publik memerlukan alat transportasi yang efisien, terjadwal, serta ramah lingkungan. Dalam upaya memenuhi kebutuhan ini, KAI Group menghadirkan layanan transportasi berbasis listrik yang menjadi bagian penting dari sistem mobilitas perkotaan modern.

Kereta Listrik Perkotaan Berkontribusi Mengurangi Emisi

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, berbagai layanan yang dikembangkan KAI Group telah melayani total 166.154.342 pelanggan. Layanan ini mencakup LRT Jabodebek, Commuter Line Jabodetabek, Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta, Commuter Line Yogyakarta, serta LRT Sumsel. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan bahwa transportasi listrik memiliki peran signifikan dalam memenuhi kebutuhan warga akan sarana angkutan yang efisien, terintegrasi, dan minim emisi.

“Kereta listrik perkotaan memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Perjalanan menjadi lebih terukur, kapasitas layanan besar, dan emisi yang dihasilkan per pelanggan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kendaraan pribadi,” ujarnya, Sabtu (13/6).

Dari data yang tersedia, Layanan LRT Jabodebek mencatat 13.211.856 pengguna selama periode yang sama tahun lalu. Angka ini naik 23,16 persen dibandingkan Januari hingga Mei 2025, yang mencapai 10.727.798 pelanggan. Di sisi lingkungan, LRT Jabodebek menghasilkan emisi sekitar 15 gram CO2e per penumpang per kilometer. Angka ini lebih rendah dibandingkan sepeda motor, yang mencapai sekitar 37 gram CO2e per kilometer per penumpang.

KAI Group juga mencatat peningkatan signifikan dalam penggunaan Commuter Line Jabodetabek. Layanan ini menjadi tulang punggung transportasi harian di Jabodetabek karena menghubungkan area permukiman dengan pusat aktivitas ekonomi. Dalam Januari hingga Mei 2026, jumlah pelanggan mencapai 146.259.555, meningkat 5,81 persen dibandingkan Januari hingga Mei 2025 sebanyak 138.227.725. Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Commuter Line menghasilkan emisi sekitar 34,03 gram CO2 per penumpang-kilometer. Angka ini lebih rendah dibandingkan mobil yang mencapai sekitar 42 gram CO2 per kilometer per penumpang, dengan asumsi mobil terisi empat penumpang.

Layanan Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta juga memberikan kontribusi penting dalam memperkuat koneksi ke bandara. Selama Januari hingga Mei 2026, layanan ini melayani 1.013.574 pelanggan, naik 14,78 persen dibandingkan 883.065 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Commuter Line Yogyakarta mencatat 3.854.340 pengguna, meningkat 7,88 persen dari 3.572.727 pelanggan Januari hingga Mei 2025. Layanan ini mendukung pergerakan warga di lintas Yogyakarta-Solo, terutama antara kawasan pendidikan, perdagangan, pariwisata, dan pusat aktivitas harian.

LRT Sumsel sebagai Pionir Transportasi Listrik di Sumatra

Dalam wilayah Sumatra, LRT Sumsel menghadirkan solusi transportasi rel berbasis listrik pertama. Layanan ini melayani 1.815.017 pelanggan selama Januari hingga Mei 2026. Sistem LRT Sumsel menggunakan tenaga listrik dengan metode aliran bawah (third rail) bertegangan 750 V DC yang didukung dari gardu listrik. Metode ini membuat operasional LRT Sumsel bebas dari emisi gas buang langsung selama perjalanan, sekaligus menghubungkan berbagai titik aktivitas di Palembang, seperti kawasan permukiman, pusat bisnis, perkantoran, perguruan tinggi, kompleks Jakabaring, dan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Dari perbandingan data emisi, LRT Jabodebek menghasilkan CO2e sekitar 15 gram per penumpang-kilometer, sementara sepeda motor menghasilkan 37 gram. Dengan demikian, emisi dari sepeda motor sekitar 146,67 persen lebih tinggi daripada LRT Jabodebek, atau LRT Jabodebek mengurangi emisi sebanyak 59,46 persen. Jika setiap pengguna transportasi listrik KAI Group menempuh rata-rata 10 kilometer, kontribusi layanan tersebut dapat mengurangi emisi sekitar 15.350 ton CO₂e dibandingkan jika menggunakan kendaraan pribadi.

KAI Group terus berupaya memperluas akses ke transportasi ramah lingkungan. Dengan sistem yang terintegrasi dan jadwal yang padat, layanan ini tidak hanya mendorong pengurangan ketergantungan pada kendaraan pribadi tetapi juga membantu mengatasi masalah kemacetan dan polusi udara. Kebutuhan masyarakat akan transportasi yang lebih efisien dan ekonomis semakin terpenuhi melalui keberadaan LRT dan Commuter Line yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan harian dengan cara yang berkelanjutan.

Adapun Commuter Line Jabodetabek, layanan ini menjadi pilihan utama bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan permukiman menuju pusat kerja dan kegiatan ekonomi. Jumlah pelanggan yang terus bertambah menunjukkan bahwa keberadaan transportasi listrik memberikan dampak positif terhadap mobilitas warga. Selain itu, LRT Jabodebek dan Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta juga membantu menghubungkan jalur transportasi dengan lebih efektif, mempercepat akses ke berbagai destinasi penting.

KAI Group menggarisbawahi bahwa penggunaan layanan urban berbasis listrik tidak hanya efisien dalam pengoperasian tetapi juga ramah lingkungan. Ketersediaan sistem seperti LRT Sumsel dan Commuter Line Yogyakarta menunjukkan komitmen perusahaan untuk mendorong pemerintah dan masyarakat dalam mengejar kesadaran akan keberlanjutan. Dengan adanya data yang terkumpul, KAI Group berharap dapat menjadi acuan dalam mengembangkan infrastruktur transportasi yang lebih ramah lingkungan di Indonesia.

Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa keberadaan transportasi listrik berdampak besar pada penurunan emisi. Total penggunaan layanan KAI Group pada Januari hingga Mei 2026 membuktikan bahwa penggunaan transportasi umum berbasis listrik mampu mengurangi beban lingkungan secara signifikan. Setiap kilometer yang ditempuh melalui sistem ini menunjukkan penghematan emisi yang berarti, menambah nilai tambah dari inisiatif ini dalam menyokong tujuan pengurangan karbon global.

Leave a Comment