Aksi Unjuk Rasa BEM Universitas Indonesia di Kawasan Bundaran HI

18b0ddcb-e127-4764-a525-5a52fb5caf0e-0

Aksi Unjuk Rasa BEM Universitas Indonesia di Kawasan Bundaran HI

Kitabersedekah.com – Jakarta, Jum’at (12/6/2026) – Aksi demonstrasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) berlangsung ricuh di Bundaran HI, Jakarta, sekitar pukul 10 pagi. Ribuan mahasiswa mengumpulkan diri di lokasi strategis tersebut, memperlihatkan semangat keberatan terhadap kebijakan pemerintah dan tuntutan mereka yang bersifat mendesak. Meski situasi terlihat tegang, pihak kepolisian tetap berusaha mengendalikan alur massa dengan formasi barikade yang disusun di sepanjang Jalan MH Thamrin, Dukuh Atas, sebagai titik fokus aksi.

Tuntutan Mahasiswa yang Menyala

Dalam aksi ini, BEM UI menyampaikan lima tuntutan utama kepada pemerintah. Pertama, mereka meminta penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terus meningkat, dengan alasan bahwa kebijakan ini memberatkan masyarakat ekonomi rendah. Kedua, mahasiswa menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok, seperti beras, gula, dan minyak goreng, yang disebut-sebut sebagai hasil dari inflasi yang terus menggerogoti daya beli rakyat. Tuntutan ketiga mengarah pada penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tidak efektif dalam menyediakan akses makanan layak bagi masyarakat. Keempat, mereka mengkritik kebijakan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) yang dianggap tidak transparan. Terakhir, mahasiswa menuntut penurunan keterlibatan militer di ranah sipil, mengingat beberapa program pemerintah terkait pemberdayaan ekonomi justru dianggap lebih efisien bila dijalankan oleh sektor swasta.

Interaksi Dinamis antara Mahasiswa dan Polisi

Aksi tersebut terjadi di tengah hujan ringan yang membuat suasana lebih sejuk. Para peserta unjuk rasa bergerak dengan langkah berirama, memegang poster dan spanduk yang menampilkan berbagai isu. Interaksi antara mahasiswa dan petugas kepolisian terjadi secara aktif, baik melalui dialog maupun tindakan dorong yang melibatkan ribuan orang. Sebagian besar peserta unjuk rasa mengenakan pakaian yang terlihat seragam, sementara yang lain memakai atribut khusus sebagai simbol perjuangan mereka. Kehadiran pihak kepolisian dianggap sebagai bentuk dukungan untuk menjaga ketertiban, meski juga dihadapkan pada tugas mengelola emosi massa.

Menurut pengamatan di lokasi, aksi ini menarik perhatian banyak elemen masyarakat, termasuk aktivis kemanusiaan dan organisasi kemasyarakatan. Mereka mengungkapkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga bahan pokok, yang dinilai memperparah ketimpangan ekonomi di Indonesia. Seorang mahasiswa dari Fakultas Ekonomi mengatakan, “Harga BBM yang terus naik menghambat pengembangan usaha kecil menengah, yang justru menjadi pilar perekonomian kita. Kami ingin perubahan yang lebih signifikan.” Kalimat tersebut diucapkan di tengah kegembiraan peserta aksi, yang menunjukkan keberagaman suara di dalam gerakan.

Peran BEM UI sebagai Penyelenggara Aksi

BEM UI, sebagai koordinator utama, mengklaim bahwa aksi ini merupakan hasil konsolidasi internal yang melibatkan seluruh fakultas. Proses koordinasi berlangsung selama dua minggu, dengan pertemuan rutin dan diskusi mendalam untuk menyamakan pandangan. Mereka menegaskan bahwa tuntutan yang disampaikan tidak berafiliasi dengan partai politik tertentu, tetapi bersumber dari kebutuhan masyarakat luas. “Kami ingin suara mahasiswa didengar, bukan hanya sebagai representasi kepentingan politik,” ujar perwakilan BEM UI dalam wawancara singkat sebelum aksi dimulai.

Aksi ini juga menyoroti peran BEM UI sebagai wadah kebijakan mahasiswa dalam menghadapi berbagai isu nasional. Sebagai lembaga yang berada di tengah-tengah kegiatan akademik dan kegiatan sosial, BEM UI dikenal sebagai penengah antara pemerintah dan mahasiswa. Namun, dalam aksi kali ini, mereka berusaha lebih keras untuk menunjukkan kekuatan massa mahasiswa. Dengan memobilisasi sekitar 1.500 orang, BEM UI mencoba membangun perhatian publik terhadap kebijakan yang dinilai tidak pro-rakyat.

Adapun kehadiran elemen masyarakat di luar mahasiswa, seperti pengusaha kecil dan aktivis lingkungan, menambahkan dimensi baru dalam aksi. Mereka menilai isu-isu yang disampaikan BEM UI relevan dengan kondisi ekonomi saat ini. “Kami merasa aksi ini mencerminkan keinginan semua pihak untuk menyelamatkan kesejahteraan rakyat,” tambah seorang perwakilan elemen masyarakat dalam diskusi kelompok kecil di Bundaran HI.

Kritik terhadap Kebijakan Militer

Salah satu isu yang menjadi sorotan utama adalah keterlibatan militer di ranah sipil. Mahasiswa menilai bahwa kehadiran TNI/Polri dalam sektor perekonomian membuat ruang bagi sektor swasta semakin sempit. Mereka mengingatkan bahwa program MBG dan Kopdes Merah Putih, meski memiliki tujuan baik, justru membutuhkan pengawasan lebih ketat agar tidak terjadi penyalahgunaan dana. “Kami percaya bahwa transparansi dan akuntabilitas harus menjadi prioritas, terutama dalam penggunaan sumber daya negara,” jelas salah satu peserta aksi dalam pidato singkatnya.

Aksi ini juga menunjukkan kemampuan BEM UI dalam mengkoordinasikan kegiatan besar. Meski terjadi di tengah persaingan politik yang semakin ketat, BEM UI berusaha menempatkan isu-isu ekonomi dan sosial sebagai fokus utama. Dengan menampilkan kritik terhadap kebijakan militer, mereka menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa tidak hanya terbatas pada isu kampus, tetapi juga menjadi kekuatan yang mampu memengaruhi agenda nasional.

Ketua BEM UI mengungkapkan bahwa aksi ini dirancang untuk menekankan pentingnya dialog antara pihak pemerintah dan masyarakat. “Kami ingin menjawab aspirasi masyarakat melalui aksi yang berbobot,” kata tokoh BEM UI kepada merahputih.com.

Kehadiran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *