Freeport Targetkan Kontribusi Rp 120 Triliun Tahunan
Latest Program – PT Freeport Indonesia telah menetapkan ambisi besar dalam meningkatkan sumbangsihnya terhadap perekonomian nasional. Perusahaan pertambangan multinasional ini memproyeksikan kontribusi finansialnya kepada negara akan melampaui angka 7 miliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan Rp 120 triliun setiap tahunnya. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi bahwa aktivitas penambangan telah kembali ke kondisi normal dan seluruh infrastruktur hilirisasi tembaga yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur, telah beroperasi secara maksimal. Sebagai Latest Program unggulan, inisiatif ini menjadi fokus utama perusahaan dalam memperkuat peran strategisnya di kancah industri pertambangan Indonesia.
Target Produksi Tambang yang Terus Meningkat
Visi peningkatan produksi telah dirancang secara bertahap hingga tahun 2028. Pada tahun 2026, Freeport Indonesia menargetkan output sebesar 800 juta pound tembaga bersamaan dengan 700 ribu ounce emas yang setara dengan 21 ton logam mulia tersebut. Proyeksi ini menunjukkan tren positif yang akan terus berlanjut ke tahun berikutnya. Melalui Latest Program yang telah digulirkan, perusahaan berkomitmen untuk mencapai target produksi yang lebih tinggi setiap tahunnya.
Memasuki tahun 2027, kapasitas produksi diprediksi melonjak signifikan menjadi 1,2 miliar pound tembaga dan 1 juta ounce emas atau sekitar 31 ton. Selanjutnya, pada tahun 2028, angka-angka ini diperkirakan akan mencapai level tertinggi dengan 1,6 miliar pound tembaga dan 1,4 juta ounce emas atau sekitar 43 ton emas murni. Pencapaian ini merupakan hasil dari implementasi Latest Program yang terintegrasi dengan teknologi modern dan manajemen operasional yang efisien.
Infrastruktur Hilirisasi di Kawasan Ekonomi Khusus Gresik
Tony Wenas, selaku Presiden Direktur Freeport Indonesia, menjelaskan bahwa pencapaian ambisius ini didukung oleh beroperasinya fasilitas smelter dan precious metal refinery (PMR) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik. Kehadiran kedua fasilitas ini memungkinkan seluruh rantai nilai tembaga untuk diproses secara domestik tanpa harus mengekspor bahan mentah. Smelter baru yang dibangun memiliki kemampuan pengolahan sebesar 1,7 juta ton konsentrat tembaga setiap tahunnya.
Ketika digabungkan dengan ekspansi kapasitas PT Smelting Gresik yang mencapai 300 ribu ton serta kapasitas PT Smelting yang sudah berjalan sebesar 1 juta ton, total kemampuan pemurnian Freeport di dalam negeri kini mencapai sekitar 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Selain itu, PMR dengan kapasitas 6.000 ton lumpur anoda per tahun mampu memurnikan berbagai logam berharga seperti emas, perak, dan logam kelompok platinum. Fasilitas canggih ini menghasilkan sekitar 600 ribu ton katoda tembaga setiap tahunnya.
Jika digabungkan dengan produksi dari PT Smelting, total output katoda tembaga mencapai sekitar 800 ribu ton per tahun. PMR juga mencatatkan produksi tahunan yang impresif untuk berbagai logam lainnya, yaitu sekitar 50 ton emas, 200 ton perak, 30 kilogram platinum, 375 kilogram paladium, 285 ton selenium, 220 ton bismut, dan 2.200 ton timbal. Seluruh produksi emas yang dihasilkan direncanakan akan di-offtake oleh PT Aneka Tambang Tbk atau yang lebih dikenal sebagai Antam.
Tantangan Operasional dan Prospek Pemulihan
Tony Wenas secara terbuka mengakui bahwa proses operasionalisasi smelter tidak berjalan mulus tanpa hambatan. Setelah terjadi insiden kebakaran di fasilitas gas cleaning plant pada Oktober 2024, tim teknis berhasil menyelesaikan perbaikan sehingga smelter dapat kembali beroperasi pada Mei 2025. Namun, siklus operasi kembali terganggu akibat longsoran di area Grasberg Block Cave yang menyebabkan pasokan konsentrat terhenti sementara waktu.
Perusahaan saat ini memanfaatkan periode penghentian operasi tersebut untuk melakukan inspeksi menyeluruh dan penyempurnaan berbagai fasilitas. Langkah ini diambil agar smelter siap kembali menerima pasokan konsentrat dari Papua mulai September tahun ini. Dalam hal produksi tambang, tahun 2026 diperkirakan masih berada di kisaran 65 persen kapasitas akibat proses pemulihan pasca-longsor.
Target selanjutnya adalah meningkatkan kapasitas tersebut menjadi sekitar 75 persen pada semester pertama 2027 sebelum akhirnya kembali mencapai 100 persen pada akhir tahun tersebut. Implementasi Latest Program ini diharapkan dapat meminimalkan dampak gangguan operasional dan memastikan konsistensi produksi. Dengan demikian, kontribusi Freeport Indonesia terhadap negara dapat terus meningkat sesuai dengan target Rp 120 triliun per tahun yang telah ditetapkan.