87

New Policy: 87 Persen Utang Bersumber Pada Surat Utang, Pemerintah Didesak Lakukan Evaluasi

rsen dari Surat Berharga Negara New Policy - Dalam upaya memperkuat kebijakan fiskal, pemerintah Indonesia kembali mengambil langkah strategis dengan

Desk 87
Published Juni 20, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

New Policy: Pemerintah Didesak Evaluasi Utang 87 Persen dari Surat Berharga Negara

New Policy – Dalam upaya memperkuat kebijakan fiskal, pemerintah Indonesia kembali mengambil langkah strategis dengan menerbitkan surat utang di berbagai pasar keuangan. Salah satu inisiatif utama adalah penerbitan panda bond senilai USD 1 miliar di Tiongkok, yang menunjukkan komitmen untuk mengakses dana global. Namun, dengan dominasi surat utang hingga 87 persen dari total utang negara, para ahli mengingatkan bahwa kebijakan ini memerlukan evaluasi lebih mendalam untuk menghindari risiko jangka panjang. New Policy ini menjadi fokus utama diskusi mengenai keseimbangan antara pendanaan dan stabilitas ekonomi.

Langkah Pemerintah dan Risiko Fiskal

Pemerintah Indonesia terus mengandalkan surat berharga negara (SBN) sebagai sumber utama pendanaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Namun, ekonom senior dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengingatkan bahwa keberlanjutan fiskal negara bisa terganggu jika ketergantungan pada SBN tidak dikelola secara bijak. Ia menekankan bahwa utang yang hampir seluruhnya berasal dari pasar keuangan menciptakan keberisikan terhadap kebijakan New Policy, khususnya dalam situasi ekonomi global yang tidak stabil.

Mengapa Ketergantungan pada Surat Utang Berisiko?

Ketergantungan pada pasar keuangan untuk 87 persen dari total utang membuat pemerintah lebih rentan terhadap fluktuasi kondisi ekonomi. Saat sentimen investor mengalami perubahan drastis, permintaan terhadap surat utang bisa menurun secara signifikan, memaksa pemerintah meningkatkan bunga untuk menarik pembeli. Hal ini tidak hanya meningkatkan biaya pembiayaan negara, tetapi juga bisa mengurangi daya beli masyarakat. New Policy yang menekankan penggunaan surat utang global perlu disertai dengan strategi diversifikasi dana untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber.

Menurut Wijayanto, risiko likuiditas menjadi lebih besar ketika sumber pendanaan utang terbatas pada pasar keuangan. Investor yang selektif mungkin menghentikan pembelian surat utang jika mereka khawatir mengenai kinerja ekonomi Indonesia. “New Policy yang bergantung pada utang pasar keuangan tanpa menggabungkan sumber dana lain bisa berujung pada tekanan fiskal yang berlebihan jika ada krisis di masa depan,” ujarnya. Dengan demikian, pemerintah perlu menilai ulang pola pembiayaan ini untuk memastikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan.

Opsi Alternatif untuk Menjaga Keseimbangan

Wijayanto menyarankan pemerintah untuk meningkatkan akses dana dari lembaga keuangan internasional seperti Asian Development Bank (ADB), Bank Dunia, dan Japan International Cooperation Agency (JICA). Surat utang dari lembaga-lembaga ini diperkirakan bisa memberikan tingkat bunga yang lebih rendah dan tenor pinjaman yang lebih panjang, sehingga mengurangi beban biaya pembiayaan. “New Policy yang menggabungkan sumber pendanaan dari berbagai lembaga internasional akan memperkuat ketahanan fiskal negara,” tambahnya.

Pembiayaan dari lembaga multilateral juga memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas dan kestabilan jangka panjang. Dengan mengandalkan pinjaman dari berbagai sumber, pemerintah bisa mengurangi risiko ketidakseimbangan jika permintaan surat utang di pasar keuangan mengalami penurunan. Selain itu, diversifikasi dana akan membantu meminimalkan dampak dari perubahan ekonomi global, menjadikan New Policy sebagai strategi yang lebih berkelanjutan.

Keseimbangan dalam Pembiayaan APBN

Wijayanto menekankan bahwa surat utang global masih bisa menjadi pilihan dalam New Policy jika permintaan terhadap SBN melemah. Namun, ia memperingatkan bahwa surat utang tidak dapat menggantikan kebijakan fiskal yang lebih berkelanjutan. “New Policy perlu menyertakan strategi pendanaan yang lebih seimbang, termasuk penggunaan sumber dana dari dalam dan luar negeri,” jelasnya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa pendanaan APBN tidak hanya mengandalkan imbal hasil tinggi dari pasar keuangan, tetapi juga mempertimbangkan kestabilan jangka panjang.

Dalam konteks New Policy, pemerintah harus memperluas perspektif pembiayaan. Selain menggali dana dari lembaga multilateral, ia juga menyarankan penggunaan dana dari sumber domestik seperti perbankan dan pasar modal dalam negeri. “Dengan kombinasi dana luar dan dalam, pemerintah bisa mengurangi risiko kekacauan fiskal dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu,” kata Wijayanto. Ia menilai bahwa penerapan New Policy ini adalah langkah awal yang baik, tetapi perlu diimbangi dengan evaluasi berkala terhadap penggunaan sumber pendanaan.

Langkah Positif dalam Pinjaman dari AIIB

Penerbitan pinjaman sebesar 17 miliar dolar AS dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) menjadi salah satu contoh nyata penerapan New Policy. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mengeksplorasi sumber dana baru yang bisa membantu pertumbuhan infrastruktur. Wijayanto menilai bahwa AIIB, sebagai lembaga multilateral, dapat menjadi solusi untuk mengurangi risiko ketidakpastian dalam pembiayaan jangka panjang.

Leave a Comment