Larangan

Official Announcement: Larangan Suporter Away Berpeluang Dihapus, I.League dan Klub Super League Dibebani Tanggung Jawab

Larangan Suporter Away Berpeluang Dihapus, I.League dan Klub Super League Dibebani Tanggung Jawab Official Announcement - Dalam upaya meningkatkan kualitas

Desk Larangan
Published Juli 6, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Larangan Suporter Away Berpeluang Dihapus, I.League dan Klub Super League Dibebani Tanggung Jawab

Official Announcement – Dalam upaya meningkatkan kualitas pertandingan sepak bola nasional, PSSI telah meninjau kembali kebijakan terkait larangan suporter away atau pendukung tim yang menemani mereka saat bertanding di luar kandang. Kemungkinan penghapusan aturan ini menjadi sorotan setelah Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyatakan bahwa I.League, liga sepak bola profesional Indonesia, memberikan presentasi yang menunjukkan adanya fleksibilitas dalam menangani kehadiran suporter away. Hal ini membuka ruang untuk diskusi lebih lanjut mengenai perubahan kebijakan yang dianggap bisa mengurangi tekanan bagi klub dan penonton.

Penyesuaian Aturan Berdasarkan Presentasi I.League

Erick Thohir menjelaskan bahwa PSSI telah menerima presentasi dari operator liga I.League, yang menunjukkan usaha untuk melenturkan aturan suporter away. Menurutnya, I.League menawarkan kebijakan baru yang memungkinkan lebih banyak ruang bagi pendukung tim untuk hadir di stadion, asalkan klub bertanggung jawab penuh dalam menjaga keamanan selama pertandingan. “I.League mengusulkan adanya kelenturan dalam mengatur kehadiran suporter away, tetapi dengan catatan bahwa klub harus berupaya maksimal untuk mencegah kekerasan dan insiden yang tidak diinginkan,” ujarnya saat di SCTV Tower, Jakarta Pusat, Senin (6/7).

“Liga kemarin sudah presentasi ke kami ke PSSI, bahwa ada nanti kelenturan mengenai supporter away. Tetapi ada catatan. Tentu klub harus bertanggung jawab secara menyeluruh. Karena tidak mudah melobi FIFA,” kata Erick di SCTV Tower, Jakarta Pusat, Senin (6/7).

Keputusan untuk melarang suporter away diambil setelah Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022. Insiden mematikan tersebut menewaskan sekitar 135 korban jiwa dan mengubah pola pertandingan sepak bola Indonesia. Sejak saat itu, kebijakan ini dianggap sebagai langkah penting untuk mencegah kerumunan yang berpotensi menimbulkan risiko keselamatan. Namun, Erick Thohir menyebut bahwa kebijakan tersebut bukanlah jalan akhir, melainkan bisa diubah jika terbukti aman dan tidak menimbulkan masalah baru.

Peran FIFA dalam Menjaga Konsistensi Aturan

Menurut Erick Thohir, FIFA memberikan catatan yang cukup kompleks terkait larangan suporter away. Ini mencerminkan kehati-hatian organisasi internasional dalam menilai pengaruh kebijakan tersebut terhadap keamanan pertandingan. “FIFA memiliki standar yang ketat, dan keputusan untuk melarang suporter away harus diimbangi dengan pertimbangan matang, terutama setelah insiden besar yang terjadi beberapa bulan lalu,” tambahnya.

“Kita harus pastikan semua suporter bisa pulang ke rumah dengan selamat. Dan sangat sedih kalau kita lihat kasus kekerasan itu di Indonesia makin tinggi hari ini,” kata dia.

Kebijakan larangan suporter away kini menjadi bahan perdebatan antara PSSI dan klub-klub sepak bola. Erick Thohir menekankan bahwa perubahan aturan tidak bisa dilakukan secara impulsif, tetapi harus disertai dengan pengawasan ketat dari seluruh pihak terkait. Ia juga menyebut bahwa I.League serta klub Super League diharapkan memikul tanggung jawab besar untuk menyeimbangkan antara kepentingan penggemar dan keamanan pertandingan.

Analisis Kebijakan dan Tantangan Mendatang

PSSI saat ini sedang mempertimbangkan kembali kebijakan larangan suporter away, terutama setelah I.League menunjukkan usulan perubahan. Menurut Erick, kebijakan ini seharusnya tidak hanya menjadi penyesuaian, tetapi juga langkah strategis untuk mendorong keterlibatan lebih besar dari pendukung tim. “Kehadiran suporter di stadion bisa memperkaya atmosfer pertandingan, selama diatur dengan baik dan terus dipantau,” jelasnya.

Menurut Erick, klub-klub yang tergabung dalam I.League dan Super League harus bersedia mengambil risiko jika kebijakan ini diubah. Ia mengingatkan bahwa FIFA akan menilai keputusan tersebut secara kritis, terutama jika ada kejadian serupa yang menimbulkan kembali korban jiwa. “Jika ada pelanggaran soal suporter lagi, izin yang diberikan bisa dicabut kembali,” tambahnya.

Keputusan untuk menghapus larangan suporter away dinilai sebagai bagian dari upaya menuju sepak bola yang lebih inklusif. Namun, Erick Thohir juga memperingatkan bahwa perubahan ini harus disertai dengan langkah-langkah preventif seperti peningkatan keamanan di stadion, pelatihan bagi suporter, dan koordinasi dengan pihak kepolisian. “Kami ingin suporter tetap bisa menemani tim, tetapi dengan sistem yang lebih terstruktur dan tidak berpotensi menyebabkan kekacauan,” tuturnya.

PSSI berharap I.League dapat menjadi contoh terbaik dalam menerapkan kebijakan baru ini. Dengan memperkenalkan kebijakan yang lebih fleksibel, liga tersebut bisa memperkuat kemitraan dengan pendukung tim dan meningkatkan kualitas pertandingan. Erick Thohir juga menyoroti peran penting klub dalam menjaga konsistensi aturan. “Klub tidak hanya bertanggung jawab atas performa tim, tetapi juga atas tindakan mereka dalam memastikan keamanan selama pertandingan,” ujarnya.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa larangan suporter away sebelumnya memang efektif dalam mengurangi risiko kekerasan, tetapi bisa membatasi partisipasi pendukung tim. Dengan adanya kebijakan yang lebih longgar, diharapkan minat suporter terhadap pertandingan bisa terus dipertahankan. Namun, ada juga kekhawatiran bahwa kebijakan ini bisa mengakibatkan kekacauan jika tidak diatur dengan baik.

Menurut Erick, perubahan aturan ini tidak bisa dilakukan dalam semalam, tetapi memerlukan perencanaan matang dan evaluasi terus-menerus. “Kami akan mengambil waktu untuk melihat dampak dari kebijakan ini sebelum memutuskan apakah akan dihapus atau diperketat,” tambahnya. PSSI juga berencana mengadakan diskusi lebih lanjut dengan klub, FIFA, dan pihak terkait lainnya untuk menentukan kebijakan terbaik yang bisa diterapkan.

Dalam konteks ini, Erick Thohir menekankan bahwa keamanan tet

Leave a Comment