Chelsy Prilia Sitohang Siap Wakili Indonesia di Miss Deaf Internasional 2026
Chelsy Prilia Sitohang Siap Wakili Indonesia di Miss Deaf 2026
Kitabersedekah.com – Di balik counter sebuah kedai kopi kawasan Tatapuri, Jakarta Pusat, seorang perempuan muda menyapa pelanggan dengan senyum dan lambaian tangan. Ia bukan hanya barista yang meracik espresso atau latte art. Perempuan kelahiran 1998 itu tengah menapaki fase paling menentukan dalam hidupnya: Chelsy Prilia Sitohang Siap Wakili Indonesia di panggung Miss Deaf Internasional 2026, kompetisi advokasi dan kecantikan tingkat dunia yang akan berlangsung di Georgia, 18–28 September 2026.
Gelar Miss Deaf Indonesia 2026 diraih melalui seleksi ketat yang mempertemukan kandidat Tuli berbakat dari berbagai provinsi. Tes wawasan, wawancara, dan penilaian komprehensif menjadi gerbang yang harus dilalui sebelum ia resmi ditunjuk mewakili Tanah Air di kancah internasional.
Dari Lintasan Renang ke Panggung Pageant
Sebelum mengenal lampu sorot dan gaun malam, nama Chelsy sudah dikenal di arena renang disabilitas nasional. Sepanjang 2011–2021, ia mengoleksi sejumlah medali emas, termasuk pencapaian di Pelatnas 2011, Paralimpik Pelajar 2012, serta beberapa kali merebut emas dalam Pekan Paralimpiade Nasional (Papernas). Disiplin, ketahanan fisik, dan mental kompetitif yang ditempa bertahun-tahun di kolam renang kini menjadi fondasi persiapannya menuju panggung internasional.
Transisi dari olahraga ke dunia pageant tidak berarti meninggalkan identitas atlet. Justru ritme latihan, fokus, dan daya tahan yang terbentuk selama bertahun-tahun menjadi bekal utama dalam setiap sesi persiapan.
Rutinitas Persiapan yang Padat
Sela tugas sebagai barista dimanfaatkan untuk rangkaian latihan yang intensif. Prioritas utamanya adalah menguasai American Sign Language (ASL), bahasa isyarat yang dipakai di Amerika Serikat dan negara-negara berbahasa Inggris. Kebutuhan ini krusial karena ia akan menempuh perjalanan ke Georgia secara mandiri, tanpa pendamping.
Di sudut kedai tempatnya bekerja, satu set perlengkapan makeup lengkap dengan lampu penerangan kerap tersusun rapi di meja kecil. Waktu luang dimanfaatkan untuk berlatih rias panggung, memastikan penampilannya memenuhi standar internasional.
“Aku hari ini libur, jadi sambil dipakai buat latihan make up untuk persiapan saat di sana (Georgia).”
Latihan catwalk pun menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitasnya. Setiap langkah di atas lintasan model menuntut presisi, keseimbangan, dan ekspresi yang terlatih. Seluruh proses dijalani dengan keseriusan penuh.
“Aku mesti mempersiapkan semua. Aku berangkat ke Georgia sendiri.”
Bangga, Tanggung Jawab, dan Advokasi
Menyandang gelar membawa perasaan campur aduk. Proses seleksi yang berat dan banyaknya hal yang harus dikuasai dalam waktu singkat membuat momen terpilih terasa luar biasa.
“Aku merasa ‘wow’. Dipilih menjadi Miss Deaf Indonesia, mengingat proses tidak mudah, banyak yang aku harus kerjakan. Siapin mental, fisik, ilmu, komunikasi, masih banyak harus aku belajar, proses tidak mudah.”
Di balik kebanggaan pribadi, Chelsy memandang perannya bukan sekadar kompetisi kecantikan, melainkan langkah advokasi berjangkauan global. Ia berkeinginan kuat agar suara komunitas Tuli Indonesia terdengar di forum internasional.
“Aku akan membawakan suara komunitas Indonesia.”
Ia menegaskan bahwa kehadirannya di ajang tersebut merupakan bukti konkret bahwa Indonesia tidak kekurangan perempuan Tuli yang memiliki pengetahuan, wawasan, dan kepercayaan diri. Pesan utamanya tegas: teman-teman Tuli harus berani mengejar aspirasi mereka dengan keyakinan setara, karena kemampuan dan potensi mereka tidak kalah dari siapa pun.
“Itu harapan saya untuk teman disabilitas Tuli.”
Di luar panggung kompetisi, ia juga menyuarakan harapan agar peran pemerintah semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari komunitas Tuli. Dengan seluruh sumber daya yang dimiliki, negara dinilai mampu menciptakan ekosistem yang lebih inklusif dan mendukung penuh teman-teman Tuli di Indonesia.
FAQ
Kapan dan di mana Miss Deaf Internasional 2026 akan digelar?
Kompetisi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 18–28 September 2026 di Georgia. Chelsy akan menempuh perjalanan ke lokasi secara mandiri tanpa pendamping.
Apa latar belakang Chelsy sebelum menjadi Miss Deaf Indonesia?
Ia merupakan mantan atlet renang disabilitas tingkat nasional yang aktif berlomba antara 2011 dan 2021, dengan sejumlah medali emas di Pelatnas, Paralimpik Pelajar, dan Papernas. Saat ini ia bekerja sebagai barista di Jakarta Pusat.
Apa tujuan utama Chelsy mengikuti Miss Deaf Internasional?
Baginya, ajang tersebut bukan sekadar kompetisi kecantikan, melainkan platform advokasi untuk membawa suara komunitas Tuli Indonesia ke forum internasional serta menginspirasi penyandang disabilitas agar berani mengejar aspirasi mereka.