Denny

Visit Agenda: Denny JA Peringatkan Bahaya Kapitalisme Algoritma bagi Jutaan Pekerja Indonesia

da - Dalam artikel Visit Agenda, Denny JA menyoroti munculnya fenomena baru dalam struktur kelas sosial Indonesia, yang ia sebut Digitally Vulnerable Class

Desk Denny
Published Juni 15, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Visit Agenda: DVC di Era Kapitalisme Algoritma

Visit Agenda – Dalam artikel Visit Agenda, Denny JA menyoroti munculnya fenomena baru dalam struktur kelas sosial Indonesia, yang ia sebut Digitally Vulnerable Class (DVC) atau kelas pekerja digital yang rentan. Fenomena ini muncul akibat transisi ke sistem ekonomi berbasis algoritma yang mengubah cara kerja, penghasilan, dan kehidupan masyarakat. Denny JA mengungkapkan bahwa kelas ini sangat berpengaruh terhadap jutaan pekerja digital, seperti pengemudi ojek online, kurir daring, dan kreator konten, yang bergantung sepenuhnya pada platform teknologi. Pernyataan ini disampaikan dalam esainya yang terbit melalui akun Facebook Visit Agenda dan menyoroti risiko yang dihadapi pekerja dalam era kapitalisme algoritma.

Kapitalisme Algoritma: Perubahan Struktur Ekonomi

Visit Agenda memaparkan bahwa kapitalisme algoritma adalah fase baru dalam dinamika ekonomi global, yang berbeda dari era industri abad ke-19 atau pasar keuangan abad ke-20. Algoritma tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi menjadi pengatur utama dalam akses pekerjaan, penghasilan, dan peluang ekonomi. Denny JA menyatakan bahwa sistem ini memberikan fleksibilitas ekonomi, namun juga memperkuat ketidaksetaraan. Dengan pengaruh algoritma, keputusan tentang nasib pekerja digital bisa diambil secara otomatis, tanpa intervensi manusia. Hal ini membawa dampak besar terhadap kesejahteraan jutaan pekerja Indonesia.

Struktur Kerentanan dalam Kapitalisme Algoritma

Kelas DVC, menurut Visit Agenda, memiliki kelemahan yang tidak terlihat secara langsung. Pekerja digital terus-menerus berada dalam posisi yang rentan karena penghasilan dan visibilitas mereka bergantung pada keputusan algoritma. Denny JA mencontohkan bahwa satu notifikasi dari sistem bisa mengubah status pekerjaan, bahkan memutus mata pencaharian. Fenomena ini menunjukkan bahwa algoritma, bukan manusia, menjadi pengatur utama kehidupan pekerja. Pernyataan ini mengingatkan bahwa kapitalisme algoritma mengubah struktur sosial, dengan risiko besar terhadap kesejahteraan masyarakat.

Visit Agenda juga menjelaskan bahwa DVC berbeda dari konsep proletariat Karl Marx atau precariat Guy Standing. Jika proletariat terikat pada pengusaha, dan precariat pada ketidakstabilan pasar, maka DVC bergantung sepenuhnya pada platform digital. “Jika pasar menentukan nasib precariat, algoritma menentukan nasib DVC,” tulis Denny JA dalam artikelnya. Hal ini menegaskan bahwa kekuasaan dalam kapitalisme algoritma berpindah dari manusia ke sistem otomatis, yang bisa mengakibatkan ketidakadilan ekonomi lebih luas.

Karakteristik Utama DVC

Visit Agenda mengidentifikasi tiga ciri utama DVC. Pertama, **kerentanan algoritmik**, di mana pendapatan dan peluang kerja bisa berubah tiba-tiba karena keputusan sistem digital. Kedua, **identitas kolektif digital**, yang memungkinkan pekerja dari lokasi berbeda terhubung melalui aplikasi dan media sosial, menciptakan solidaritas baru. Ketiga, **kerawanan harapan**, di mana pekerja digital terus berharap perubahan algoritma atau unggahan viral bisa meningkatkan kualitas hidup mereka. Dengan adanya tiga karakteristik ini, DVC dianggap sebagai kelas sosial yang berbeda dari struktur sosial tradisional.

Dalam konteks Visit Agenda, DVC dianggap sebagai kandidat utama untuk menjadi kelas sosial baru di abad ke-21. “Abad ke-19 melahirkan proletariat, abad ke-20 precariat, sedangkan abad ke-21 mungkin akan dikenang sebagai abad yang melahirkan manusia yang hidup di bawah bayang-bayang algoritma,” ujar Denny JA. Pernyataan ini menegaskan bahwa transisi ke sistem kapitalisme algoritma tidak hanya mengubah pola kerja, tetapi juga menantang struktur sosial yang berlangsung selama berabad-abad.

Regulasi yang Dibutuhkan

Visit Agenda menyarankan bahwa pemerintah dan platform digital perlu menyiapkan kebijakan perlindungan sosial yang sesuai. Denny JA membandingkan situasi Indonesia dengan Uni Eropa, yang telah mengadopsi “Platform Work Directive” untuk melindungi hak pekerja digital. Ia berharap Indonesia juga mengejar regulasi serupa agar fleksibilitas ekonomi platform tidak mengorbankan kesejahteraan pekerja. “Pertarungan terbesar abad ke-21 bukan hanya antara buruh dan pemilik modal, tetapi antara manusia dengan sistem teknologi yang ia ciptakan sendiri,” jelasnya. Dengan kebijakan yang tepat, DVC bisa mendapatkan perlindungan yang layak.

Visit Agenda menekankan bahwa fenomena DVC tidak bisa diabaikan. Jumlah pekerja digital yang rentan di Indonesia mencapai sekitar 4 juta orang, dan diperkirakan akan berkembang menjadi puluhan juta di masa depan. Dengan begitu, keberadaan kelas ini menjadi tantangan besar bagi keadilan sosial. Pekerja digital harus diperlakukan secara adil, karena mereka terus-menerus tergantung pada algoritma. Jika tidak ada regulasi yang memadai, risiko algoritmik bisa mengakibatkan ketimpangan ekonomi yang lebih parah.

Kekhawatiran akan Masa Depan Pekerja

Dalam artikel Visit Agenda, Denny JA menyoroti bahwa kapitalisme algoritma memberikan peluang ekonomi tetapi juga berpotensi menghasilkan ketidaksetaraan yang lebih dalam. Ia mengingatkan bahwa pekerja digital berada dalam posisi sangat rentan, karena mereka tidak memiliki kendali penuh atas kehidupan mereka. Algoritma menjadi pengatur utama, sehingga perubahan kecil bisa menyebabkan dampak besar. Dengan adanya DVC, Denny JA menegaskan bahwa sistem ekonomi Indonesia perlu direformulasi agar bisa menjawab tantangan era digital. Ini adalah langkah penting untuk menjaga kesejahteraan jutaan pekerja di masa depan.

Leave a Comment